Tuan Muda Yang Tampan

Tuan Muda Yang Tampan
Kenangan Manis


__ADS_3

Nana dan Lilo sampai di rumah sakit, mereka segera menuju ke ruang praktek dokter Berta.


"Selamat pagi nona Nana" sapa dokter Berta sambil tersenyum.


"Pagi dokter" Nana juga tersenyum.


"Kenapa kau tidak menyapaku?" Lilo protes.


"Selamat pagi tuan Lilo yang terhormat" sapa dokter Berta sambil tersenyum malas.


Nana dan Lilo masuk, Nana mengobrol dengan dokter Berta sebentar menceritakan mengenai kehamilannya.


"Baiklah nona bisa berbaring sekarang"


"Apakah aku bisa mengetahui jenis kelamin anakku?" Lilo bertanya pada dokter Berta.


"Sabar lah Lilo, aku akan memeriksanya dulu" jawab dokter Berta.


Nana berbaring, dokter Berta mengoleskan cairan agak kental ke perutnya. Lalu muncul gambar bayi terlihat belum sempurna dilayar sebelah Nana.


"Apa itu anakku? Mengapa dia tidak terlihat mirip aku ataupun istriku?" Lilo protes namun terlihat sangat bersemangat.


"Sabarlah tuan muda, usia kandungan istrimu baru 6 bulan. Dia akan terlihat sempurna sebentar lagi" ucap dokter Berta sambil tersenyum menatap Nana.


"Apakah si kecil sehat dan berada diposisi yang baik dokter?" tanya Nana.


"Ya dia sehat dan dalam posisi yang baik, hanya saja... eeemmm" dokter Berta terlihat berpikir.


"Ada apa Berta cepat katakan, kau membuatku takut" desak Lilo terlihat sangat tak sabar.


"Hanya saja jenis kelaminnya tidak dapat terlihat saat ini, kau bisa lihat ini Lilo? Bersembunyi dibalik pahanya sendiri" dokter Berta menjelaskan.


"Bisa kah kau membuatnya menggeser sedikit pahanya agar kita bisa segera mengetahui jenis kelaminnya?" Lilo bertanya polos, dokter Berta menatap malas padanya.


"Bisa kah kau menanyakan hal yang masuk akal tuan muda?"

__ADS_1


♥️♥️♥️


Pulang dari rumah sakit Nana dan Lilo makan siang bersama di restauran tempat mereka pertama kali bertemu.


"Apakah kau ingat tempat ini sayang?" tanya Lilo sambil menarikan kursi untuk Nana.


"Ya tentu saja, kenangan yang tidak bagus seingatku" Nana menjawab enteng.


"Tidak bagus? Bukankah kau terkesima dengan wajah tampanku dari awal kita bertemu" Lili mencium kening istrinya.


"Kau memang sangat tampan tapi sangat menyebalkan waktu itu" ujar Nana sambil memandang sebal kepada Lilo.


"Kau pun terlihat seperti ingin menolak dijodohkan denganku" Lili membalas ucapan Nana.


"Kau mengatakan hal yang membuatku menjadi tersinggung saat itu"


"Kau bahkan menumpahkan minuman dan mencari kesempatan memelukku" Lilo menyeringai.


"Itu adalah hal yang tidak disengaja, aku terjatuh dan kau menangkapku!"


"Aku tidak ingin menikah dengan pria yang terang-terangan mengatakan akan menikahi siapa saja asal membuat mamimu senang. Itu benar-benar menyebalkan, harga diriku seperti diinjak-injak olehmu!" nada suara Nana mulai meninggi.


"Apakah kau sudah mulai menyukaiku dari awal kita bertemu hingga kau sangat ingat apapun yang aku katakan" Lilo menatap istrinya dengan nakal.


"Ten.. tentu saja tidak, aku menolak keras menikah denganmu. Kalau tidak karna ibu yang terus memaksaku mungkin aku tidak mau menikah denganmu" Nana bertambah sewot.


"Bukankah kau sangat suka dengan baju pengantin buatan Rossa?" Lilo semakin usil.


"Ya, aku berkompromi dengan diriku saat itu. Apa kau membawaku kesini untuk mengingatkan aku mengenai hal-hak buruk saat kita pertama bertemu sayang?" Nana mulai melotot.


"Tidak sayangku. Apakah sebaiknya kita pindah restauran agar wajahmu bisa tersenyum manis kembali?" goda Lilo, Nana sadar ia terbawa emosi lalu tersenyum dan memegang jemari Lilo.


"Kita makan disini saja sayang, dan membuat kenangan baru yang manis"


♥️♥️♥️

__ADS_1


Ibu menelpon Nana siang itu, ia mendengar Nana akan USG di rumah sakit. Ibu sangat penasaran tentang hal itu.


"Hallo Ibu"


"Nana, bagaimana hasil usgnya? Apakah anakmu mirip dengan suamimu?"


"Ibu, aku USG untuk mengetahui jenis kelamin si kecil. Bukan melihat wajahnya mirip dengan siapa"gerutu Nana.


"Aah itu tidak terlalu penting, ibu hanya ingin tahu apakah hasil USG bisa mengetahui wajah anak mu nanti bisa dipastikan mirip suamimu yang tampan"


"Tentu saja tidak bisa ibuu" Nana merengek.


"Jangan seperti anak kecil, ibu pusing mendengar rengekan mu itu"


"Jadi ibu menelpon hanya untuk menanyakan hal itu?"


"Ya tentu saja, ibu tidak ingin buang-buang banyak waktu untuk menelponmu. Lebih baik ibu menelpon Panda untuk menanyakan kabarmu" ujar ibu santai.


"Ibu jangan membuatku malu dengan menelpon Panda hanya untuk menanyakan kabar ku"


"Banyak sekali hal yang kau larang, ibu bisa menjaga diri ibu dengan baik. Bahkan ibu lebih pandai daripada kau"


"Bisakah ibu tidak mengejekku sekali saja? Suamiku mendengar semua kata-katamu"


"Menantuku itu sangat baik, ia akan tetap menerimamu dengan segala hal buruk yang kau punya"


"Ibuuuu..." Nana merengek lagi.


"Apa kau sudah makan siang? Mampirlah ke sini maka ibu akan memasak untukmu, tapi pastikan Panda yang menjadi supirmu"


"Panda tidak sedang bersama kami ibu, dan kami berdua sudah makan siang. Kurangilah sikap genitmu pada Panda, kau bersaing dengan gadis-gadis muda yang cantik"


"Ibu sudah pernah menjadi gadis yang cantik, tapi mereka tidak memiliki pengalaman yang mumpuni seperti ibu" kata Ibu Nana dengan Bangga.


Nana hanya bisa menepuk keningnya mendengar kata-kata yang baru didengarnya.

__ADS_1


__ADS_2