Tuan Muda Yang Tampan

Tuan Muda Yang Tampan
Amel Melahirkan


__ADS_3

Jeremy berlari dikoridor rumah sakit, keringatnya mengucur dengan deras. Hari ini istrinya, Amel akan melahirkan. Lebih cepat dua Minggu dari hari perkiraan kelahiran anak pertama mereka.


"Dimana istriku?" Ia bertanya pada Miko yang menunggu di depan kamar bersalin.


"Apa kau suami Amel" Jeremy mengangguk.


"Masuklah, dia masih menunggu pembukaannya sempurna" Miko berkata dengan lemah karena ia lelah dari tadi dianggap sebagai suami yang tidak mau menemani istrinya bersalin.


Jeremy mengangguk, ia masuk ke dalam menemui istrinya.


"Sayang apa benar kau akan melahirkan sekarang?" Kata Jeremy sambil menggenggam erat jemari istrinya. Amel hanya mengangguk sambil menahan sakit, ia menggenggam erat tangan suaminya.


"Aku yakin kau bisa sayang, bertahanlah. Anak kita akan segera lahir sebentar lagi, aku disini untuk menemanimu" Amel hanya diam saja, ia masih menahan mulasnya.


"Apakah kau ingin aku melakukan sesuatu agar kau merasa baikan?"


"Ya, diamlah dan usap punggungku!!" Amel berkata dengan ketus.


♥️♥️♥️


Miko menelpon Nana, setelah telpon yang ketiga barulah Nana mengangkatnya.


"Ya ada apa Miko?"


"Apa kau masih dikantor?"


"Ya ini masih jam kerjaku, kenapa?"


"Sekarang aku sedang berada di rumah sakit, a..." Belum selesai Miko menyelesaikan kata-katanya Nana langsung memotong.


"Apa kau sakit? Kenapa baru bilang padaku sekarang? Kau mau aku kesana menemanimu? Tunggu tunggu, aku harus menelpon suamiku" Nana menutup teleponnya.


Miko menelpon lagi.


"Sabar lah, aku akan meminta ijin dulu pada suamiku!" Nana menjawab telpon Miko dengan cepat.

__ADS_1


"Nana aku tidak sakit! Dengarkan aku! Sekarang aku dirumah sakit Saliom, Amel sahabatmu akan melahirkan"


"Apa kau bercanda? Usia kandungannya baru akan memasuki 8 bulan!"


"Tidak Nana, datanglah ke sini setelah kau pulang bekerja"


"Tidak! Aku harus memastikannya sekarang" Nana menutup telponnya, ia segera menuju keruangan managernya, tentu saja ada Rachel yang selalu menguntitnya.


Nana mengetok pintu ruangan managernya.


"Permisi pak" Nana masuk, Rachel ikut masuk.


"Ada apa Nana?" Bapak manager memberi tanda untuk Nana duduk, sesekali ia melirik takut kepada Rachel.


"Maafkan saya pak, apakah saya boleh ijin keluar saat ini? Sahabat saya akan melahirkan"


"Kau baru masuk hari ini..." Pak manager melihat ke arah Rachel lagi, ia bergidik. Nana merasakan ketakutan managernya, ia menahan senyumnya.


"Ya ya kau boleh pergi, tapi kembalilah setelah sebelum jam pulang"


Ia keluar dari ruangan managernya dengan senyum puas.


"Ternyata dia memberikan keuntungan untukku" Nana tertawa geli.


♥️♥️♥️


Nana segera berangkat ke rumah sakit, diperjalanan Nana menelpon Kinan lalu menelpon suaminya.


"Iya sayang, apa kau menelpon untuk mengajakku makan siang bersama?"


"Ooh bukan sayang, aku hanya ingin beritahu mu, saat ini aku perjalanan ke rumah sakit"


" Apa perutmu sakit lagi? Aku akan menelpon Berta untuk menyiapkan segala pemeriksaan yang terbaik untukmu"


"Bukan bukan sayang, aku ingin menemani Amel"

__ADS_1


"Amel? Siapa dia? Apakah dia seorang pria?"


"Sayaaang, Amel itu adalah nama seorang wanit dan dia sahabatku yang akan melahirkan"


"Kalau begitu baiklah, minta hati-hatilah dan jaga dirimu"


"Ya tentu saja, ada Miko disana. Jadi kau tak perlu khawatir"


"Sebutkan nama rumah sakit tempat temanmu melahirkan, aku akaan segera menyusul"


♥️♥️♥️


Amel sedang berjuang di kamar bersalin, anaknya masih betah berada didalam. Dokter mengatakan baru pembukaan 7 dan perut Amel sudah sangat mulas.


"Sampai kapan aku mulas seperti ini tanpa ada penanganan? Aku sudah mulai kesal!" Amel menahan sakitnya sambil berjalan mondar mandir diruangan itu.


"Tenanglah sayang, aku bersamamu" Jeremy yang tadinya sangat panik, sekarang sedang duduk di sofa yang ada ruangan itu sambil memainkan ponselnya.


"Bisa kah kau serius sedikit? Aku sedang berjuang menahan mulas ku dan kau hanya duduk sambil bermain game diponselmu?" Amel menatap geram kepada suaminya. Memang suami Amel maniak dengan game.


"Kau lepaskan ponselmu atau aku akan membantingnya sekarang!" Amel mulai mengancam.


"Dokter belum kemari untuk memeriksa mu lagi sayang, kau jangan terlalu tegang" Jeremy menjawab santai.


"Apa kau bilang? Santai? Haruskah aku merasa sedang berada di pantai sambil makan petai? Kau benar-benar membuatku kesal!" Amel bermaksud merebut ponsel Jeremy, ia berjalan agak cepat.


”Ah ah tidaaak, anakku sepertinya akan segera keluar" Amel berteriak, ia berdiri sambil mengangkang.


"Tenang sayang, tenang.. Aku akan memanggil dokter"


Jeremy kembali panik, ia keluar dari ruangan itu. Masih ada Miko yang sedang memainkan ponselnya di depan ruangan itu.


"Tolong panggilkan dokter, kepala anakku sudah kelihatan!!!"


Maaf ya baru bisa update segini 😁😁Saat ini author sedang dikejar dateline tugas yang lain.

__ADS_1


__ADS_2