
"Jelaskan padaku, kenapa kau tidak membalas pesanku dan tidak mengangkat telponku" Miko menatap wajah Nana dengan lekat, Lilo merasa risih.
"Maafkan aku Miko, tapi suamiku memintaku untuk tidak sering-sering memegang ponsel saat sedang dirumah" Nana berbohong, Lilo bertambah kesal. Tetapi Nana menggengam erat tangan Lilo.
"Benarkah? Kau bukan sedang menjauhiku karna pria ini kan?" Miko melirik tajam.
"Jangan berpikir seperti itu, mana mungkin aku membiarkannya seperti itu" Nana memperat genggamannya dengan tangan Lilo.
"Baiklah kalau begitu, bersikaplah sportif tuan muda" Miko menatap ke arah Lilo tajam. (setajam pisau)
"Aku harus kembali ke kantorku, aku akan menelponmu lagi" Miko pamit.
Setelah Miko pergi, Nana menghabiskan minumnya.
"Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya pada Miko?"
"Aku tak mau hubunganmu dengannya bertambah runyam. Ayolah jangan begitu, aku akan sedih bila kau melarangku bersahabat dengan Miko" Nana memohon.
"Tapi kau harus berjanji satu hal"
"Apa?"
"Kau harus lebih menyukaiku dari pada dia"
Aku mencintaimu tuan tampanku, bukan hanya suka.... Arrrgghhhh...
Nana kesal dalam hati. Ia mengangguk saja menyetujui keinginan Lilo.
"Baiklah, setelah ini tulis semua hal yang kau sukai lalu kirimlah kepadaku. Aku merasa kalah darinya karna tak tahu makanan kesukaanmu"
❤❤❤
"Maaf tuan muda, nona Lana ingin saya membawakannya kopi dan cookies"
"Kenapa dia menyuruhmu?"
"Saya tidak tahu tuan" Lilo tersenyum, Lana memiliki maksud tertentu.
"Apakah kita bisa menjemput istriku dulu?"
"Baik tuan"
Nana melihat mobil Lilo sudah menunggunya, Nana menghampiri mobil itu dan Panda membukakan pintu untuk Nana.
"Kau lelah?"
"Ya hari ini aku agak sibuk"
"Bagaimana kalau kita minum kopi?"
__ADS_1
"Aku tidak suka kopi"
"Ada minuman lain selain kopi disana?" Lilo bertanya pada Panda.
"Ada coklat panas dan teh juga ada tuan"
"Apa kita tidak langsung pulang?" Nana heran.
"Ya kita akan mampir ke sebuah caffe membelikan kopi dan cookies untuk Lana"
"Lana? Mengapa dia memintamu membelikan dia cookies?" Lilo melirik ke arah Panda, Nana mengangguk-angguk sambil tersenyum usil.
"Baiklah ayo kita bersantai dulu di caffe dan makan cookies" nada bicara Nana seperti meledek Panda.
Tak Lama mereka sampai di caffe, Lilo sangat menyita perhatian disana. Ia menggenggam erat tangan Nana. Nana sangat senang.
"Pesankan coklat panas untukku dan istriku" Lilo dan Nana berjalan untuk duduk.
"Kau yakin akan tetap menjodohkan Lana dengannya?"
"Ya aku yakin, apa kau tidak merasa aneh Lana memintanya membeli kopi dan cookies? Apakah menurutmu itu seperti mengada-ada" Lilo tertawa.
Kau bisa membaca adikmu mengada-ada tentang sesuatu, kau sendiri tak dapat paham perasaanmu
Nana bergumam sambil memandangi wajah suaminya.
"Apa kau mulai menyukaiku lebih dari Miko?"
"Tak apa-apa hanya memastikan" detak jantung Lilo seketika tak menentu, Lilo tak tahu apa sebabnya. Tapi ia sangat suka melihat Nana.
"Silakan tuan, nona"
"Terima kasiih, duduklah" Nana mengajak Panda bergabung.
"Duduklaah" Lilo ikut mengajak Panda.
Panda merasa ada yang aneh dari Lilo dan Panda. Mereka berdua senyum-senyum melihat Panda.
"Apakah ada yang aneh dengan wajah saya?"
"Tidak, kau terlihat manis" Lilo melirik ke arah Nana, ia tak suka Nana memuji orang lain. Lilo memalingkan wajah Nana dari Panda.
"Kau jangan melihatnya lama-lama, cukup melihatku saja"
❤❤❤
Lana sudah menunggu Panda datang.
"Lama sekali sih" matanya tak berpaling dari pintu depan.
__ADS_1
Selang beberapa menit, Lilo dan Nana datang. Mereka melihat Lana yang pura-pura memainkan ponselnya.
"Kau belum tidur?" Tanya Nana.
"Bila aku sudah tidur aku tak akan disini" Lana menjawab ketus.
"Sudah kau tak perlu menghiraukannya, ayo kita masuk ke kamar" Lilo berjalan naik ke atas diikuti Nana.
Tak lama Panda masuk, membawakan pesanan Lana.
"Ini pesanan nona"
"Taruh disitu"
"Baik nona, apa ada lagi yang bisa saya lakukan untuk nona?"
"Tidak"
"Saya pamit nona" Panda membungkuk memberi hormat.
"Apa makan siangmu menyenangkan bersama kekasihmu itu?" Lana bertanya namun matanya tak lepas dari ponselnya. Panda memiringkan kepalanya bingung.
"Maksud nona?"
"Bukankah suara wanita itu adalah kekasihmu?!" Lana melirik sinis.
"Bila tidak ada yang dapat saya lakukan lagi, saya pamit nona" Panda membungkuk sekali lagi, ia enggan menjawab pertanyaan Lana yang tidak ia pahami.
"Jawab aku!! Aku ini calon istrimu" Lana berteriak.
Lilo dan Nana yang daritadi penasaran dengan tingkah laku Lana menguping dari depan kamarnya sambil berjongkok.
"Lana sangat menjaga gengsinya" ucap Nana sambil tertawa kecil.
"Tapi aku tidak"
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak gengsi untuk memintamu menjadi istriku dulu"
"Ya, tapi kau sangat menyebalkan waktu itu" Nana cemberut.
"Jangan marah, aku sudah tidak menyebalkan sekarang" Nana tersenyum dan mengangguk.
"Bagaimana kalau sekarang kita masuk ke kamar?"
"Oke, tapiiii..."
"Ada apa?"
__ADS_1
"Siang ini aku berdarah" Nana setengah berbisik.
"Aku kan tidur diruang kerjaku"