
"Kenapa mereka lama sekali" gerutu Nana sambil sesekali melihat ke jam tangannya.
"Sabar sayang, kau duduklah dulu nanti kau lelah"
Nana ikut duduk disebelah Lilo. Mereka menunggu Miko dan Bunga di lobby hotel.
"Maaf ya kalian jadi menunggu lama" kata Bunga saat datang sambil saling rangkul dengan Miko, wajah mereka terlihat senang.
"Yasudah tidak apa-apa, yuk kita langsung berangkat" ujar Nana yang langsung disambut Bunga dengan menggandeng tangannya.
Mereka pergi ke pusat kota dengan mobil yang merupakan fasilitas hotel untuk pengunjung VVVIP. Setelah sampai di pusat kota, Nana dan Bunga sangat senang karna suasananya ramai dan banyak sekali makanan yang dapat mereka coba.
"Waah aku mau makan gurita bakar itu" teriak Nana.
"Sepertinya kue berbentuk ikan itu juga enak Kak" Bunga juga sudah mengincar apa yang ia ingin makan.
"Yuk kita pesan. Sayang, kau dan Miko cari tempat duduk ya. Aku sama Bunga mau pesan makanan. Kau mau makan apa?" tanya Nana kepada Lilo.
"Kau duduk saja sayang, biar aku yang memesankan makanan untukmu. Kau tidak boleh lelah atau mami akan terbang ke sini dan memukulku dengan tongkat kayu" Lilo mengingatkan Nana, Nana cemberut tapi dia mengikuti kata-kata suaminya.
Akhirnya Lilo dan Miko yang pergi untuk memesan makanan. Sedangkan Nana dan Bunga sibuk dengan melihat tempat-tempat wisata yang ada disana dari ponsel Nana.
"Bagaimana rasanya hamil Kak?" tanya Bunga.
"Rasanya sangat menyenangkan, si kecil ini tidak rewel dan aku tidak pernah merasa mual karenanya" ujar Nana sambil mengelus perutnya.
"Waah enaknya, aku selalu melihat ditelevisi kalau wanita hamil menjadi lemah dan mual terus menerus membuatku menjadi agak ngeri Kak"
"Tidak semua kok, Bunga. Lihat aku, tidak merasa lemas atau mual. Malah terkadang aku lupa bila sedang hamil, namun semua orang di dekatku selalu mengingatkanku. Apalagi Rachel sangat protektif padaku selama dikantor" Nana terkekeh.
"Hihihi aku berharap akan seperti Kak Nana saat hamil nanti" Bunga memegang pipinya sambil menerawang jauh membayangkan ia sedang mengandung anak Miko. Nana melirik usil sambil menyenggol bahu Bunga.
"Apakah dia hebat?" wajah Bunga memerah lalu mengangguk pelan dan menutup wajahnya. Nana kembali terkekeh.
__ADS_1
♥️♥️♥️
Bella membeli seekor kucing kecil dengan warna putih dan hitam dibulunya, ia ingin mengusir kegalauannya.
"Tumben sekali kau mau memelihara seekor binatang" kata Billy kakak Bella.
Bella memang tinggal dirumah bersama Kakaknya Billy dan Tita, istri kakaknya.
"Ya sesekali aku ingin punya teman dirumah yang bisa diajak bermain" Bella menjawab asal.
"Aah biasanya juga kau menonton drama dikamar atau pergi ke caffe"
"Aku bosan Kak, mau suasana baru" ucap Bella sambil tersenyum meledek.
"Cari pacar sana, biar kau tak kesepian akhir pekan begini" Kakaknya meledek, Bella melirik kesal.
"Jangan menggangguku"
"Siapa nama kucing itu?" tanya kakaknya lagi.
"Kenapa tidak sekalian kau namakan kucing itu Tapir atau Teringgiling hahaha, kau ini" ucap kakaknya sambil geleng-geleng kepala lalu mengacak rambut Bella, Bella menepak tangan Kakaknya.
"Iih jangan menggangguku" Bella cemberut sambil membenarkan rambutnya.
"Bella, ini ada surat untukmu" Tita memberikan sebuah surat untuk Bella.
"Surat apa Kak?" tanya Bella sambil menerima surat yang diberikan Tita.
"Aku lihat itu surat dari sebuah universitas di luar negeri" Bella langsung membuka surat itu dengan cepat, ia membacanya dan wajahnya berbinar.
"Kak, aku dapat beasiswa magister di Universitas So Hard" kata Bunga dengan penuh semangat, ia memeluk Kakaknya Billy.
"Waaah selamat ya dek" Billy membalas pelukan adiknya, Tita tersenyum melihat kedekatan suami dan adik iparnya.
__ADS_1
"Aku akan menelpon mama dan papa, mereka pasti senang kau diterima kuliah dinegara papa di tugaskan" ujar Billy, Bella mengangguk lalu ia memeluk Tita.
Billy menelpon orang tuanya. Billy dan Bella memang sudah mandiri sejak keduanya SMA, mereka menolak ikut kedua orang tuanya pindah ke negara lain karena ingin menyelesaikan pendidikan sampai sarjana dinegara sendiri.
"Mama dan papa senang kau akan ke sana dek" Bella mengangguk senang, ia membayangkan bisa tinggal bersama kedua orang tuanya lagi.
"Lalu bagaimana dengan si Panda?" kata Billy sambil menoleh ke arah kucing kecil yang baru saja di beli Bella.
Bella terdiam, yang ia pikirkan Panda yang lain.
♥️♥️♥️
"Aku kenyaang" Nana mengelus perutnya sambil menyenderkan punggungnya dikursi.
"Apakah kau sudah puas mencoba semua makanan disini sayang?" Lilo menggenggam tangan Nana.
"Kalian sangat serasi dan mesra" Bunga memandang iri, Miko merangkul Bunga.
"Jangan iri dengan mereka Bunga, kau punya suami yang baik seperti ku"
"Ya benar, kau harus mensyukuri suamimu itu dan mengikat lehernya dengan kencang" ledek Lilo, Nana memukul lengan Lilo pelan sambil tersenyum.
"Apa kau ingin memulai perdebatan?" Miko menjawab santai.
"Tidaak, tidak ada perdebatan malam ini, aku lelah dan ingin tidur" ucap Nana sambil berdiri dari duduknya.
"Apa kau ingin aku menggendongmu?" Miko bangun dari duduknya, ia tak sadar mengatakannya
"Kau urus saja istrimu" Lilo memegang bahu Miko dan menyuruhnya duduk kembali, Bunga hanya tertawa kecil melihatnya.
Miko menoleh ke arah Bunga, Bunga terlihat tidak cemburu malah tersenyum dengan cantiknya.
"Aku beruntung menikah denganmu" bisik Miko, membuat wajah Bunga menjadi merah.
__ADS_1
"Kau tak perlu bicara begitu, karna ada hukuman menantimu setelah kita kembali ke hotel" jawab Bunga sambil berbisik juga.