Tuan Muda Yang Tampan

Tuan Muda Yang Tampan
Kejujuran


__ADS_3

Ibu Nana memikirkan kata-kata Miko, pikirannya menerawang jauh.


*Flash back*


"Ibu, kenapa buru-buru menikahi Nana dengan pria itu. Ibu kan punya aku yang dengan suka rela akan menikahi Nana" Miko berkata pada Ibu sambil tersenyum.


"Gadis bodoh itu setiap hari membuat ibu pusing, setiap hari hanya bekerja dan bekerja. Bahkan ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.


Kau jangan menikah dengan gadis seperti Nana, kau lebih cocok menikah dengan gadis yang anggun dan cantik"


"Tapi aku ingin Nana yang menjadi istriku, ibu menyakiti perasaanku" Nada bicara Miko bercanda, tapi membuat ibu terkejut.


"Hahaha aku hanya bercanda ibu, jangan terlalu serius. Aku senang Nana menikah dan bahagia" Miko memaksakan tawanya, ibu bisa melihat kesedihan di wajah Miko. Apa yang Miko katakan bukanlah candaan namun kejujuran atas perasaannya , Ibu baru menyadari hal itu.


"Kalau aku tahu kau menyukai Nana, pasti aku akan memintamu melamar Nana dari dulu" Ibu menangis dalam hati.


"Yuk kita makan, aku mencium bau nasi goreng. Semoga bukan Nana yang memasak" Miko tertawa, Ibu tersenyum memandang wajah Miko yang masih menyembunyikan perasaannya.


"Miko, apapun yang terjadi ibu tetap menyayangimu" Ibu mengelus rambut Miko pelan, Miko tersenyum memegang wajah ibu dengan kedua tangannya lalu mencium kening ibu.


"Ayok kita makan sebelum Nana menghabiskannya"


*Back On*


"Semoga kau bahagia selalu Miko, ibu menyesal mengetahui hal ini terlambat. Namun ibu yakin tuan muda tampan itu akan mencintai Nana dan menjaganya dengan baik" Ibu meneteskan air matanya.

__ADS_1


*** 123 ***


"Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang hal itu padaku?" Nana gugup mendengar Lilo menanyakan menstruasinya.


"Jangan dekat-dekat denganku bila kau masih berdarah, aku bisa gila menahan milikku saat aku menciummu" Lilo terlihat agak gugup, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matanya mengarah ke sisi lain. Lilo tidak mau menatap Nana.


Nana bingung, dia berpikir sejenak lalu wajahnya memerah.


"Apakah kau berpikir tentang kewajibanmu sebagai suami?" Nana setengah berbisik sambil berusaha menatap mata Lilo.


"Ya seperti itu lah" Lilo menjawab dengan ragu, lalu ia berjalan cepat ke arah kamar mandi dan masuk. Nana masih terhenyak.


"Jadi, dia takut didekatku karna selama aku berdarah karena dia tidak bisa menyentuhku dan menjalankan kewajibannya sebagai suami?" Nana tersipu malu. Tiba-tiba ia sadar, memukul pipi dengan kedua tangannya.


Tak lama Lilo keluar dari kamar mandi, ia memakai kaosnya dan berjalan keluar kamar.


"Apa kau akan tidur di ruang kerjamu lagi?"


Lilo hanya mengangguk, tetap berjalan ke arah pintu keluar.


"Walaupun aku mengatakan bahwa aku sudah tidak berdarah?" Nana melanjutkan kata-katanya. Lilo membalikan badannya, Nana mengangguk tanda apa yang dikatanya adalah benar.


Lilo tetap berjalan menuju pintu keluar, memegang gagang pintu dan menguncinya. Tanpa aba-aba lagi Lilo mendekati dan mencium bibir Nana dengan menggebu, Nana tidak menolak. Ia langsung membaringkan tubuh Nana di tempat tidur. Dan kini Lilo tidak perlu menahan miliknya lagi di kamar mandi ataupun ruang kerjanya.


*** 123 ***

__ADS_1


Lilo sudah bangun dan bersiap ke kantor, Nana masih terlihat terlelap. Nana kelelahan setelah semalam bertautan dengan Lilo sampai pukul 3 pagi. Lilo melihat ke arah istrinya dan tersenyum, lalu keluar dari kamar menuju ruang makan.


"Dimana Nana?" Nyonya Jean bertanya heran, karna biasanya Nana bangun pagi untuk membuat sarapan.


"Masih tidur" Lilo menjawab sambil mencium kening maminya dan duduk untuk sarapan.


"Apa kau tadi malam mengerjainya?" Nyonya Jean melirik dengan iseng kepada Lilo. Lilo berusaha tenang, ia tak menjawab pertanyaan maminya dan menikmati roti tawar dengan selai strawberry.


"Selamat pagi tuan muda dan nyonya besar" Panda memberi salam sambil membungkuk.


"Nyonya besar jangan lupa siang ini jadwal check up nyonya di RS X untuk mengecek kesehatan nyonya dan perkembangan penyakit nyonya" Panda mengingatkan.


"Oia kau benar, hampir saja aku lupa. Lilo, apakah Nana bisa cuti hari ini untuk menemani mami ke rumah sakit? Mami ingin memamerkan Nana kepada dokter centil itu" Nyonya Jean memohon kepada Lilo.


"Mami tanya saja kepada Nana soal itu, aku tidak ingin mengganggu pekerjaannya" Lilo menyelesaikan sarapannya dan beranjak dari duduknya.


"Bila Nana tak bisa, mami jangan memaksanya. Karna akupun tak pernah memaksa Nana melakukan hal yang dia tidak ingin lakukan" Lilo menjelaskan.


"iya iya mami tidak akan memaksanya, tapi mami akan memohon padanya" nyonya Jean cuek saja sambil terus menghabiskan sarapannya.


Lilo hanya geleng-geleng kepala, ia beranjak dari ruang makan menuju mobilnya.


Sementara itu,


"Gawaaaat aku terlambat banguuun" Nana kelabakan melihat jam menunjukan pukul 8 pagi. Nana baru sadar ia masih dalam keadaan polos, ia menarik selimutnya ikut masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2