
Alhamdulilah sampai juga di bab 100 ya Ji 😁
Terima kasih, untuk yang masih setia membaca sampai BAB ini dan tidak berhenti ditengah jalan gara-gara Lila dulu kala 🙈
Sending virtual Love 💟
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas, 3 hari lagi masa nifasku selesai, entah kenapa kali ini aku begitu gugup," ucap Jihan sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Arick duduk bersandar diatas ranjang dan sang istri memeluknya erat.
"Itu karena pembaca setia novel kita menunggu-nunggu adegan itu sayang." jawab Arick, satu tangannya memegang sebuah buku yang ia baca dan tangan lainnya membelai lembut punggung sang istri.
"Tapi kali ini aku benar-benar malu Mas, bagaimana kalau kita skip saja. Kita langsung ke pernikahannya Jasmin?" tawar Jihan, ia mendongak menunggu jawaban sang suami.
"Tidak mau, aku tidak mau mengecewakan ibu yang sudah banyak membelikanmu lingeri sayang." jawab Arick jujur dan Jihan cemberut.
Kembali menyembunyikan wajahnya di dada sang istri.
"Kita kan sudah lama menikah Mas, rasanya adegan seperti itu hanya cocok untuk pengantin baru. Seperti tetangga kita yang baru itu, Kiran dan Aslan dari Hati Yang Tidak Utuh."
Mendengar ucapan sang istri, Arick lalu menurukan bukunya dan meletakkanya diatas nakas. Ia mengangkat dagu sang istri untuk menatap lekat wajah Jihan.
"Benar, kamu tidak menginginkan adegan itu?" tanya Arick dan Jihan mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu kita lewati saja. Kita buat 1 bulan kemudian, lalu disana bertepatan dengan hari pernikahan Jodi dan Jasmin. Bagaimana?"
Mendengar itu, Jihan langsung tersenyum sumringah dan mengangguk berulang kali.
"Terima kasih Mas." jawabnya seraya kembali memeluk erat tubuh sang suami dan Arick membalas tak kalah erat pelukan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
1 bulan kemudian.
Hari ini adalah hari pernikahan Jodi dan Jasmin.
__ADS_1
Pernikahan mereka digelar di rumah Jasmin, dengan dekorasi yang sederhana namun terlihat elegan. Bertema outdoor, banyak bunga mawar putih menghiasi sudut halaman rumah Jasmin.
Setelah ijab kabul dan sungkeman, kini Jodi dan Jasmin tak naik ke pelaminan, melainkan ikut berbaur dengan para tamu undangan.
"Sudah siap?" tanya sang photografer.
Sekarang adalah sesi foto dan giliran foto sang pengantin dengan para sahabatnya.
"Siap!" jawab mereka semua kompak.
Cekrek!
1 foto telah terambil, foto kenangan yang akan menjadi pengingat mereka tentang persahabatan itu.
Sang pengantin berada di tengah-tengah, diapit oleh Jihan yang menggending Anja, lalu Arick yang menggendong Jani dibsebelah kanan. Sedangkan disebelah kiri, Selena menggendong Zayn, dalam foto itu Selena mencium pipi Zayn dengan gemas, lalu disebelahnya ada Kris dan Harris yang tak membawa pasangan.
Author tidak tahu kenapa Haris kembali datang seorang diri dipernikahan sahabatnya. Sepertiya hubungannya dengan Dira tidak berhasil.
"Jas, aku ingin ke toilet dulu." bisik Jihan pada sang pengantin wanita.
"Pergilah ke toilet di kamarku saja." bisik Jasmin pula dan Jihan mengangguk.
Dengan sedikit berlari Jihan menuju lantai 2 rumah ini, buru-buru mendatangai kamar Jasmin karena ia sudah tidak tahan untuk pipis.
Sampai di kamar Jasmin, ia langsung buru-buru ke toilet.
Tak berapa lama urusannya selesai, dan betapa terkejutnya Jihan saat ia keluar disana sang suami sudah menunggu.
"Mas, kenapa disini? kamu buat aku kaget, ku pikir siapa," keluh Jihan sambil berjalan mendekat.
"Aku khawatir denganmu, di rumah ini ramai banyak orang, bagaimana kalu kamu kenapa-kenapa." jawab Arick perhatian dan Jihan langsung tersenyum dibuatnya.
"Terima kasih sayang, yuk kita keluar, aku sudah selesai pipis," ajak Jihan.
Ia lalu memeluk lengan sang suami dan mulai berjalan.
Namun kakinya terhenti ketika merasakan sang suami tidak melakukan pergerakan.
__ADS_1
"Mas," Jihan menoleh dan seketika tatapan keduanya bertemu, terkunci.
"Kamu masih ingat apa yang kita lakukan saat pernikaham Selena?" tanya Arick dan Jihan langsung merona tak bisa menjawab, malu.
"Sekarang aku akan melakukan lebih." ucap Arick lalu dengan cepat ia mengikis jarak. Menyesap bibir sang istri dengan tidak sabaran.
Jihan yang terkejut hanya bisa pasrah, hanya menurut saat sang suami menarik dan membaringkannya di atas sofa kamar itu.
"Mas, apa yang kamu lakukan? ini di rumah Jasmin sayang," Jihan coba mengingatkan saat sang suami mulai menyingkap gaunnya keatas.
"Aku sengaja melalukan ini, agar dipernikahan Selena dan Jasmin yang kamu ingat bukan tentang kemewahannya, melainkan tentang kita." jawab Arick dengan mata yang sudah berkabut.
Jihan pasrah, saat tangan sang suami terus bergerak menjamah tubuhnya. Hingga lambat laun suara desahan itu pun lolos juga.
Keduanya menyatu, dengan perlahan Arick terus mengehentak tubuh istrinya, hingga dada yang terbuka itu ikut naik turun, bergerak sesuai hentakkanya.
"Mas," panggil Jihan saat gelombang itu nyaris datang.
Arick tersenyum, lalu bergerak semakin cepat hingga pelepasan itu mereka raih bersama-sama.
Keduanya terengah, deru napas itu merdu saling bersahutan.
Jihan memukul lemas lengan suaminya yang masih mengunci dirinya. Bukannya kesal, Arick malah terkekeh.
"Aku mencintaimu Ji," ucapnya tulus.
Jihan tak menjawab, hanya mencebik. Meski ia juga menikmati sentuhan itu tapi tetap saja masih merasa kesal, mereka berbagi peluh di kamar pengantin orang lain.
Melihat Jihan yang mencebik dan tak membalas kata cintanya, Arick kembali menghentak sesuatu dibawah sana yang masih belum terlepas.
Hingga membuat Jihan meringis.
"Aku mencintaimu Mas, sangat cinta." jawab Jihan akhirnya.
Arick kembali terkekeh, ternyata kata cinta itu tak menghentikan niatnya. Ia masih terus mencari pelepasan itu lagi.
Jihan kalah, karena ia kembali mendesah. Bahkan dadanya membusung meminta sang suami untuk menjangkaunya.
__ADS_1
Dan terjadilah percintaan itu lagi, dengan desahan yang semakin menggila.