
Ibu sampai dirumah Lilo, ibu terpesona dengan megahnya rumah Lilo. Miko memegang tangan ibu karna ibu tidak fokus dengan jalan didepannya.
"Ibu kau bisa jatuh bila melihat ke atas terus" Miko memperhatikan langkah ibu dengan seksama.
"Bagaimana tuan tampan itu bisa memiliki rumah sebagus ini? Apakah dia tak pernah tidur dan hanya memikirkan pekerjaan juga uang? Nana sangat beruntung bisa tinggal dirumah ini" Ibu bergumam, Miko hanya tersenyum.
Bik Yana menyambut kedatangan ibu. Ibu menyerahkan bingkisan yang ia bawa kepada Bik Yana.
"Tolong siapkan untuk Nana"
"Baik nyonya" Ibu agak takjub dipanggil nyonya oleh Bik Yana.
"Sepertinya aku harus terbiasa dengan panggilan itu" Miko menahan tawa mendengar kata-kata ibu.
"Ibu kau sudah datang" Lilo yang baru keluar dari kamar dan turun kebawah menyambut kedatangan ibu, ia langsung menghampiri ibu dan memeluknya.
"Selamat atas kehamilan istrimu" Ibu membalas pelukkan Lilo.
"Kau juga datang" Lilo memandang ke arah Miko agak kesal.
"Apa kau keberatan aku mengantar ibu?" Miko tersenyum usil, Lilo kurang suka melihatnya.
"Tidak, tapi seharusnya ibu menerima tawaranku untuk dijemput oleh supir" Ibu memukul lengan Lilo pelan.
"Miko ingin melihat keadaan Nana. Miko juga tidak keberatan mengantar ibu ke sini, sudah lah kalian selalu meributkan gadis yang sangat ceroboh itu"
"Aku kan sudah seperti anak ibu, benar kan bu?" Miko memegang kedua pundak ibu dari belakang sambil meletakan pipinya dipipi ibu. Ibu memegang pipi Miko.
"Ya tentu saja kau anak laki-lakikku"
"Aku juga anak laki-lakimu bu" Lilo tak mau kalah.
__ADS_1
"Tapi aku sudah lama menjadi anak ibu, iya kan bu"
"Aku suami dari anakmu bu, seharusnya aku lebih kau sayangi"
"Ibu juga sudah lamaaaaa sekali menyayangiku, mungkin rasa sayang ibu kepadamu hanya sebanyak ini" Miko membentuk sesuatu dengan jempol dan telunjuknya yang hampir menyatu.
"Sudah lah, kemarin kalian memperebutkan Nana dan sekarang kalian memperebutkanku. Kalian sudah dewasa berhentilah seperti anak kecil yang memperbutkan permen" Ibu melerai Miko dan Lilo.
"Baik bu" Keduanya menundukkan kepala, mulai malu dengan tingkah laku masing-masing.
❤❤❤
Kinan dan Amel senang Nana hamil, mereka hamil bersamaan walaupun Amel sudah dekat bulan kelahiran anaknya. Mereka pun melakukan panggilan video.
"Nanaaaa selamat yaa, aku senang kau juga hamil sama sepertiku" Kinan sangat bersemangat.
"Anakku menjadi kakak dari anak-anak kalian" Amel tak kalah semangat.
"Terima kasih yaa, aku juga tak menyangka bila flek yang awalnya ku pikir adalah menstruasi merupakan tanda kehamilan untukku" Nana tersenyum menceritakan pengalamannya.
"Ya aku juga, apa ibumu sudah tahu kau hamil?" Kinan bertanya pada Nana.
"Semalam aku menelponnya, ia berteriak sangat keras sampai telingaku sakit. Hari ini dia akan datang menemuiku. Aku yakin dia akan menasehatiku dengan banyak petuahnya hahaha"
"Bagaimana dengan ekspresi tuan muda itu? apakah dia senang?" Amel bertanya.
"Tentu saja, aku sangat bahagia. Dia sudah mulai mencintaiku, seperti mimpi dicintai olehnya" Nana tersenyum malu.
"Kau sangat beruntung Nana" Kinan terdengar iri.
"Tony adalah suami yang baik, dia mencintaimu sampai gila. Bagaimana mungkin kau mengatakan hanya aku yang beruntung" Nana mengingatkan Kinan.
__ADS_1
"Hahaha iya betul, bahkan Tony melamar Kinan saat Kinan baru putus dengan kekasihnya. Benar-benar luar biasa" Amel menimpali.
"Oia kalian benar, suamiku terbaik didunia" Kinan membanggakan suaminya.
"Kau juga Amel. Jeremy adalah pria yang luar biasa, dia bahkan bekerja siang malam untuk menikahimu" Nana merubah sasarannya.
"Ohhh iya iya, karna keinginan Amel yang banyak itu Jeremy harus menahan diri menikahinya hahaha. Bahkan Jeremy sangat menjunjung tinggi harga dirinya dengan tidak mau berhutang dan bekerja keras untuk memenuhi semua keinginan Amel saat menikah" Kinan ikut mengenang.
"Diam kalian, aku harus mendapatkan segala hal yang aku inginkan karna aku akan menghabiskan sisa hidupku untuknya. Jadi wajar saja aku meminta banyak hal padanya" Amel cemberut.
"Berhentilah memandangi foto suami Nana" Kinan membuka rahasia Amel.
"Apaaa? Kau benar-benar melakukannya?" Mata Nana terbelalak lalu tertawa.
"Huh kau ini sangat tak bisa dipercaya, mengapa kau mengatakannya pada Nana" Amel cemberut.
"Bahkan Jeremy berulang kali menghapus foto suamimu, Na" Kinan terkekeh.
"Aku sangat menyukai wajah suamimu, dan saat USG kemarin dokter mengatakan anakku laki-laki. Aku ingin dia sedikit saja mirip tuan muda tampan suamimu"
Nana dan Kinan tertawa bersama.
"Ibuku sepertinya sudah datang, aku bisa mendengar suaranya sayup-sayup dari sini" Nana tiba-tiba terdiam.
"Baiklah, nanti kita akan jadwal ulang pertemuan kita ya. Padahl hari ini aku sudah menyiapkan daging sapi dan salad buah untuk kalian" keluh Amel.
"Kau makanlah yang banyak agar anakmu sehat" Nana menasehati Amel.
"Oke aku tutup ya, suamiku mengajakku keluar" Kinan menutup panggilannya pertama.
"Bye bye Amel" Nana juga menutup panggilannya.
__ADS_1
Ibu masuk ke dalam kamar.
"Waaah kamarmu sangat besar, bila ibu menginap kita bisa tidur bertiga ditempat tidur itu"