Tuan Muda Yang Tampan

Tuan Muda Yang Tampan
Rencana Lana


__ADS_3

Pagi itu Lilo menemui dokter Berta diruangannya untuk mendapatkan penjelasan mengenai perkembangan bayinya.


"Baiklah, aku ingin kau memberikan yang terbaik untuk anakku" ucap Lilo.


"Bila memang ada peralatan yang kau butuhkan untuk merawat bayiku, katakan saja aku akan segera meminta Panda untuk mengurusnya"


"Aku tidak meragukan kau tuan muda" ledek dokter Berta sambil tersenyum.


"Aku serius Berta, aku ingin rumah sakit peninggalan papiku ini bisa berguna untuk banyak orang dengan fasilitas yang lengkap"


"Siap tuan tampan, tapi saat ini fasilitas dirumah sakit ini sudah cukup memadai untuk bayi prematur seperti putramu. Oia apakah kau sudah memberikan nama untuknya?"


"Ya, namanya sama sepertiku Fabilo Wijaya. Hanya saja aku menambahkan Junior dibelakangnya" ucap Lilo bangga.


"Hahaha kau sangat percaya diri dengan nama itu"


"Ya tentu saja, namaku adalah nama peninggalan papiku dan aku ingin anakku memilikinya juga"


"Cukup masuk akal menurutku" ucap dokter Berta setuju.


"Namun kau harus bersabar karna anakmu harus berada diinkubator sampai kondisinya stabil" Lilo mengangguk.


"Kapan istriku bisa pulang?"


"Aku menunggu pemeriksaan dari dokter Poppy yang menangani tubuh istrimu pasca terjatuh. Setelah keluar hasilnya nona muda bisa segera pulang"


"Bagaimana bila kondisi anakku belum stabil saat istriku sudah bisa pulang?" tanya Lilo khawatir.


"Istrimu bisa pulang dan bayimu tetap disini, apa masalahnya?"


"Istriku pasti akan menangis dan ingin pulang bersama bayinya"


"Kau bisa membeli inkubator agar bayimu bisa pulang kapan saja dan bawalah salah satu perawat untuk merawat bayimu"


"Baiklah, aku akan meminta Panda membelinya"


♥️♥️♥️


Siang itu Lana datang lagi menjenguk Nana, namun dia datang sendiri dengan supir mami pak Tito.


"Mana Kak Lilo?" tanya Lana yang heran Nana hanya berdua dengan ibu di kamar rawatnya.

__ADS_1


"Dia harus ke perusahaan, karna ada beberapa meeting yang tidak bisa diwakilkan oleh Panda" jawab Nana sambil tersenyum.


"Nana, ibu mau ke kantin rumah sakit ini. Ibu lapar, apa kau mau makan siang bersamaku nona muda?" tanya ibu pada Lana, Lana menggeleng.


"Aku sudah makan tadi dirumah dengan mami bu"


"Baiklah, ibu keluar dulu ya" Ibu berjalan keluar dan menutup pintu.


Tinggallah Nana dan Lana berdua dikamar itu.


"Apa kau tidak ke kampus hari ini?" tanya Nana sambil memakan buah apel yang sudah ibu kupaskan untuknya.


"Tidak kak" jawab Lana lesu.


"Kenapa kau tampak murung begitu?" tanya Nana heran.


"Tidak apa-apa" jawabnya lagi.


"Kau memikirkan Panda ya?" tebak Nana dan memang benar, Lana mengangguk.


"Aku sudah berusaha mendekatinya, bahkan kemarin aku nekad menyatakan cintaku tapi dia masih saja seperti gunung tinggi yang tak dapat ku daki" keluh Lana dengan nada kesal.


"Bersabarlah Lana, jangan selalu terbawa emosi. Panda butuh waktu untuk memahami situasi kemarin. Bisa jadi itu ciuman pertamanya" wajah Lana memerah.


"Ya kita tidak akan pernah bisa tahu apa yang ada dipikiran beruang itu. Karna ekspresi wajahnya tidak dapat ditebak" kata Nana sambil berpikir.


"Aku tidak sabar menunggu jawaban darinya, arghhhhhh"


"Jangan begitu, semuanya butuh proses Lana. Tapi kalau kau tidak sabar untuk menunggunya, kau saja yang melamarnya hahaha" Nana bicara asal, Lana terdiam.


"Kau benar Kak, aku akan melamarnya. Sekarang aku harus pergi membeli cincin untuk melamar beruang itu" ucap Lana sambil mengangguk dan berjalan ke arah pintu lalu keluar.


"Aku hanya bercanda Lana" ucap Nana bingung, namun Lana sudah pergi meninggalkannya.


♥️♥️♥️


Lilo masuk ke kamar Nana, Nana sedang menerima telepon.


"Siapa itu?" tanya Lilo penasaran.


"Miko" jawab Nana singkat lalu kembali asik dengan teleponnya.

__ADS_1


Lilo hanya diam, di duduk disebelah Nana sambil memainkan ponselnya. Nana tersenyum melihat Lilo yang sudah tidak marah jika Miko menelpon. Nana menjadi tak enak hati dan mengakhiri teleponnya.


"Kau sudah makan sayang?" tanya Nana sambil mengelus punggung Lilo, Lilo merasa nyaman dengan sentuhan istrinya.


"Belum, setelah meeting selesai aku segera kesini untuk menemuimu" Lilo mengecup bibir istrinya mesra.


"Ibu sedang dikantin untuk makan siang"


"Ya aku bertemu dengan ibu tadi, Panda menemaninya makan siang"


"Kenapa kau tak makan siang juga?"


"Aku begitu merindukanmu, sampai aku tak merasa lapar"


Nana membelai rambut suaminya lembut, Lilo memejamkan matanya menikmati sentuhan istrinya.


"Apa kau sudah melihat Fa hari ini?" tanya Nana.


"Ya sudah, aku melihatnya dua kali. Saat akan bertemu Berta dan saat datang kesini tadi" ucap Lilo sambil memainkan rambut istrinya yang lembut.


"Apa tadi Lana kesini?" tiba-tiba Lilo teringat sesuatu.


"Ada apa?" Nana gugup, ia teringat akan kata-kata Lana sebelum pergi tadi.


"Tidak apa-apa hanya saja mami bilang Lana menuju ke sini tadi bersama pak Tito"


"Ya tadi Lana kesini sebentar.." Nana menggantung kata-katanya.


"Kenapa? Kau tampak bingung sayang" tanya Lilo heran.


"Begini sayang, apakah menurutmu salah jika wanita yang melamar seorang pria duluan?" tanya Nana ragu.


"Saat ini sudah jaman emansipasi wanita sayang, semua wanita bebas mengekspresikan dirinya" jawab Lilo, Nana bernapas lega.


"Kenapa bertanya begitu?"


"Aku hanya memastikan apa yang akan Lana lakukan benar"


"Melakukan apa?" Lilo makin heran.


"Lana berencana melamar Panda hari ini" kata Nana pelan.

__ADS_1


Lilo tertawa lepas.


"Biarkan saja, aku ingin tahu apakah gadis manja itu benar-benar akan melakukannya"


__ADS_2