Tuan Muda Yang Tampan

Tuan Muda Yang Tampan
Kepekaan


__ADS_3

Mereka kembali ke rumah, Lilo menggendong istrinya masuk kedalam kamar.


"Senangnya menjadi kakak ipar, punya suami tampan dan sangat mencintainya" Lana bergumam sendiri, Panda yang ada disebelahnya melirik sedikit.


"Hmmm, jadilah pria yang baik dan penyayang. Bila kau bisa aku akan mempertimbangkan untuk menikah denganmu" Lana menengok ke arah Panda.


"Saya akan berusaha nona" mendengar jawaban Panda wajah Lana memerah.


"Ya kau harus berusaha, karna aku bukanlah wanita yang mudah ditaklukan hatinya"


"Saya rasa itu benar nona" Lana menahan senyum senangnya.


"Aku juga akan mencoba membuka hatiku bila kau memang berniat mendekatiku"


"Baik nona"


"Sering-sering lah memperhatikanku, agar hatiku cepat luluh dan menerima pernikahan antara kau dan aku"


"Iya nona"


"Berusahalah tidak membuatku sedih dan menangis, jangan mengikuti kebodohan kakakku"


"Baik nona"


"Katakan yang lain, kau hanya mengatakan dua sampai tiga kata!!"


"Apakah saya harus memanjangkan kata-kata saya saat berbicara dengan nona?"


"Tidaaak, kau hanya mengatakan baik nona, iya nona. Seakan-akan aku yang memaksamu melakukan apa yang aku katakan tadi!" (bukannya memang iya?)


Panda menatap ke arah Lana, Lana tidak berani menatap Panda.


"Baik nona muda, saya mendengar setiap kata dan kalimat yang nona ucapkan kepada saya"


❤❤❤


Lilo merebahkan istrinya ditempat tidur, Nana tidak mau melepaskan pelukannya dari Lilo.

__ADS_1


"Kau jangan kemana-mana, temani aku disini"


"Aku tidak kemana-mana, aku hanya ingin mengganti pakaianku. Badanku berkeringat"


"Apakah kita bisa mandi bersama?" Lilo terkejut, ia tak ingin menolak tapi Lilo takut tak bisa menahan keinginannya.


"Kau istirahat lah, aku akan menyiapkan air hangat untukmu setelah mandi" Nana cemberut.


"Jangan marah sayang, nanti si kecil yang ada diperutmu bisa ikut marah padaku" Nana tertawa kecil mendengar kata-kata suaminya.


"Baiklah, aku akan menunggumu disini. Apakah aku boleh menonton drama dari ponselku?" Lilo mengangguk lalu berjalan ke kamar mandi.


Ponsel Lilo berbunyi, Nana melihat siapa yang menelpon. Tertera nama Shallomita disana, wajah Nana berubah kesal.


Siapa wanita yang menelpon itu? Apakah itu mantan kekasihnya? Tiidaaaaak.. Tapi dia pernah berkata tidak memiliki mantan kekasih


Nana berpikir keras, air matanya mulai mengalir. Lilo keluar dari kamar mandi, ia melihat Nana menangis.


"Kenapa kau menangis?" Lilo memegang pipi Nana.


"Tidak ada yang salah dengan ponselku, apa yang ponsel ini perbuat hingga kau menangis? Apa perlu aku membuangnya?" Nana menggeleng, tangisnya semakin kencang.


"Ada wanita bernama Shallomita menelponmu, huaaaa..."


"Apa salahnya bila ia menelponku?" Lilo bingung, ia mengusap air mata yang keluar dari mata Nana.


"Apakah dia mantanmu? Atau.... Kau berselingkuh dibelakangkuuuu.. huaaa..." Lilo mulai paham.


"Apa kau akan cemburu dengan Rossa?" Nana menghentikan tangisnya.


"Rossa? Yang membuatkan ku gaun pengantin?" Lilo mengangguk.


"Shallomita adalah teman Rossa yang kan membantuku membuat baju-baju hamil yang bagus untukmu"


(Tumben peka kebutuhan istrinya)


❤❤❤

__ADS_1


Pagi-pagi Miko menjemput ibu, ia akan mengajak ibu untuk ke rumah Lilo. Ibu sudah mendengar bahwa Nana hamil, ibu sudah membuatkan air jahe hangat dan sup ayam untuk Nana.


"Ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Nana. Ibu akan menasehatinya agar ia selalu menjaga kesehatan"


"Benar ibu akan menasehatinya? Bukan memarahinya?" Miko berkata sambil tertawa.


"Ibu tidak pernah memarahi Nana, ibu hanya berbicara dengan nada keras kepadanya" Ibu membela diri.


"Tapi ibu tidak pernah berbicara keras padaku"


"Tentu saja ibu tidak akan berbicara keras dengan anak baik dan tampan sepertimu"


"Nana juga anak yang baik"


"Ya dia anak yang baik tapi sering membuatku kesal dengan kebodohannya" Ibu menjawab dengan cueknya, Miko tersenyum.


"Nana sudah melewati hal-hal yang berat dalam hidupnya bu"


"Ya kau benar. Setelah ayahnya meninggal, Nana berusaha keras untuk menghidupi ku. Bahkan aku tidak bisa menunjukan rasa sayangku padanya selama ini. Aku takut ia akan menjadi anak yang manja"


"Kau sangat menyayanginya kan?"


"Tentu saja ku menyayanginya, dia adalah putriku satu-satunya. Harta yang paling berharga" suara ibu terdengar bersemangat.


"Kini Nana sudah dewasa, bahkan ia sudah menikah dan tengah hamil. Ibu sangat bangga padanya. Selama ini ia tak pernah mengeluh harus banyak berkorban untuk ibu. Mungkin ibu egois menjodohkannya dengan tuan muda itu, tapi ibu hanya berpikir bila ia menikah dengan orang kaya maka hidup Nana tidak akan kesulitan dikemudian hari" Air mata menetes dari pelupuk ibu.


"Tapi Nana saat ini bahagia dengan pilihan ibu, bahkan ia tidak pernah mengharapkan uang dari suaminya. Ia tetap bekerja dan berusaha agar tidak bergantung pada siapapun, itu yang membuatku kagum padanya" Ucap Miko, Ibu mengelus lengan Miko.


"Segeralah menikah, temukan gadis yang baik untukmu"


"Aku sudah menemukannya namun ia sudah menikah dengan orang lain karnamu" Miko tertawa.


"Jangan mengharapkan gadis bodoh itu!" Ibu memukul lengan Miko agak kencang.


"Hahahaha itu sakit bu" Miko memegang lengan yang dipukul ibu.


"Kau harus mendapatkan gadis yang baik dan rupawan, jangan menjadikan gadis gila itu sebagai patokan mu atau kau akan menyesali perbuatan mu itu"

__ADS_1


__ADS_2