
Nana buru-buru mengganti bajunya, dia memilih asal baju yang ada di lemari. Gaun cantik berwarna biru muda dengan lengan pendek berenda.
"Baju ini terlalu manis untukku, apakah benar mami yang mempersiapkan ini untukku?
Aku bingung harus bersikap bagaimana disana nanti, tapi aku harus tetap waspada. Bagaimana bila mami hanya pura-pura baik padaku?" Nana menggerutu.
Tok tok
Pintu kamar hotel diketuk, pasti Panda pikir Nana. Ia segera membuka pintu.
"Apakah nona sudah siap?" Panda melihat ke arah Nana, Nana tidak menggunakan make up.
"Setidaknya gunakan lah lipstik agar wajah nona terlihat tidak pucat" Panda memberi saran.
Nana segera bercermin, benar saja wajahnya seperti orang sakit tapi Nana tidak menemukan apapun dikamar hotel.
"Baiklah nanti kita membeli lipstik dahulu sebelum kerumah nyonya Jean" Nana langsung keluar dan jalan mendahului Panda.
*** 123 ***
Mobil berhenti disebuah mall. Nana keluar dari mobil,
"Kau tak perlu ikut, aku bs mengurus diriku sendiri" Nana memperingatkan Panda.
Nana menyusuri mall, ia melihat salah satu toko make up.
"Mengapa aku tidak membawa sehelai bajupun dan make up. Bodoh sekali kau Nana" Nana menggerutui dirinya sendiri.
__ADS_1
Nana mencoba beberapa make up di toko itu. Setelah memilih beberapa make up, Nana teringat ia tidak membawa uang sepersen pun. Nana panik setengah mati, pelayan toko sudah menaruh barang belanjaan Nana dikasir dan tersenyum padanya, Nana tersenyum memaksa.
"Bagaimana ini, aku lupa kalau aku juga tidak membawa uang sepersen pun" Nana pura-pura memilih make up yang lain, bila pelayan itu lengah aku akan kabur pikirnya.
Pelayan itu, mulai lengah. Nana mengendap-endap keluar dari toko dan ia menabrak seseorang.
"Apa yang nona lakukan? Kenapa lama sekali?" Panda menyusul Nana. Ingin sekali Nana menutup mulut Panda karna membuatnya gagal untuk kabur.
Kedatangan Panda menjadi perhatian para pelayan, rambut Panda yang lurus, kulitnya putih dan berpakaian sangat rapih.
"Silahkan masuk tuan, apakah tuan sedang mencari sesuatu untuk pacar tuan?" salah satu pelayan menghampiri Panda, dilihat dari tingkah lakunya pelayan itu agak gugup sambil memandangi wajah Panda.
"Nona apakah sudah selesai belanjanya?" Panda memandang ke arah Nana.
Nana bertambah kesal, lalu ia berbisik
"Bisakah kau pinjami aku uang? Aku lupa membawa dompetku, dompetku ada dirumah ibuku" Nana bersuara sangat kecil takut pelayan itu mendengar. Panda tersenyum iseng, Nana merapatkan tangannya diatas kepala sambil memohon.
Nana melihat Panda dengan kesal.
"Apakah dia tidak bisa mengatakan boleh atau tentu saja terlebih dahulu sebelum bertindak?"
Nana mendengus lagi saat Panda mempersilakannya berjalan terlebih dahulu meninggalkan toko.
*** 123 ***
"Kau itu ya, bisakah kau bicara sebel melakukan sesuatu untukku? Agar aku bisa mengetahui apakah itu boleh atau tidak, apakah itu iya atau tidak" Nana mengomel didalam mobil. Panda hanya tersenyum.
__ADS_1
"Tapi.... terima kasih sudah meminjamkan uang padaku, aku pasti menggantinya"
"Tidak perlu nona, uang yang saya gunakan adalah uang tuan muda. Nona adalah istrinya, jadi nona berhak menggunakannya"
"Tidak tidaaaak, aku tidak mau merepotkannya begitu" Nana menolak keras.
*** 123 ***
"Menantu mami sudah datang" Mami menyambut kedatangan Nana. Nana tersenyum malu dengan penyambutan mami, ia tetap waspada.
Rumah mami sangat besar, ada air mancur di halaman depan yang membuat rumah ini terlihat megah. Catnya yang berwarna putih dengan padu padan warna gold untuk tiang-tiangnya menambah kesan mewah rumah ini, pikir Nana.
"Tadi dari mall ya? Nana kenapa tidak bilang kalau tidak membawa dompet, Panda bisa memberikan ATM pribadi buat Nana" ucap Mami, Nana melirik sinis ke arah Panda.
"Dasar tukang mengaduuuuu... "kira-kita begitu isi kepala Nana.
"Bila tidak ada yang bisa saya lakukan saya alan kembali ke kantor" Panda pamit.
"Katakan pada Lilo untuk segera pulang, aku sudah siapkan kamar pengantin untuknya dan Nana" nyonya Jean menitip pesan pada Panda, Panda mengangguk tanda paham lalu pergi meninggalkan Mami dan Nana.
"Apakah kau sudah makan siang?" Nana menggeleng.
"Kau bisa masak?" mata Mami berbinar-binar. Nana terkejut,
"Apakah mami benar-benar ingin aku memasak" pikir Nana dalam hati.
"Mami akan senang makan masakan menantu mami, ayok kita ke dapur dan memilih bahan makanan apa yang ingin kau masak " Mami menggandeng tangan Nana sambil membayangkan masakan enak yang dibuat menantunya.
__ADS_1
Nana bingung, dia tidak dapat memasak karna selama ini Nana terlalu sibuk bekerja dan ibunya lah yang selalu masak untuknya. Jangankan memasak, masuk dapur saja Nana malas karna Nana sangat takut tangannya terkena minyak atau air panas.
"Matilah akuuuuuuu" Nana tersenyum pedih.