Tuan Muda Yang Tampan

Tuan Muda Yang Tampan
Mulai Lagi


__ADS_3

Suasana diruang Tamu menjadi sedikit tidak nyaman. Miko dan Lilo menatap ke arah Nana menunggu jawaban atas pertanyaan Lilo.


"Lihat ini, ada melon. Sepertinya sangat segar" Ibu memecah suasana tegang diantara Miko dan Lilo.


"Apa ibu mau aku ambilkan lagi?" Nana bermaksud melarikan diri.


"Ya bawalah semua sisa melon yang ada di dapur, ayo Miko, Lilo kita makan bersama-sama"


Keduanya menunduk malu, mulai merasa apa yang mereka lakukan adalah hal yang kekanak-kanakan.


Nana kembali membawa buah melon yang sudah dipotong dan piring kecil.


"Buah melon dataaaang" Nana tersenyum lebar, ia tidak sengaja terjatuh dan semua melon berhamparan di lantai. Piring kecil yang dibawa pun pecah.


Miko dengan sigap membantu Nana bangun, ia memapah Nana untuk duduk didekat ibunya. Ibu Nana terlihat menepuk kepalanya melihat kelakuan Nana.


"Bagaimana dua orang pria tampan ini memperebutkan gadis bodoh seperti dia?" Ibu mendumal dalam hati.


Lilo tak mau kalah, ia ikut membantu Miko. Keduanya berjalan kedapur membawa serpihan piring dan buah melon yang terjatuh.


"Aku berharap kau cukup profesional dengan kerja sama perusahaan kita" Miko membuka obrolan saat berada didapur, suaranya pelan.


"Ya tentu saja aku sangat profesional, walaupun kolegaku terlihat ingin merebut istriku"


"Aku tidak akan merebutnya bila kau bersikap baik kepada Nana"


"Aku suami yang bertanggung jawab"


"Kau begitu kaya, tetapi istrimu harus banting tulang setiap hari bekerja dikantor" kata-kata Miko cukup membuat Lilo berpikir.


"Aku tidak bisa memintanya untuk berhenti" Lilo memelas.


"Hahaha aku tahu kau tak akan berani, karna Nana akan mengeluarkan taringnya bila kau mencobanya" Mereka tertawa.


"Apa yang kalian bicarakan?" Nana membuat Lilo dan Miko terkejut.


❤❤❤

__ADS_1


Makam ayah Nana berjarak sekitar 10 kilometer dari rumah ibu Nana, mereka menaiki mobil Lilo untuk sampai kesana. Miko ikut untuk mendampingi Ibu.


"Ayah aku datang" Suara Nana terdengar lirih, ia menahan tangisnya, Nana duduk di samping pusara ayahnya bersama Ibu. Lilo dan Miko berdiri dibelakangnya.


"Sekarang putri manjamu sudah menikah, ia menikah dengan anak laki-laki yang kau tolong waktu itu. Aku datang bersamanya dan juga Miko, aku yakin kau tak akan pernah lupa dengan anak laki-laki yang selalu menculik putrimu waktu mereka masih kecil" Ibu tersenyum sambil menangis.


"Ayah, aku dan ibu sangat merindukanmu. Aku selalu berdoa kau disayang Tuhan disana" Nana mulai meneteskan air matanya.


Ibu merasa sangat sedih, ia ingin kembali ke mobil. Miko mengantarkan ibu ke mobil Lilo.


Lilo mendekati Nana, ia duduk disebelah Nana.


"Paman baik hati, aku datang. Aku sudah menjadi suami dari putrimu. Aku akan menggantikanmu menjaganya, jadi mulai sekarang kau bisa tenang disana"


Lilo memegang bahu Nana,


"Aku ingin berdua dengan ayah sebentar" Lilo mengangguk, ia meninggalkan Nana sendiri.


Setiap tahun Nana dan Ibu selalu datang untuk mengunjungi pusara ayahnya, Nana juga selalu meminta waktu untuk berdua dengan ayahnya. Ia akan menceritakan hal-hal yang menyakitkan dan menyenangkan kepada ayahnya.


Lilo berdiri menatap Nana dari kejauhan, Miko kembali dan berdiri disebelah Lilo.


"Dia istriku, serahkan tanggung jawab itu kepadaku. Aku juga berjanji pada Paman akan selalu menjaganya"


"Aku sudah membuat janji itu jauh sebelum kau hadir dalam kehidupannya"


"Aku tidak akan melepaskan Nana"


"Aku siap menangkap Nana saat kau melepaskannya"


"Apa kalian akan memulainya lagi?" Nana sudah ada di depan Lilo dan Miko, wajahnya terlihat kesal.


❤❤❤


Panda sudah kembali dari kota F. Ia singgah di caffe favoritnya dan seperti biasa ia memesan coffee late kesukaannya.


"Tuan Panda?" Panda menoleh, ada Bella dengan wajah sumringah menegurnya. Panda tersenyum.

__ADS_1


"Selamat siang nona Bella" Bella menundukkan kepalanya.


"Aku boleh duduk disebelahmu? Tempat ini agak ramai" Panda mengangguk.


"Hari ini terasa dingin, aku ingin menikmati secangkir kopi. Tak kusangka bertemu lagi denganmu tuan Panda"


"Nona bisa memanggil saya Panda"


"Kalau begitu kau juga harus memanggilku Bella, aku bukan majikanmu" Panda berpikir, Bella bersikap biasa seperti pertama kali mereka bertemu di caffe ini. Tetapi mengapa dipertemuan terakhir ia seperti orang yang berbeda.


"Apakah Bella yang ini berbeda dengan Bella yang bersamaku di MDc?" Bella menatap Panda heran.


"Tentu saja sama, aku adalah gadis yang mengatakan suka padamu waktu itu" Bella mengurangi volume suaranya, wajahnya memerah.


"Syukurlah, karna aku mulai berpikir kau memiliki saudara kembar yang sangat mirip" Bella tertawa, Panda agak terkesima dengan wajah Bella yang sedang tertawa.


"Kau bisa melucu juga, aku tidak memiliki kembaran dan sikapku kemarin.... " Bella menunduk, ia sedikit berbisik.


"Aku masih terkejut mendengar kau akan menikah" Panda tersenyum.


"Pernikahan itu masih ditolak oleh nona Lana, aku hanya mengikuti perintah tuan muda" Bella mengatakan "yess" dalam hatinya, ia merasa masih memiliki kesempatan.


"Apa kau tidak sakit hati nona itu menolak menikah denganmu?"


"Tentu saja tidak, nona Lana berhak menolaknya karna beliau adalah adik tuan muda. Tapi aku adalah orang yang mengabdi kepada tuan muda, apapun yang ia ucapkan menjadi perintah buatku"


Dia orang yang sangat setia.


Gumam Bella dalam hati.


"Apa kau tidak ingin menemukan cintamu sendiri dan menikah dengan orang yang kau cintai?"


"Aku hanya ingin menikah dengan gadis yang baik, dan saya yakin tuan muda tidak akan main-main dengan masa depan saya"


"Oowh begitu"


Panda melihat ke arah jam tangannya, sudah cukup sore ia harus pulang dan beristirahat. Perjalanan dari kota F cukup melelahkan.

__ADS_1


"Terima kasih Bella sudah menemani ku, aku pamit" Panda menundukkan kepalanya, Bella juga demikian.


"Panda... Boleh aku menghubungimu kapan-kapan?" Panda mengacungkan jempolnya tanda setuju. Bella tersenyum senang.


__ADS_2