
"Maaf nona jangan bercanda mengenai pernikahan" Panda menatap Lana dengan lekat, Lana agak malu tapi ia menguatkan dirinya.
"Aku tidak bercanda, aku serius. Menikahlah denganku maka kau dapat memiliki anugerah seperti itu" ujar Lana sambil menunjuk bayi Nana dan Lilo.
"Saya pernah mengatakan hanya akan menikah dengan wanita yang mencintai saya dan saya cintai nona" Wajah Panda sangat serius.
"Apakah kau mencintaiku?" tantang Lana, Panda sedikit mengalihkan tatapannya dari Lana.
"Kenapa? Kau tak bisa menjawabnya? Apakah kau mencintai gadis berambut panjang itu?" desak Lana, Panda mulai tersudut.
"Bagaimana dengan nona? Apakah anda mencintai saya?" Panda balik bertanya.
"Apakah kau mau mulai membuat pertanyaan kuis untukku?" Lana semakin menantang Panda.
"Katakan padaku, apa yang membuatmu masih ragu?" Lana semakin mendesak Panda. Panda terdiam.
"Aku mencintaimu" ucap Lana cepat, Panda menoleh ke arah Lana. Wajah Lana merah, ia tak berani menatap Panda.
"Apakah nona benar-benar serius?" Lana mengangguk tanpa menoleh ke Panda.
"Benar-benar benar-benar serius?" Lana mengangguk lagi kuat, masih bersikeras tak mau menoleh ke Panda.
"Benar-benar benar-benar benar-benar serius?" wajah Lana mulai berubah agak kesal, ia menoleh ke Panda.
"Aku benar-benar serius tuan beruang" ujarnya, lalu menarik kemeja Panda dan mencium bibir Panda.
♥️♥️♥️
"Nana kau sudah merasa baikan?" tanya mami saat bertemu Nana, Nana mengangguk sambil tersenyum.
"Mulai saat ini kau harus lebih memperhatikan Nana" mami memukul lengan Lilo sambil menghela napas lega.
"Aku akan selalu menjaganya dengan seluruh jiwa ragaku" ucap Lilo diiringi tawa ibu dan mami, Nana tersenyum melihat tingkah laku Lilo.
"Apa kau sudah mendapatkan nama yang bagus untuk si kecil sayang?" tanya Nana, Lilo mengangguk.
__ADS_1
"Ini adalah anak pertama kita, aku ingin menamainya sama dengan namaku. Tapi dibelakangnya ditambahkan junior karna aku seniornya" Lilo menjawab mantab, Ibu dan mami hanya tersenyum mendengar percakapan dua sejoli itu.
"Fabilo?" tanya Nana.
"Ya, Fabilo Wijaya Junior. Kita bisa memanggilnya 'Fa'. Bagaimana?" Lilo bertanya kepada semua yang ada disana.
"Ibu sangat suka nama itu, harapan ibu anak itu mirip denganmu yang tampan, pintar dan sukses seperti papanya" Ibu menjawab lalu melirik Nana judes.
"Ibuu, kau masih saja memusuhiku. Aku baru saja melahirkan cucumu" rengek Nana.
"Mami tidak masalah, karna saat papi memberikan nama itu kepadamu mami sangat suka. Bagaimana Nana?" mami menoleh ke arah Nana yang sepertinya masih menimbang-nimbang nama anaknya.
"Bila namanya Fabilo Wijaya Junior, lalu dimana nama bagianku?" Nana memanyunkan bibirnya.
"Bagianmu ada disini" Lilo menunjuk ke hatinya. Wajah Nana memerah.
"Kalian itu seperti pengantin baru, ibu mau melihat Fa diruangan bayi kalau begitu" Ibu beranjak dari duduknya.
"Ajak aku bersamamu nenek tua" ucap mami.
"Siapa yang kau sebut tua? Apakah tidak ada cermin di rumah mewahmu?" ibu membalas.
♥️♥️♥️
Panda dan Lana masuk ke kamar Nana dirawat. Wajah Panda terlihat merah, Lana pun sama. Namun mereka berdua berusaha menyembunyikannya.
"Kalian dari mana saja?" tanya Lilo sedikit kesal karna perutnya sudah lapar.
"Aku tadi melihat bayi kalian. Kak Nana bagaimana keadaanmu?" Lana mendekati Nana lalu duduk dan memeluknya.
"Aku sudah baikkan, tapi masih butuh beberapa hari untuk memulihkan tubuhku. Ada beberapa bagian yang memar karna aku terjatuh kemarin"
"Maafkan aku Kak Nana, kemarin aku tak bisa ke sini untuk menjengukmu" ucap Lana menyesal.
"Aku tidak apa-apa Lana" Nana mengusap rambut Lana pelan.
__ADS_1
Nana melihat ke arah Panda, ada yang lain dari wajahnya.
"Apa kau sakit Panda?" tanya Nana khawatir. Panda menoleh sebentar ke Nana lalu menggeleng.
Lilo pun ikut merasa ada yang aneh.
"Kau kenapa?" Lilo ikut bertanya karna penasaran.
Lana melihat ke arah Panda sambil memberi kode menggeleng, maksudnya jangan sampai Panda menceritakan kejadian didepan ruang bayi kepada Lilo.
"Saya tidak apa-apa tuan" ucap Panda gugup.
Lilo merasa ada yang tidak beres, karna Panda biasanya akan menjawab datar atau tegas saat Lilo bertanya.
"Apa yang kau lakukan padanya Lana?" tanya Lilo santai. Lana mulai ikut gugup.
"Aku tak melakukan apa-apa" ucapnya dengan mata meyakinkan pada Lilo.
"Panda berubah menjadi gugup seperti ini pasti terjadi sesuatu" tebak Lilo, wajah Lana mulai memanas.
"Apa kau tidak mau mengatakan sesuatu Lana?" desak Lilo.
"Tidak ada yang perlu aku katakan Kak. Kak Nana, lihat Kak Lilo mengintimidasi ku" Lana merengek pada Nana, Nana tersenyum.
"Jangan seperti itu sayang" ucap Nana lembut, Lana mencium pipi Kakak iparnya itu.
Lilo tidak kehabisan akal, ia melirik ke arah Panda. Lana tahu Lilo akan memaksa Panda untuk jujur. Lana bangun dari duduknya lalu berdiri didepan Panda.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lilo heran.
"Kakak tidak bisa memaksa Panda mengatakan apapun!" ucap Lana membuat Lilo tersenyum usil.
"Baiklah, jika itu maumu" Lilo menyeringai.
"Panda, aku tidak memaksamu. Tapi apa yang dia lakukan padamu?" Tanya Lilo dengan pandangan serius kepada Panda.
__ADS_1
"Nona muda menarik kemeja saya dan menempelkan bibirnya ke bibir saya tuan"
Lana langsung menginjak kaki Panda kuat-kuat.