
Miko panik saat tahu Amel akan melahirkan, ia bingung harus melakukan apa. Semua mata tertuju padanya, mereka berpikir Miko adalah suami Amel.
"Cepat kemari dan bantu aku bodoh, kenapa kau diam sajaaa" Amel memaki Miko, Miko mendekat kepada Amel, ia memegang tangan Amel dengan takut.
"Bila kau memegang tanganku seperti itu bagaimana kau bisa mengantarku kerumah sakit" Amel memarahi Miko sambil menahan sakit.
"Cepat gendong aku dan bawa aku ke rumah sakit!!!!! Kau ingin aku melahirkan disini!!" Miko bertambah panik. Dengan segala upaya Miko menggendong Amel, membawanya ke mobil.
"Cepat masukkan aku kedalam mobilmu, aku sudah tidak tahan" Amel terus menerus mengomel membuat Miko bertambah panik.
Miko menghentikan paksa sebuah taxi yang melintas, ia langsung masuk bersama Amel di kursi belakang.
"Heii apa-apaan ini?" ternyata di dalam taxi ada seorang penumpang.
"Tolong pak teman saya mau melahirkan berikan kami tumpangan" Miko memohon.
"Baiklah saya akan turun" penumpang itu turun dengan suka rela. Miko menghela napas lega.
"Cepat kau suruh supir itu menjalankan mobilnya!!! Aku bisa melahirkan di taxi bila kau banyak menghela napas seperti itu!!!" Amel menghardik Miko, Miko hanya mengikuti perintah Amel ia tak peduli dengan kata-kata Amel yang pedas.
"Kau ingin melahirkan dirumah sakit mana?" Miko bertanya dengan cepat.
"Apakah hal itu penting sekarang?!!!!! Cepat kau suruh supir itu menjalankan mobilnya agar aku bisa segera mendapatkan penanganan!!!! Aaaarghhhh" Amel merintih kesakitan, Miko bertambah panik, ia panik sepanik panik-paniknya. Ia berpikir...
"Jangan terlalu banyak berpikir bodoooh!! Nyawaku dan nyawa anakku ada ditangamu" Kali ini Amel mulai menjambak rambut Miko.
"Aduuuhhh, pak segera ke rumah sakit terdekat" Miko menahan sakit dikepalanya, tubuhnya sudah basah dengan keringat, ia pun m berusaha melepaskan rambutnya dari genggaman Amel. Tapi Amel malah menguatkan pegangannya, Amel menggiggit kemeja Miko dengan keras sampai sobek. Amel mencakar lengan Miko hingga berbekas. Miko hanya bisa membantu Amel mengatur napasnya.
"Ikuti akuuu, tarik napaasss buaang perlahan, tarik napas buang perlahan, tarik napas buang perlahan"
__ADS_1
Sampai akhirnya mereka sampai dirumah sakit terdekat. Miko membayar taxi itu dan langsung membawa Amel keluar dari taxi. Tak lama Amel langsung mendapat penanganan dari dokter.
Akhirnya Miko bisa bernapas tanpa diiringi omelan Amel. Miko masuk ke kamar mandi, ia bercermin dan melihat dirinya sendiri, lalu mendesah karna lelah. Rambut Miko acak-acakan, disertai kemejanya yang sobek dibagian siku kiri juga berbagai bekas cakaran tergambar jelas bagaimana suasana mencekam selama lima menit di dalam taxi.
❤❤❤
Nana tidak nyaman gerak-geriknya selalu dipantau oleh Rachel. Ia juga risih teman-teman satu kantornya memandang terus ke arahnya dan membicarakannya.
"Bisa kah kau duduk tenang, dan jangan melototi teman-teman kerjaku" Nana berbisik kepada Rachel.
"Tapi tugas saya menjaga nona, bagaimana bila ada teman kantor nona yang mau mencelakai nona" Nana geleng-geleng kepala.
"Apa kau terlalu banyak menonton film action? Hal seperti itu tidak ada disini, semua temanku dikantor ini sangat baik padaku" Nana masih berbisik, mengeluarkan suaranya dengan sangat pelan.
"Saya hanya berjaga-jaga nona, saya harus selalu waspada" Nana kehabisan akal.
"Bisa kah kau membelikan aku minuman segar rasa jeruk?" Rachel melihat Nana dengan tatapan curiga.
"Baiklah bila memang nona menginginkannya, tapi jangan melakukan hal apapun yang bisa membahayakan diri nona" Rachel membungkukkan badannya dan pergi membeli minuman yang Nana maksud.
Nana bisa bernapas lega. Melihat Rachel pergi, dengan mengendap-endap Bella mendekati Nana.
"Siapa dia?"
"Owh itu, dia pengawal yang dibayar suamiku untuk menjagaku, Panda yang mencarinya untukku" Nana menjawab dengan malas.
"Aku pikir Panda bercanda saat mengatakannya padaku kemarin" Bella berpikir sejenak.
"Apa? Bagaimana caranya Panda bisa memberitahumu? Apakah kau diam-diam berkencan dengannya dibelakangku?" Nana tersenyum usil, wajah Bella memerah.
__ADS_1
"Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan Kak. Aku hanya berteman dengannya. Oia apa kau tahu? Wanita itu datang ke kantor setiap hari selama kau belum masuk bekerja" Bella memelankan suaranya.
"Benarkah? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"
"Aku tidak berani Kak, tatapannya sangat menakutkan. Aku takut bila aku memberitahumu dia akan memakanku"
"Kau ini, dia bukan kanibal hahaha"
"Apakah dia manusia biasa Kak? Dia terlihat sangat kaku"
"Tentu saja dia manusia biasa, aku bisa melihatnya makan sandwich buatanku tadi pagi. Bahkan dia memuji masakanku"
"Oh ya? Berarti perkataan teman-teman salah tentangnya. Mereka berpikir bahwa wanita itu robot yang diciptakan khusus untukmu yang dipesan khusus oleh suamimu"
"Apa? Hahaha itu terlalu berlebihan. Bella cepatlah kembali ke mejamu, aku takut bila dia datang dia akan melototi mu"
"Hiiiy aku tidak mau" Bella meninggalkan Nana dan kembali ke mejanya.
Tak lama Rachel datang membawa beberapa jenis minuman rasa jeruk pesanan Nana.
"Kenapa kau membeli banyak sekali dengan berbagai merk?" Nana berbisik pada Rachel.
"Nona tidak mengatakan minuman merk apa yang nona inginkan, tadi saya menelpon nona tetapi nona tidak mengangkatnya"
Nana mengecek ponselnya, ada 20 panggilan masuk dari nomor yang belum ia simpan.
"Jadi ini nomormu? Baiklah akan ku simpan"
Duduklah disini dengan tenang, jangan membuatku menjadi bahan pembicaraan teman-temanku di kantor" Nana memelankan lagi suaranya.
__ADS_1
"Apa nona mau saya menutup semua mulut teman-teman nona dikantor ini?"