Tuan Muda Yang Tampan

Tuan Muda Yang Tampan
Cinta #2


__ADS_3

Bella menghubungi Panda, ia ingin mengajak Panda pergi bersamanya besok karna besok adalah akhir pekan. Namun Panda tidak mengangkat ponselnya, Panda sedang perjalanan pulang ke apatemennya. Ia sangat tidak suka menyetir sambil menelpon.


"Apa dia masih marah padaku?" Bella menaruh ponselnya lalu pergi untuk mandi.


Ponsel Bella berdering, Panda membalas telponnya. Namun Bella tidak mendengarnya.


Ada apa? (Panda)


Pesan dibalas agak lama, karna Bella masih bersenandung didalam kamar mandi. Setelah selesai mandi Bella mengecek ponselnya, ada pesan dari Panda. Ia meloncat kegirangan, ia pun membalas pesan dari Panda


Maaf mengganggumu, apa kau sibuk besok? (Bella)


Aku ada pertemuan di kota Y dengan klien, namun aku luang besok sore. Kenapa? (Panda)


Kita bertemu yuk di caffe bintang, aku bosan bila menonton drama sendiri (Bella)


Aku tak bisa janji tuan muda bisa kapan saja membutuhkanku (Panda)


Baiklah, tapi aku menunggumu 😉(Bella)


Panda menghela napasnya, merebahkan tubuhnya di sofa ia tersenyum. Entah apa dan siapa yang dipikirkannya.


❤❤❤


"Apa kau paham dengan apa yang kau katakan?" Nana bertanya pelan-pelan. Lilo mengangguk.


"Kau menyadarinya sendiri atau ada orang lain yang memberitahumu?" Nana memicingkan matanya sinis. Lilo tak berani menatap mata Nana ia mencoba menimbang-nimbang jawabannya, sekali salah menjawab habislah dia.

__ADS_1


"A.... aku menyadarinya saat kau tak ada" Lilo akhirnya menjawab dengan asal.


"Apa kau membaca artikel dari hasil pencarian di internet lagi?" Lilo berpikir kembali, ia benar-benar kehabisan akal.


"Apa hal itu begitu penting untukmu?"


"Ya tentu saja aku tak mau kau hanya menerka-nerka dan tak yakin akan perasaanmu"


"Aku begitu merindukanmu saat kau pergi"


"Apa? Bahkan kau sudah fasih menggunakan kata rindu"


"Apa salahnya dengan kata itu? Aku juga sadar kalau aku cemburu saat kau bersama Miko"


"Waaaah, aku pergi selama tiga hari dan suamiku sudah sangat bisa mengatakan hal-hal yang tak pernah aku duga. Baikklaaaaah... Katakan padaku siapa yang mengajarimu?!"


"Ti... tidak ada" Lilo sekali lagi tak berani menatap mata Nana.


"Apa matamu selalu seindah itu?" Nana menepuk kepalanya, ia berpikir sejenak. Tiba-tiba ia mendekati suaminya dan memegang kening Lilo.


"Tidak panas, kau tidak sakit kan? Apa kau terbentur kemarin?"


"Ayo laah Nana, begitu susahkah kau percaya padaku?" Mata Nana terbelalak, ini pertama kalinya Lilo menyebut namanya.


"Cepat katakan padaku siapa yang mengajari mu? Apakah Panda?" Lilo menggeleng.


"Ya itu tidak mungkin karna ia sama tidak pekanya denganmu, lalu siapaa?!! Apa itu Lana?" Nana bertanya heran. Lagi-lagi Lilo memalingkan pandangannya dari Nana.

__ADS_1


"Benarkah Lana yang menyadarkanmu?" Nana berjalan dan duduk ditempat tidurnya. Ia tak percaya Lana yang melakukannya.


"Bukankah Lana tidak menyukaiku?" Nana menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa kau menangis?" Lilo mendekati Nana.


"Aku hanya tidak menyangka Lana mau menyadarkan mu, bahwa kau mencintaiku" Air mata terus menetes dari mata Nana. Lilo duduk disebelah Nana, memeluk istrinya. Nana tidak menolaknya.


Lilo menatap Nana, Nana membalas tatapan Lilo. Lilo menarik dagu Nana mendekatkan bibir Nana kepadanya.


"Sudah cukup dramanya, ayo kita makan ibu sudah selesai masak"


❤❤❤


Ponsel Panda berdering malam itu, ia baru saja selesai mandi. Rambut Panda basah ditutupi oleh handuk.


"Ya nona"


"Bila kau tak sibuk besok aku ingin ke caffe yang kemarin" suara Lana terdengar sangat cepat.


"Maaf nona besok pagi saya harus pergi ke kota Y untuk bertemu dengan klien"


"Kapan kau akan pulang?"


"Sepertinya sore saya sudah kembali"


"Oke jemput di rumah besok sore dan temani aku ke caffe itu, kau tak boleh menolaknya" Lana langsung menutup telponnya.

__ADS_1


Panda memandang ke arah ponselnya, ia terlihat berpikir.


"Apakah ini sebuah kebetulan? Bagaimana bisa dua gadis itu mempunyai pikiran yang sama?"


__ADS_2