Tuan Muda Yang Tampan

Tuan Muda Yang Tampan
Antisipasi


__ADS_3

Lana tak mau kalah dengan ibu, ia mendekati Panda.


"Ibu, aku melihat Kak Nana mencarimu tadi" ujar Lana berbohong.


"Benarkah? Ada apa dia mencari ku" ibu menggerutu sambil mencari Nana yang sebenarnya sedang ke kamar mandi saat itu.


Panda diam saja ibu pergi ke arah lain. Lana bingung ingin memulai pembicaraan dengan Panda.


"Apa kau sudah minum?" tanya Lana.


Apa yang aku katakan? Dia sedang memegang gelas berisi air.


Lana meruntuki dirinya sendiri.


"Apakah nona haus?" Panda malah balik bertanya.


"Aah tidak" Lana memaksakan senyumannya di balik rasa malunya.


"Bagaimana kabar gadis berambut panjang itu?" tanya Lana.


Apakah saat ini aku benar-benar sedang menggali kuburan ku didepannya??


Lagi-lagi Lana meruntuki kebodohannya.


"Keadaannya baik nona" jawab Panda singkat.


"Apa nona baik-baik saja?" Panda bertanya karna aneh dengan tingkah Lana.


"Ya aku baik-baik saja, mengapa kau bertanya begitu?" Lana kembali bersikap judes pada Panda, ia lupa tujuannya.


Nana menghampiri mereka, ia menyenggol lengan Lana dan menggeleng mengingatkan Lana untuk tidak bersikap judes pada Panda. Lana mulai salah tingkah, ia menyenggol Panda. Minuman yang dipegang Panda tumpah membasahi kemejanya.


"Maafkan saya nona" ucap Panda. Lana diam saja ia tahu itu salahnya namun ia tak mau merendahkan harga dirinya.


"Lain kali berhati-hatilah saat memegang gelas!"


♥️♥️♥️


Acara sudah selesai, Lilo dan Nana masuk kedalam kamar. Ada beberapa hadiah yang sudah dipindahkan oleh Panda ke dalam kamar mereka.


"Ini bukalah, hadiah dari Lana" ucap Nana.


"Tidak, aku ingin membuka hadiah darimu" ujar Lilo sambil menunjuk hadiah dari Nana, sebuah paper bag berwarna hitam.

__ADS_1


"Sisakan itu untuk terakhir yang kau buka" Nana melarangnya.


"Kenapa?"


"Aku malu, aku memberikan hadiah yang sangat biasa untukmu" Ujar Nana sambil menunduk, Lilo memegang dagu istrinya mengecup bibir istrinya lembut.


"Apa kau memilihnya dengan sepenuh hatimu?" tanya Lilo.


"Ya tentu saja, dengan semua rasa cintaku padamu" ucap Nana sambil memegang pipi Lilo dengan kedua tangannya.


"Baiklah, kita buka dulu hadiah dari yang lain"


Lilo dan Nana terlihat senang membuka hadiah dari Lana dan Panda, juga ada beberapa hadiah dari kolega Lilo.


"Dua jam tangan mewah dari Lana dan Panda, apa mereka memang berjodoh?" Nana melihat kedua jam itu dan melihat ke arah Lilo.


"Ya, seharusnya begitu"Lilo tersenyum melihat istrinya mengamati jam tangan pemberian Lana dan Panda.


"Baiklah, aku ingin membuka hadiah darimu ini" Lilo memegang hadiah dari Nana.


"Tunggu, kau harus berjanji untuk menerima apapun hadiah dariku" ucap Nana sambil menaruh hadiah miliknya dibelakang punggung.


"Sebenarnya kau tak perlu repot-repot membelikan sesuatu untukku sayang, kau adalah hadiah terindah yang aku miliki dari Tuhan saat ini" wajah Nana memerah, ia menyerahkan paper bag itu kepada Lilo.


"Harganya tidak semahal milikmu yang ku pakai waktu itu, tapi aku pikir kau tidak pernah memakainya lagi. Mungkin kau tak suka baju yang sudah dipakai orang lain, makanya aku belikan kau lima" Nana menunjukan kelima jarinya didepan wajah Lilo.


Lilo tertawa terbahak-bahak mendengar alasan Nana. Lilo bangun dari duduknya, ia berjalan menuju lemari bajunya.


"Ini maksudmu?" Lilo memperlihatkan baju yang pernah Nana pakai.


"Bukankah kau pernah bilang akan membuangnya dan tak sudi memakainya lagi" Nana heran.


Lilo mencium baju itu.


"Cium ini, harum tubuhmu sangat melekat disini" ucap Lilo, Nana menghampiri suaminya. Ia mencoba mencium baju itu, benar masih tersimpan wangi tubuhnya memang saat itu Nana baru selesai mandi dan memakaikan parfum kesukaannya.


"Kau begitu manis suamiku" Nana memeluk suaminya, perutnya yang sudah membesar memberikan jarak.


"Hati-hati si kecil akan tertekan bila kau memelukku terlalu erat" ucap Lilo lalu mengelus perut Nana.


"Apa kau tidak mempunyai hadiah lain yang bisa membuatku lebih senang malam ini?" Lilo tersenyum usil, Nana memalingkan wajahnya.


"Ya bisa saja, namun baju tidur yang diberikan ibu dan mami sudah tidak ada yang muat denganku"

__ADS_1


"Kau tidak perlu mengenakan apapun untuk menyenangkan ku"


♥️♥️♥️


"Sayang, bangunlah ini sudah pagi" Nana membangunkan suaminya yang masih terlelap.


"Hari ini akhir pekan sayang" Lilo menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya.


"Kita sudah berjanji akan bertemu dengan dokter Berta pagi ini. Kita akan mengetahui jenis kelamin si kecil" ucap Nana.


"Benarkah?" Lilo segera membuka selimutnya. Nana mengangguk.


"Cepat bangun sayang, mandi dan temui aku dibawah. Aku sudah membuat sarapan untukmu"


"Bisakah kita sarapan dikamar pagi ini?"


"Tidak sayang, aku tidak ingin membiasakan kau makan dikamar" Nana beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar.


Lilo mengucek matanya, ia lalu berjalan ke kamar mandi.


"Kau sudah bangun sayang" sapa mami.


"Iya mi, aku dan Nana akan pergi menemui Berta pagi ini. Kita akan segera mengetahui jenis kelamin si kecil" ujar Lilo bersemangat.


"Apa aku akan menyetir sendiri?"


"Iya mi, Panda sudah bekerja keras minggu ini bahkan ia bolak balik ke kota F untuk membantu Miko membereskan masalah disana"


"Kau bisa meminta pak Tito untuk membawa mobilmu jika kau mau"


"Tidak perlu mi, aku akan membawanya sendiri" ujar Lilo yakin.


"Ya sudah jika itu maumu, ayo kita sarapan"


Lilo sarapan bersama Nana dan mami. Setelah itu mereka berangkat ke rumah sakit untuk menemui dokter Berta.


"Apa kau ingin memiliki anak perempuan sebagai anak pertama kita?"tanya Nana.


"Aku tidak berpatokan jenis kelamin untuk si kecil sayang, asal dia sehat dan sempurna saat lahir nanti aku sudah senang" jawab Lilo sambil tersenyum.


"Ya aku juga berpikiran hal yang sama"


"Lalu mengapa kau bertanya begitu?"

__ADS_1


"Aku hanya mengantisipasi bila nanti kau berdebat dengan dokter Berta hanya karna jenis kelamin si kecil tidak sesuai dengan keinginanmu"


__ADS_2