
Nana heran melihat mobil Lilo sudah terparkir didepan kantornya. Bella melambaikan tangan ke arah Panda yang menunggu Nana diluar mobil, Panda hanya membalas dengan senyuman.
"Selamat sore nona" Panda membukakan pintu mobil untuk Nana. Nana masuk ke dalam mobil.
"Apa kau datang untuk menjemputku?"
"Ya tentu saja" Lilo menengok ke sana kemari. Nana memukul pelan lengan Lilo.
"Apa yang kau cari?"
"Aku hanya memastikan tidak ada yang menjemputmu selain aku" Nana menepuk kepalanya pelan sambil menggeleng.
"Panda cepat kita pulang, aku bertambah lelah melihat tingkah tuan mudamu" kata Nana sambil cemberut.
"Kau lelah? Apakah kau ingin berhenti bekerja?" Nana melirik sinis ke arah Lilo.
"Aku lelah bukan karna bekerja" Nana menjawab dengan kesal.
"Tak apa kau berhenti bekerja, aku bisa membiayai segala kebutuhanmu. Apapun yang kau mau aku bisa memberikannya" Nana melotot ke arah Lilo.
"Kau ini kenapa? Sikapmu benar-benar membuatku kesal" Nana memukul paha Lilo agak kecang.
"Mendekatlah aku sangat ingin bertemu denganmu sejak sampai dikantor" Lilo menarik tangan Nana yang daritadi enggan berdekatan dengannya.
Dia merindukanku? Apa aku salah mendengar?
Nana bergumam dalam hati. Seperti kemarin ia ingin memastikannya.
"Apa kau memikirkanku hari ini?" Nana membelakangi Lilo dan menyandarkan kepalanya didada suaminya.
"Ya, aku memikirkanmu. Aku ingin menelponmu tapi aku tahu itu akan mengganggu pekerjaanmu"
"Apakah kau menelpon tadi siang karna ingin berbicara padaku?"
"Bisa dikatakan begitu, tapi juga ingin memastikan sesuatu" Nana membalik badannya.
"Memastikan apa?"
"Bahwa kau tidak makan siang bersama Miko"
"Miko? Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?"
"Karna Miko menolak makan siang denganku setelah meeting dan ia mengatakan sudah janji dengan seseorang"
"Lalu kau menuduhku yang memiliki janji makan siang dengannya?" Nana kembali kesal.
__ADS_1
"Ya tentu saja, siapa lagi? Itulah alasannya aku menelponmu untuk memastikan" Nana kembali menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Lilo.
Aku bahkan tidak punya kecurigaan sebesar itu padamu suami tampanku, padahal aku sudah yakin dengan perasaan cintaku padamu.
Mereka sampai dirumah, Nana langsung keluar meninggalkan Lilo. Ia kesal namun juga senang, tapi Nana ingin menyembunyikan rasa senangnya.
❤❤❤
Lana sudah baikkan, ia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah sore itu. Ia melihat Panda yang sedang berjalan menuju keluar hendak akan pulang. Lana membalik badannya ingin masuk lagi ke kamar, namun Panda terlanjur melihat Lana yang akan turum ke bawah.
"Apakah nona ingin turun?" Panda segera menghampiri Lana.
"Apa kau lihat aku akan menari disini!" Lana menyembunyikan rasa malunya dengan bersikap judes.
"Mari saya bantu nona" Panda mengulurkan tangannya. Lana sangat ingin menyambut tangan Panda.
"Tidak, tanganmu kotor. Panggilakan Bik Yana atau pelayan lainnya untuk membantuku" Panda mengangguk. Ia segera turun dan memanggil Bik Yana.
Kenapa kau tidak memaksaku menerima bantuanmu sih
Lana kesal.
Dengan tergopoh-gopoh Bik Yana menghampiri Lana dengan Vivi dan Windy. Panda membungkukkan badannya lalu pergi pamit. Lana ingin mencegah Panda pergi tapi ia sangat gengsi untuk melakukannya.
"Aduuuh duuuhhh" Lana mengeraskan rintihannya, Panda menoleh.
"Nona muda, kami sulit memegangi nona bersamaan seperti ini. Bagaimana bila tuan Panda yang menggendong nona seperti kemarin?" Bik Yana menawarkan, Lana menahan senyumnya.
"Aku tidak mau meminta tolong pada orang yang tidak berniat membantuku lagi" sekali lagi Lana mengeraskan suaranya.
"Biarkan saya membantu nona lagi" Panda menghampiri Lana, membungkukkan badannya lalu menggendong Lana. Lana tersenyum senang, ia bisa mencium wangi aroma Panda lagi.
Panda menurunkan Lana disofa ruang keluarga, Bik Yana beserta Vivi dan Windy masih berjaga-jaga didekat Lana.
"Baik nona saya pamit"
"Tungguu, aku ingin makan burger dan ice cream. Belikan untukku, baru kau boleh pulang" Lana menyodorkan dua lembar uang 100ribu.
"Baik nona, saya pergi dulu" Panda tidak mengambil uang yang Lana berikan, Panda memegang hampir semua keuangan dirumah dan perusahaan.
"Sombong sekali dia" Lana mendengus kesal.
"Bik ambilkan aku bantal untuk menopang kakiku, dan kau vivi buatkan aku segelas teh hangat. Pijat kepalaku Windy"
❤❤❤
__ADS_1
"Berikan ponselmu"
"Buat apa?"
"Berikan saja, cepaat"
"Tidak sampai kau memberitahukan tujuanmu"
Lilo menghela napasnya, sekali lagi tangannya mengadah ke arah Nana meminta ponselnya. Nana mendekap ponselnya erat.
"Sebenarnya apa maumu?"
"Aku ingin melihat isi ponselmu"
"Tidak ada yang aneh dengan isi ponselku!"
"Aku harus memastikannya"
Nana makin mendekap erat ponselnya. Lilo bangun dari duduknya, ia ingin merebut paksa ponsel Nana. Nana berlarian dikamar menghindari Lilo. Lilo tetap mengejar Nana, Nana tertangkap Lilo menggendong Nana paksa dan merebahkan istrinya di tempat tidur.
"Cepat berikan ponselmu"
"Tidak, kau menakutiku. Sikapmu benar-benar menyebalkan akhir-akhir ini" Nana cemberut, ia tak mau melihat ke arah Lilo.
"Kau akan menyesal menolak permintaanku"
"Aku tidak mempunyai alasan untuk menyesal" Nana memandang ke arah suaminya sinis.
"Ya kau akan menyesal"
"Tidaaaak" Lilo mengelitiki istrinya, Nana tak tahan dengan kelitikan Lilo. Ia menggeliat untuk melepaskan diri. Akhirnya Lilo mendapatkan ponsel Nana.
"Kembalikan padaku" Nana berusaha mengambil ponselnya lagi. Lilo mengangkat ponsel Nana tinggi-tinggi, badan Nana yang mungil tak dapat mengambilnya.
Lilo mulai mengutak-ngatik ponsel Nana.
"Heii kenapa tak ada fotoku disini"
"Apa kau pernah memberikannya?" Nana menjawab malas.
"Kau bisa mengambilnya secara candid" Nana melirik Lilo dengan kesal.
"Aku tak ingin melakukannya"
"Apa ini? waaaaah kau sangat tidak adil"
__ADS_1
"Apa ada yang salah?"
"Kenapa kau save nama Miko dengan tulisan Miko sahabatku dan men-save nomorku dengan tulisan tuan tampanku? Aku juga sahabatmu!"