
"Eeem aku, akan pindah Kak ke negara SM tempat mama dan papaku tinggal. Aku dapat beasiswa magister disana" Bella menjawab dengan suara pelan, Nana seperti sayup-sayup mendengarnya.
"Apa?!!!" suara Nana menggelegar keseluruh ruangan kantor.
Semua orang menatap ke arah Nana namun tak ada yang berani menegurnya termasuk pak Manager yang sampai keluar dari ruangannya karena Rachel melototinya. Nana menutup mulutnya sendiri, ia menyadari kebodohannya.
"Kau akan pergi dari sini?" Nana berbisik, Bella mengangguk.
"Hari ini aku akan mengajukan resign Kak" Bella tersenyum, di matanya terlihat seburat kesedihan yang sangat dalam.
"Aku hanya pergi 3 hari dan kau secepat itu memutuskan untuk resign dari kantor ini" Nana berbisik dengan nada agak kesal.
"Lalu bagaimana dengan Panda?" Nana berbisik lagi.
"Dia bukan milikku Kak, tak ada masalah aku pergi kemanapun" Bella mengangkat kedua lengannya, Nana mengangguk-angguk.
"Baiklah bila itu keputusanmu, nanti kita bicarakan lagi saat makan siang ya. Aku ingin keruangan pak manager memberikan oleh-oleh ini" ucap Nana sambil mengangkat paper bag berwarna hitam.
Bella tersenyum sambil mengangguk lalu ia kembali ke mejanya.
Nana menuju ruangan pak manager, ia meminta Rachel tidak ikut masuk bersamanya. Rachel pun menunggu dilaluar ruangan namun pintu ruangan tidak boleh ditutup.
♥️♥️♥️
"Jadi kapan kau akan berangkat?" tanya Nana saat makan siang bersama Bella.
"Sekitar 2 minggu lagi Kak, papa dan mamaku sudah mulai mempersiapkan kepindahanku kesana. Aku juga sudah mengkonfirmasi universitas disana kalau aku akan segera datang untuk registrasi ulang dua Minggu mendatang" ucap Bella sambil mengaduk-aduk es teh manisnya.
"Apa kau sudah memberitahu Panda?" Nana bertanya dengan takut-takut. Bella menggeleng.
"Aku ragu Kak untuk memberitahunya, aku takut dia tak peduli dan membuatku patah hati" Bella tersenyum kecut.
"Kau tak akan tahu bila belum mencoba memberitahunya" Nana memegang tangan Bella untuk menguatkannya.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya, menghabiskan satu hari dengannya tanpa gangguan. Agar aku bisa pindah dengan perasaan tenang" Bella menunduk, ia menahan tangisnya. Nana mengusap lengan Bella.
"Sudah jangan bersedih, cobalah ajak dia jalan-jalan. Bila dia menolak maka aku akan membantumu"
"Bagaimana dengan nona Lana? Ia akan marah padamu bila tahu kau membantuku" Bella khawatir.
"Aku akan menjelaskan pada Lana dengan sejujurnya, aku yakin ia akan paham dan tidak mengganggu mu"
__ADS_1
"Benarkah?" Bella menatap Nana dengan harap, Nana mengangguk mantap.
"Aku juga akan meminta suamiku untuk meliburkan Panda sejenak agar dia bisa menghabiskan waktu denganmu"
"Terima kasih Kak Nana, tolong rahasia kan kepindahan ku darinya" Nana mengangguk lagi.
♥️♥️♥️
Malam itu Bella mencoba menelpon Panda.
"Ya halo"
"Panda?"
"Ya, ada apa Bella?"
"Apa kau lelah?"
"Apa kau menelpon untuk menanyakan itu?"
"Tidak tidak. Aku hanya ingin memastikan kalau aku tidak mengganggumu"
"Aku tidak merasa terganggu, ada apa?"
"Sepertinya tuan muda belum memberiku tugas apapun untuk akhir minggu ini, ada apa?"
"Kau bertanya terus ada apa, ada apa. Apa kau ingin segera menutup telepon dariku?"
"Tidak, aku senang kau menelpon" Bella tidak merasa spesial Panda mengucapkannya karna ia mengatakannya dengan nada yang sangat datar.
"Ya ya ya kau terdengar senang sampai aku ingin berlompatan" suara Bella terdengar kesal.
"Kenapa kau diam saja?" Belle bertanya pada Panda.
"Bila aku bertanya ada apa, kau akan berpikir aku ingin menyudahi telpon mu" Bella terkekeh mendengar jawaban Panda yang terdengar polos.
"Aku ingin mengajakmu ke Taman Impian Mini di pusat kota" lanjut Bella.
"Apa kau ingin pergi berdua saja denganku?" pertanyaan Panda membuat Bella ingin memukul dirinya sendiri karna Panda begitu polos.
"Ya tentu saja, kita pergi berdua. Orang-orang menyebutnya kencan" Bella berkata dengan malu-malu.
__ADS_1
"Kencan?" Panda bingung.
"Cobalah kau cari diinternet apa itu kencan dan apa saja yang harus kau lakukan selama berkencan denganku. Jangan membuatku kecewa. Sampai bertemu ya, byee"
Bella menutup telponnya. Panda dengan cepat membuka browsernya dan mencari tahu mengenai kencan dan apa saja yang dilakukan saat kencan. Tiba-tiba wajahnya memerah saat melihat sepasang pria dan wanita yang bergandengan tangan.
"Apa aku harus menggandengnya?" ucap Panda sambil menatap tangan kanannya.
♥️♥️♥️
Nana menceritakan rencananya kepada Lilo, Lilo ragu mengikuti keinginan Nana.
"Bila Lana tahu pasti akan marah" ucap Lilo.
"Ayolah sayang tolong Bella, ia akan pergi ke negara lain dan tidak akan kembali ke sini dalam waktu yang lama"
"Bagaimana bila Lana marah?"
"Aku akan mengatakannya pada Lana sekarang" Nana hendak keluar dari kamar untuk menemui Lana.
"Sayang... Ayolah, kita tidak perlu ikut campur dalam masalah ini" Lilo menahan Nana dengan memegang tangannya, dada Nana merasa sangat degdegan.
"Tiba-tiba aku merasa tidak ingin keluar dari kamar ini" ujar Nana, lalu mendekati Lilo.
"Apa kau sedang menggodaku sekarang?" Lilo menatap istrinya mesra, Nana mengangguk naik kepangkuan suaminya.
"Tapi bantu Bella dulu" bisik Nana ke telinga Lilo.
"Jangan membuatku menjadi pusing sayang" Lilo mendengus kesal.
"Kau kesal padaku?" rengek Nana seakan-akan ingin menangis.
"Tidak sayang, mana mungkin aku kesal padamu" Lilo memeluk istrinya.
"Jadi kau setuju membantu Bella?"Nana tersenyum manis.
Lilo tetap menggeleng, Nana mencium pipi suaminya.
"Ayolah sayang, hanya kali ini sajaa" Nana mengatupkan tangannya didepan Lilo.
"Apa yang aku dapat bila aku membantunya?"
__ADS_1
"Apapun yang kau mau" jawab Nana cepat.
"Baiklah, kita bicarakan lagi besok. Aku harus menjalankan kewajibanku dulu" sahut Lilo lalu menautkan bibirnya ke bibir istrinya.