
Malam itu Miko sedang duduk di sebuah taman kota, ia baru selesai bertemu dengan gadis yang akan dijodohkan dengannya. Tiba-tiba ia mendengar suara tangis dibalik pohon dekat tempat ia duduk.
Awalnya Miko bergidik takut karna malam sudah cukup larut, namun ia sedikit mengenal wangi dari gadis yang menangis itu. Miko mengikuti arah suara tangis berasal, dibalik pohon tampak seorang gadis sedang berjongkok sambil memegang lututnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Miko mengenal gadis itu.
"Miko?" Gadis itu terkejut melihat Miko berdiri dihadapannya.
"Kenapa kau menangis? Dan apa yang kau lakukan disini?"
"Huaaaaa.... " Tangis gadis itu makin mengeras.
"Hei heii jangan menangis seperti itu, orang-orang akan berpikir aku menyakitimu" Miko berusaha menenangkan gadis itu.
"A a akuuu baru saja diputuskan oleh kekasihkuuuuuu... Huaaaaa" Gadis itu menangis kencang lagi, Miko memeluknya untuk meredam suara tangisnya.
"Ayo duduk bersamaku disana, jangan menangis lagi. Ceritakan padaku perlahan" Miko menggenggam jemari gadis itu dan membawanya duduk ditempat Miko duduk sebelumnya.
"Minum ini" Miko menyerahkan botol air mineral yang dibawanya.
"Te terima kasih" ucap gadis itu masih sesegukan.
"Bagaimana bisa kau berada disini, Bunga?" (cek bab posesif #1)
Bunga menatap Miko, bibirnya mulai menunjukan bahwa ia akan menangis lagi.
"Baiklah baiklah, jangan bercerita. Cukup duduk dan minum air itu" Bunga tidak jadi menangis, ia meminum lagi air dalam botol sambil sesekali melirik ke arah Miko.
"Ka kau sedang apa disini?" Bunga bertanya.
"Aku? Yaa aku masih mengikuti keinginan ibuku untuk bertemu gadis-gadis pilihannya" Miko menjawab sambil menerawang jauh, ia tidak menoleh ke arah Bunga yang dari tadi memperhatikannya.
"Berarti kau masih menjalankan kencan buta seperti yang pernah kita lakukan dulu?"
"Ya seperti itulah, aku sudah jatuh cinta dan tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta lagi setelahnya" Miko menoleh ke arah Bunga dan tersenyum.
"Lalu untuk apa kau bertemu dengan gadis-gadis itu?"
"Aku berusaha berkompromi dengan diriku sendiri, karna aku pun tak mau membujang seumur hidupku" Miko menerawang lagi.
"Kemana gadis yang kau cintai itu?"
__ADS_1
"Apa aku bilang kalau yang aku cintai seorang gadis?" Miko melirik Bunga sambil tersenyum usil.
"Apa kau gay?" Bunga memandang jijik kepada Miko. Miko tertawa lepas.
"Hahaha tentu saja tidak, gadis yang aku cintai sudah menikah. Aku terlambat melamarnya" Miko menundukkan wajahnya lalu tersenyum.
"Asal bisa melihat dia tersenyum dan bahagia, aku akan melepaskannya dengan senang hati"
"Dia gadis yang beruntung" Bunga ikut terhanyut oleh perasaan Miko. Miko menoleh ke arah Bunga.
"Sangat sulit menemukan pria baik yang mencintai tanpa syarat seperti mu. Lihat aku sekarang, aku begitu mencintainya sampai gila. Tapi dengan mudah ia mencampakkan ku karna menemukan gadis lain yang lebih cantik dan kaya. Apa semua pria akan seperti itu bila menemukan gadis yang lebih baik dari kekasihnya?" Mata Bunga berkaca-kaca.
"Sudah jangan menangis lagi, kau adalah gadis yang cantik dan menarik. Kau bisa menikah dengan siapapun yang kau mau" Miko mengacak-acak rambut Bunga.
Bunga mencoba menghentikan Miko, Miko tertawa dan menghentikan aksinya.
"Aku yakin tidak semua pria seperti itu, kau akan menemukan pria yang baik" Miko tersenyum, Bunga melihat kepada Miko kagum.
"Ya sepertinya begitu" Bunga ikut tersenyum sambil menatap Miko.
"Bila diperhatikan kau tampan juga, Miko" ucap Bunga asal. Miko menoleh ke arah Bunga, Bunga salah tingkah karna seperti ketahuan menatap Miko.
"Apa kau mau menikah denganku?" wajah Bunga memerah mendengar kata-kata Miko.
Mata Nana berbinar membaca pesan singkat dari Miko. Lilo menghampiri Nana yang masih duduk dengan kaki diselonjorkan ditempat tidur. Ia langsung berbaring dipangkuan Nana.
"Siapa itu?" Lilo ingin tahu siapa yang sedang chat dengan istrinya hingga tersenyum senang.
"Miko" Nana menjawab tanpa menoleh. Lilo mengambil paksa ponsel Nana.
"Sayaaang, kenapa kau mengambil ponselku?" rengek Nana.
"Kau begitu senang berbalas pesan dengan pria lain dan tidak melihat ke arah ku" Lilo cemberut sambil melihat isi pesan Miko.
"Apakah benar ia akan menikah? Hahaha akhirnya dia menyerah" Lilo bangga.
"Menyerah untuk apa? Apa yang kalian perlombakan?" ucap Nana sebal sambil merebut kembali ponselnya.
"Lakukan panggilan video dengannya" kata Lilo, Nana tersenyum dan mengangguk setuju.
"Ada apa Nana?" wajah Miko muncul dilayar ponsel Nana, Lilo merebut kembali ponsel Nana.
__ADS_1
"Aku yang melakukan panggilan ini, jangan berharap bisa melihat istriku hahahaha" Miko melihat malas ke arah Lilo.
"Apa yang kau inginkan?"
"Sebagai suami dari sahabatmu aku ingin mengucapkan selamat padamu" Lilo mengatakannya dengan sangat bangga, Nana yang melihat tingkah suaminya hanya geleng-geleng kepala.
"Ya terima kasih" Miko menjawab malas.
"Heii kau akan menikah, cerialah. Walaupun aku yakin calon pengantin mu tidak akan bisa sebaik istriku hahahaha aduuh.."Nana mencubit lengan Lilo gemas.
"Bisa kah kau tidak memprovokasi ku untuk tidak bertengkar dengan mu sepagi ini?" Miko benar-benar malas meladeni Lilo.
"Jangan begitu, katakan saja apa yang kau inginkan untuk hadiah pernikahanmu?"
"Apa kau akan memberikan apa saja?" Miko menantang Lilo.
"Apapun yang kau mau, asalkan kau tidak meminta istriku karna bila itu yang kau inginkan aku akan segera membunuhmu" ucap Lilo sambil tersenyum manis membuat Miko jijik.
"Aku bisa mengambil Nana bila aku mau"
"Kau berani menantang ku?" Lilo mulai terpancing.
"Ya aku menantangmu, coba tanya Nana siapa yang lebih dia sukai aku atau kau" Lilo terprovokasi oleh tingkahnya sendiri.
"Nana akan memilihku, karna aku suaminya"
Klep...
Lilo mematikan panggilannya. Miko tertawa puas. Lilo hampir saja membanting ponsel Nana.
"Heiii jangan banting ponselku" Nana berteriak.
"Dia membuatku kesal" ujar Lilo sambil membenamkan kepalanya dipangkuan Nana dan memeluk istrinya.
"Kau sendiri yang memulai mengajaknya berdebat pagi ini" Nana terkekeh sambil mengelus kepala Lilo.
"Dia selalu memiliki cara untuk mengalahkan ku dalam perdebatan memilikimu" Lilo merasa malu dan masih membenamkan wajahnya.
"Mulai hari ini jangan mencoba untuk menang darinya lagi"
Btw ini visualnya mba Bunga 😁😁
__ADS_1