Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 103


__ADS_3

Selesai dengan baby ZAJ, Jihan menyusul sang suami yang berada di dalam kamar.


Sampai disana, ia tak melihat siapa-siapa. Hanya terdengar sayup-sayup gemricik air di dalam kamar mandi. Jihan lalu memutuskan untuk langsung ganti baju.


Hingga 5 menit kemudian, Arick keluar dengan badan yang segar. Masih menggunakan handuk yang melilit setengah tubuhnya, ia menghampiri sang istri dengan senyuman.


"Seger habis mandi," ucapnya sambil memeluk tubuh sang istri dari arah belakang.


Jihan yang duduk di meja rias hanya mencebik mendapati perlakuan sang suami ini.


Salah sendiri berbuat mesum di rumah orang, pulang badan lengket semua. Keluh Jihan di dalam hati.


Ia lalu kembali melanjutkan aktifitasnya, menghapus riasan wajah yang lumayan tebal.


"Sayang, Kris dan Jodi mau ajak kita triple honeymoon, ke Paris, mau tidak?" tanya Arick, ia menciumi ceruk leher sang istri dari arah samping hingga membuat Jihan kegelian.


"Kalau liburan aku mau, tapi kalau honeymoon BIG NO!" jawab Jihan dengan suara tegas.


Arick mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada sang istri melalui cermin di hadapan mereka.


"Kenapa?" tanyanya minta penjelasan.


"Pikir saja sendiri," kesal Jihan dengan wajah cemberut.


Arick tak kuasa untuk tidak tertawa.


"Baiklah, kita hanya liburan bersama anak-anak, biar yang honeymoon mereka saja_"


"Bohong," balas Jihan cepat.


Dan Arick makin tergelak.


"Kan sayang Ji, masa sudah KB tapi tidak tempur tiap hari," ucap Arick mencari pembenaran.


Kesal, Jihan lalu mencubit lengan suaminya dengan gemas.


"Dulu perasaanku Mas tidak semesum ini, tapi kenapa sekarang berubah?" ucap Jihan sambil mengingat-ngingat masa lalu.


"Pria itu semakin bertambah usia, semankin menjadi-jadi sayang. Kalau awal-awal kan masih latihan, itu sih kalau kata Asraf."


"Asraf siapa?" tanya Jihan cepat.


"Itu loh, cucunya kakek Bizar, Masih Kecil, Menikah." terang Arick dan Jihan menganggukan kepalanya.


Kakek Bizar yang belum lama ini meninggal, waktu itu Sofia dan Mardi pun ikut datang ke pemakaman kakek Bizar.


"Sudah selesai, aku mandi dulu ya Mas," pamit Jihan saat riasan itu sudah ia hapus semua.


Tanpa banyak perdebatan, Arick melepaskan sang istri untuk membersihkan tubuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari.

__ADS_1


Setelah isya', Huda datang ke rumah tuannya untuk mengantarkan beberapa berkas. Beberapa hari lalu perusahaan Arick sudah mengadakan rapat bulanan, namun karena ada urusan akhirnya Arick tidak bisa datang.


Hasil rapat itulah yang dibawa Huda kesini malam ini.


Sebelumnya, Huda sudah diperkenalkan kepada seluruh penghuni rumah, bahwa Huda adalah sekretaris pribadi Arick. Huda akan sering keluar masuk rumah ini sebagai perantara antara Arick dan perusahaan.


Awal memasuki rumah, Huda langsung curi-curi pandang. Mencari keberadaan gadis yang sudah mencuri hatinya dulu kala.


Tiap kali ia kesini, entah kenapa tidak ada kesempatan untuk bicara. Padahal Huda selalu berusaha datang di waktu yang tepat.


Tapi sayangnya, dia datang di waktu yang selalu salah.


Pagi hari, gadis itu sibuk mengurus Anja dan Jani.


Agak siang sedikit, ia memberikan Asi pada Anja dan Jani.


Saat siang, gadis itu ikut beristirahat dengan Anja dan Jani.


Sore sedikit, ia menemai Anja dan Jani bermain.


Nah, hari ini Huda mencoba datang di malam hari.


"Mas, pak Arick sudah menunggu di ruang kerjanya, tidak ada di bawah," jelas Puji mengagetkan Huda yang sedang mencari-cari.


"Maaf Mbak, saya kira ada di ruang tengah," jawab Huda kikuk, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


Dengan perasaan kecewa, Huda akhirnya berbalik dan menuju anak tangga, naik ke lantai 2.


"Kalau sudah masuk ruangan Tuan, aku tidak akan bisa bertemu gadis itu lagi," gumamnya dengan langkah yang lesu.


Tak ingin hilang kesempatan, ia langsung berlari naik dan menghalang jalan gadis itu.


"Astagfirulahalazim," ucap Melisa terkejut hingga memegangi dadanya yang berdetak lebih cepat.


"Mas Huda kenapa berlari seperti itu?" tanya Melisa sedikit heran. Ya, Melisa memang sudah tahu nama pria ini, karena waktu itu Arick sudah memperkenalkannya.


Tapi Huda belum tahu siapa nama gadis dihadapannya ini.


Huda tersenyum, senyum yang sangat lebar. Sampai-sampai membuat melisa makin mengeryit bingung.


"Kenalkan, namaku Huda," ucap Huda seraya mengulurkan tangannya.


"Aku sudah tahu," desis Melisa aneh.


"Tapi aku belum tahu namamu," jawab Huda cepat.


Oh iya ya. Batin Melisa seraya menerima uluran tangan itu, "Melisa," jawabnya kemudian.


"Nama yang cantik," puji Huda memulai aksinya.


Ditatap sedalam itu dan disebut nama yang cantik membuat melisa merona seketika.


Playboy. Batin Melisa setelah kesadarannya kembali. Buru-buru ia menarik tangannya dan pamit untuk turun.

__ADS_1


Turun dengan menggerutu.


"Mentang-mentang tampan sukanya merayu, pasti kekasihnya banyak sekali diluar sana," gerutu Melisa dengan bibir yang cemberut.


Sementara Huda terus saja tersenyum menyaksikan gadis pujaannya yang berjalan menuruni anak tangga dengan sedikit berlari.


Tanpa mengulur waktu, Huda langsung berjalan melanjutkan niatnya menuju ruangan sang tuan dengan semangat 45.


"Tangga keberuntungan," desisnya sambil terus mengulum senyum, khas orang kasmaran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


1 minggu kemudian.


Jam 9 pagi hari.


Jodi kembali menghubungi Arick untuk membicarakan tentang triple honeymoon mereka.


Ponsel Arick terus bergatar di atas nakas kamar, sementara sang pemilik sedang asik bermain dengan baby ZAJ di ruang keluarga.


Jihan yang baru memompa Asi mendekati ponsel itu dan melihat ada panggilan masuk dari Jodi.


"Jodi," gumamnya saat melihat ponsel itu.


Namun tak enak hati untuk menjawab, akhirnya diabaikanlah panggilan itu.


Setelah membereskan semua peralatan pompa Asi, Jihan lalu turun ke bawah sekaligus membawa ponsel milik sang suami.


Sampai di ruang keluarga, ternyata ada Sofia juga disana.


"Mas, ada telepon dari Jodi," ucap Jihan seraya duduk di di samping sang suami diatas karpet tebal ruangan itu.


"Apa katanya?"


"Tidak ku angkat," jawab Jihan dengan tersenyum kikuk.


"Kan sudah ku bilang, angkat saja kalau mereka yang telepon," jelas Arick, namun Jihan tak menjawab, hanya tersenyum menampakkan deretan giginya.


Lalu mengambil salah satu mainan baby ZAJ dan mulai ikut bermain.


"Aku telepon Jodi dulu ya," pamit Arick seraya mengelus pucuk kepala sang istri dan Jihan mengangguk.


Arick sedikit menjauh, karena kalau menelpon di dekat Zayn pasti akan diganggu. Anak itu rasa penasarannya begitu tinggi, apalagi pada benda pipih yang namanya ponsel.


Tanpa babibu, Arick langsung kembali menghubungi Jodi, ia duduk di kursi dekat telepon rumah. Dari tempatnya duduk ia masih bisa melihat Jihan dan anak-anak.


Berulang kali Arick mencoba menghubungi namun panggilannya tidak dijawab. Panggilan yang terakhir bahkan ditolak dengan cepat.


Malah ada sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.


Jodi:


Nanggung.

__ADS_1


"Astagfirulahalazim," ucap Arick setelah membaca pesan itu.


Ia mengelus dada, Sabar, batinnya.


__ADS_2