
Nana tidak dapat memejamkan mata, Dia masih memikirkan kata-kata Lilo.
"Aku ingin kau tidak mempunyai hubungan dengan pria lain tanpa sepengetahuanku, jangan berharap lebih pada pernikahan ini. Aku hanya ingin membuat mamiku bahagia, jadi aku berharap kau tidak berpikir untuk aku mencintaimu seperti drama-drama yang kamu lihat
Aku akan sibuk bekerja mulai besok, mulai lah belajar menjadi seorang istri yang baik dan jangan mencoba untuk mencampuri urusanku. Aku hanya menjalani kewajibanku sebagai suamimu"
Kata-kata itu terngiang-ngiang ditelinga Nana, bahkan Nana tidak dapat menjawab apapun. Hanya anggukan tanda setuju.
"Asalkan aku tetap bisa bekerja maka aku tidak akan membantah. Apa sebaiknya aku juga mengajukan syarat? " Nana akhirnya berdamai dengan pikirannya sendiri.
*** 123 ***
Pagi-pagi Nana sudah bangun, ini masih hari liburnya karna kantor Nana memberikannya cuti satu minggu setelah pernikahan. Nana segera mandi, sambil tersenyum Nana membuatkan kopi untuk suaminya dan menyiapkan air hangat.
Lilo masih terlelap, Nana memperhatikan wajah suaminya. Aku akan berusaha bertahan untuk tidak mencintaimu, walaupun aku berharap seperti kisah-kisah drama tapi tetap saja harus dimulai dengan kesedihan, pikirnya lagi.
"Apa yang sedang kau lakukan?" mata Lilo terbuka, Nana hanya berjarak 10 centi dari wajah Lilo. Nana terkejut dan jatuh terduduk.
Lilo bangun dari baringannya menuju kamar mandi. Nana terhenyak, dia memukul kepalanya pelan.
"bodoh bodoh bodoh mengapa aku melakukan hal itu dan ketahuan olehnya" Nana mengutuk dirinya sendiri.
Lilo keluar dari kamar mandi, Lilo bersiap berangkat bekerja. Nana sigap membantu suaminya berpakaian.
"Bila ada yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Aku tidak akan melarangmu" Lilo berujar.
"Bolehkah aku mengajukan beberapa persyaratan?" Nana memberanikan diri, walaupun saat dia mengatakan itu Nana tidak berani menatap mata Lilo.
"Katakan"
"Kau tahu aku bekerja, jangan memaksaku untuk berhenti. Aku akan menuruti semua keinginanmu asalkan kau tidak membuntutiku dengan pengawal"
__ADS_1
"Pengawal? Kau pikir ini film drama" Lilo menatap Nana dan menyentil pelan dahi Nana.
"Berhentilah berkhayal, dan jaga tingkah lakumu. Cukup bertindak sewajarnya maka aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau inginkan" Lilo selesai memakai pakaian kerjanya. Panda sudah menunggu diluar, dia tersenyum saat Lilo keluar dari kamar hotel ditemani istrinya.
"Hati-hati dijalan" Nana berusaha ceria.
"Ya saya akan berhati-hati nona"
"Siapa yang berbicara padamu" Nana mendengus kesal lalu masuk kembali ke kamarnya.
"Apa aku salah? Kan aku yg menyetir mobil" Panda berpikir sambil sedikit memiringkan kepalanya.
*** 123 ***
Panda melirik dari kaca spion melihat ke arah Lilo. Tidak ada yang berubah dari sikap Lilo, tetap tenang dan kelihatan dingin.
"Apakah anda senang hari ini tuan?" Panda membuka obrolan ringan.
"Ya, moodku lumayan bagus hari ini" Lilo menjawab datar.
"Sepertinya belum, namun aku yakin dia pasti melakukannya" Lilo menatap keluar jendela mobil.
"Kau harus terus dalam keadaan siap dengan segala tingkah laku istriku" Lilo menengok ke arah Panda, Panda hanya tersenyum.
"Ya harusnya seperti itu, bila aku ingat pertanyaan-pertanyaannya waktu itu. Sepertinya hidup wanita itu terlalu banyak dipenuhi drama" Gumam Panda dalam hati.
*** 123 ***
"Apa yang harus aku lakukan sekarang" Nana berpikir.
Tuuut tuuttt tuuuttt
__ADS_1
"Nanaaaaaaa, bagaimana malam pertamamuuuu" Amel menjawab panggilan video pertama.
"Apakah pria itu membuatmu pingsan tadi malam?" Kinan ikut menimpali, wajah kedua sahabatnya itu tampaknya antusias. Mereka tertuju pada rambut Nana yang basah.
"Aaaaaaaaa membayangkannya saja aku bisa pingsaaaan" Amel histeris.
"Menikah dengan tuan muda tampan dan kaya, bisa tidur dengannya setiap malam sambil memeluknyaaa" Kinan membayangkan, wajahnya berseri-seri.
"Ya lumayan" Nana hanya menjawab datar. Membuat wajah kedua sahabatnya nya berubah menjadi heran, tapi Nana berusaha menutupi dari kedua sahabatnya kalau dia dan Lilo belum melakukan malam pertama.
"Mak.. maksudku sangat indah tadi malam" Nana gugup, sambil mengingat ciuman pertamanya bersama Lilo. Mata kedua sahabatnya terbelalak.
"Aaaaaa Nanaaaaa aku iriiiiiii..... " Amel tertawa sambil menutup wajahnya.
"Segeralah punya anak dan ikat dia dengan kuaat" Amel menambahkan.
Nana hanya tersenyum kecut, bahkan dia tidak berani membayangkan mengikat Lilo dengan anak yang akan dia kandung nanti. Nana dan kedua sahabatnya mengobrol karna Amel dan Kinan sama-sama menjadi ibu rumah tangga setelah menikah jadi keduanya bisa berlama-lama melakukan panggilan video.
Sampai akhirnya Nana lelah dan memutus panggilannya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan di kamar hotel ini?" Nana bingung, didalam kamar itu tak ada apapun yang bisa dia lakukan.
*** 123 ***
"Kapan kau akan membawa menantu mami pindah ke rumah?" Mami bertanya pada Lilo lewat sambungan telepon.
"Hari ini" Lilo menjawab malas.
"Segera kau bawa Nana pulang, mama tidak sabar ingin merasakan memiliki menantu dirumah ini" wajah Mami sangat antusias.
"Ya aku akan menyuruh Panda untuk mengantarnya ke rumah siang ini"
__ADS_1
"Baiklah mami akan bersiap" Mami memutus sambungan telepon.
"Panda, jemput dia dari hotel dan antar dia ke rumah mami" Panda mengangguk, dia memencet nomor di ponselnya.