Tuan Muda Yang Tampan

Tuan Muda Yang Tampan
Wangi Tubuh


__ADS_3

Lilo dan Nana sudah berada dikamar Nana, keduanya sulit bergerak karna tempat tidur Nana sangat sempit. Keduanya canggung.


"Apa kau merasa ini tidak nyaman?" Nana bertanya.


"Ya, ini sempit dan aku tidak dapat bergerak"


"Aku akan memiringkan tubuhku" Nana memiringkan tubuhnya membelakangi Lilo. Lilo ikut memiringkan tubuhnya dan memeluk Nana dari belakang, mencium tengkuk Nana yang wangi vanilla.


"Itu geli" Nana menggeliat. Lilo tertawa kecil melihat istrinya. Ia menciumnya lagi, Nana menggeliat lagi.


"Hentikan" Nana membalikkan tubuhnya. Lilo dengan cepat menautkan bibirnya ke bibir Nana. Keduanya menikmati tautan itu.


Lilo merasa dadanya berdebar tak biasa, ia menaikan tubuhnya keatas tubuh Nana. Mulai mencium leher Nana.


Tulalit tulalit


Ponsel Lilo berbunyi, Nana tersadar. Menepuk lengan Lilo pelan, tapi Lilo tak mau menghentikan aksinya. Nana menepuk lengan Lilo lagi.


"Sepertinya penting" Nana menghentikan Lilo. Lilo kesal dan mengambil ponselnya.


Mami menelpon, mata Lilo membulat.


"Hallo mi"


"Lilo, apa benar kau mau menjodohkan Lana dengan beruang itu? Mami sudah pernah bilang jangan mencampuri masa depan adikmu!" Suara mami terdengar marah.


"Bukan begitu mi... "


"Mami memang sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga kita, tapi kau berlebihan bila sampai menjodohkan Lana dengannya!"


"mi, mami.. "


"Kau tidak boleh bertindak sesukamu pada Lana, ia berhak menentukan masa depannya!"


"iya miii, tapiii...."


"Segera batalkan rencana pernikahan itu, mami tidak setuju!!"


"Mami dengarkan Lilo!" Lilo menaikan nada suaranya, maminya terdiam.


"Maafkan aku mami, aku tidak bermaksud membentakmu tapi aku punya alasan melakukan hal itu"


Lilo menceritakan kejadian sebenarnya, mulai dari Lana yang tak langsung pulang ke rumah setelah sampai, putusnya Lana dengan kekasihnya dan tujuan sebenarnya ia ingin menikahkan Lana dengan Panda.

__ADS_1


"Benarkah? Lana berbohong pada mami! Akan mami marahi dia"


"Sudah mi, jangan marah lagi. Sekarang Lana sudah tidak apa-apa"


"Baguslah kalau begitu, tapi mami mau kau memberikan waktu untuk Lana menerima semua ini. Jangan terlalu memaksanya"


"Aku paham mi"


"Bagaimana keadaan istrimu? apakah dia sudah hamil?


Bagaimana aku bisa menghamili istriku kalau kau menelpon saat aku sedang mengusahakannya?


Lilo hanya menghela napas pelan. Ia melihat ke arah Nana, istrinya sudah tertidur pulas. Sekali lagi Lilo menghela napasnya.


❤❤❤


Lana sudah sampai dirumah, ia terburu-buru masuk ke dalam rumah. Ia terjatuh dan terkilir. Panda langsung membantu Lana berdiri.


"Aduh sakiiiit"


"Apa nona bisa berdiri?" Lana menggeleng sambil menahan sakit.


"Saya akan membawa nona ke rumah sakit"


"Tidak, panggilkan saja dokter ke sini. Aku lelah, aku ingin istirahat dikamar" Lana masih saja ketus.


"Nona Lana tak apa-apa?"


"Aku tak apa-apa, bantu aku ke kamar bik" Bik Yana segera membantu Lana bangun dan berusaha memapahnya.


"Aduh sakit biiiikkkkk, pelan-pelan!" Bik Yana jadi salah tingkah dan kehilangan keseimbangan, hampir saja Lana jatuh lagi. Panda segera menangkapnya.


"Maafkan saya nona" Panda menggendong tubuh Lana, Lana terkejut.


"Heei apa yang kau lakukan? Turunkan aku!!"


"Nona jangan banyak bergerak nanti kaki nona tambah sakit" Kata Bik Yana, Lana menurut dan membiarkan Panda menggendongnya.


Tubuh Panda wangi, Lana menempelkan hidungnya ke dada Panda.


Eeeeh apa yang aku lakukan?


Lana menyadari tingkahnya, wajahnya memanas. Panda menurunkan Lana ditempat tidurnya dibantu Bik Yana.

__ADS_1


"Saya akan menelpon dokter Dimas" Panda keluar dari kamar Lana, Lana melihat kearah Panda sampai Panda menghilang dibalik pintu.


"Nona Lana, apakah anda ingin sesuatu?"


"Aku ingin air putih hangat bik, oia potongkan juga beberapa buah apel buat aku" sifat Lana tidak berubah masih saja suka memerintah.


Panda masuk kembali.


"Dokter Dimas perjalanan menuju ke sini, saya pamit nona"


"Ya, pergilah" kata Lana tak menoleh kepada Panda karna asik dengan ponselnya.


"Heii beruang, ngomong-ngomong terima kasih. Jangan lupa tutup pintu" Lana berbicara menoleh sedikit ke arah Panda dan kembali melihat ponselnya. Panda membungkukkan tubuhnya.


"Hhhh, kenapa aku jadi takut melihat matanya? Tidak tidaaak kenapa dadaku berdetak sangat kencang sekarang" Lana mengeluh dalam hati, membenamkan kepalanya dibawah bantal.


❤❤❤


Miko sedang tersenyum sambil melihat sebuah foto. Foto masa kecilnya dengan Nana, foto itu diambil sebelum Miko pindah ke kota lain. Usia mereka masih 12 tahun.


🏠 Flashback 🏠


"Kapan kau akan kembali, aku akan kesepian bila kau pindah nanti" Nana mengusap air matanya.


"Jangan menangis Nana, aku hanya pindah ke kota lain. Aku akan menelponmu, kau tak akan kesepian" Miko menghibur Nana.


"Aku tak punya teman lain selain kau, hiks" Nana masih menangis.


"Ini aku berikan kepadamu" sebuah mainan robot, Miko berikan pada Nana. Mainan itu adalah kesayangannya.


"Kenapa kau memberikan mainan kesayanganmu kepadaku?"


"Ini sebagai penggantiku, dia akan menemanimu selama aku tidak disini. Jangan menangis lagi ya"


"Terima kasih Miko, kau sahabat terbaikku" Nana menghapus air matanya dan tersenyum.


"Aku akan tumbuh besar nanti dan menjagamu, kau tak perlu takut"


"Tidak aku tidak takut, aku juga akan belajar yang rajin agar bisa pintar seperti kau" Miko mengacak pelan rambut Nana. Nana memeluk Miko, Miko malu lalu melepaskan pelukan Nana. Wangi Nana sangat harum, wangi vanilla.


"Miko, Nana ayo saling mendekat. Ibu akan memotret kalian untuk kenang-kenangan"


🏠 Back On 🏠

__ADS_1


Miko menghela napasnya.


"Aku akan tetap dengan janjiku, aku akan selalu menjagamu Nana"


__ADS_2