Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 138


__ADS_3

Flashback on


Sepuluh hari setelah kepergiannya dari mansion ibu mertuanya. Karina membuka matanya perlahan yang terasa berdenyut. Namun dia tetap memaksa membuka matanya. Dia mengerjap perlahan menatap sekeliling ruangan yang bernuansa dominan putih namun bau obat terasa menyengat.


Rumah sakit? Batin Karina tak mampu berkata-kata. Dia sudah bisa menebaknya akan berakhir di rumah sakit. Ingatan terakhir di benaknya dia pingsan di jalanan saat dia berlari keluar dari mansion sang ibu mertuanya.


"Kau sudah siuman?" Tanya suara yang terasa familiar di telinganya membuat Karina seketika menoleh menatap wajah yang dikenalnya itu.


"Dokter." Lirih Karina hampir tak terdengar.


"Syukurlah, akan kupanggilkan dokter sebentar." Ucap dokter Ivan membuat Karina mengernyit, namun belum sempat dia bertanya dokter Ivan sudah pergi meninggalkannya. Dan tak lama kemudian dokter Ivan bersama dengan seorang dokter pula namun wajah bulenya terlihat jelas meski dokter Ivan juga keturunan blasteran juga. Bukan itu yang menjadi pertanyaan di benak Karina namun


Bukannya dokter Ivan adalah seorang dokter? Kenapa bukan dia yang memeriksanya langsung, bukannya dia yang bertanggung jawab dengan pengobatannya selama ini? Kenapa malah bukan dokter Ivan yang memeriksanya sendiri. Batin Karina bergejolak ingin bertanya langsung namun suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Susah sekali untuk bicara.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya dokter Ivan pada dokter bule tadi dengan bahasa Inggris yang kental dan tentu saja Karina pun memahaminya juga. Kemudian dokter Ivan mengantar dokter bule tadi yang bernama dokter Albert.


Dari percakapan yang didengar Karina tadi, dokter Albert mengatakan kalau kondisi tubuhnya sudah mulai stabil dan pengobatan bisa dimulai besok dengan pemeriksaan sekali lagi memastikan kalau tubuhnya baik-baik saja. Karina semakin mengernyitkan dahinya bingung. Dan beberapa dia menatap ke arah pintu berharap seseorang yang diharapkannya segera masuk dari pintu kamar perawatan VVIP.


Namun seberapa lama dirinya menunggu, seseorang yang diharapkannya tidak muncul. Malah beberapa menit kemudian, dokter Ivan kembali masuk ke dalam kamar perawatannya. Dan hal itu lagi-lagi membuat Karina mengernyitkan dahi bingung.


"Dokter Albert mengatakan kalau kondisimu mulai stabil dan dia akan memulai pengobatannya besok setelah memastikan sekali lagi kondisimu benar-benar stabil." Jelas dokter Ivan tersenyum lebar penuh semangat membuat Karina kembali mengernyitkan dahi bingung. Entah kenapa reaksi dokter Ivan membuatnya penasaran akan satu hal. Dokter Ivan yang dingin sekarang tidak ada lagi.


"Dokter." Panggil Karina lembut setelah dokter Ivan selesai bicara.


"Ya?"

__ADS_1


"Dimana suamiku?" Pertanyaan Karina membuat senyum dokter Ivan memudar berganti dengan wajah sendu dan sedikit ada kemarahan yang ditahan. Karina hanya menatap dokter Ivan dengan wajah tanpa dosa menunggu jawaban dokter Ivan.


"Dia sudah bangun?" Suara dokter Nathan menginterupsi keduanya yang membuat dokter Ivan sontak menoleh ke arah suara.


"Papa sudah datang?" Tanya dokter Ivan merasa tertolong karena tak perlu menjawab pertanyaan Karina yang membuatnya mungkin emosi mendengar penjelasan dari sang papa saat menemukan Karina meski dia sedikit ragu.


"Hmm." Jawab dokter Nathan beralih menoleh menatap Karina yang juga menatapnya bingung, Karina beralih menatap dokter Ivan tanpa berkata apapun menunggu penjelasan dokter Ivan.


"Dia tidak ada disini." Jawab dokter Nathan tegas sedikit mendengar pertanyaan Karina yang membuat dokter Ivan kesulitan menjawab.


"Dokter Nathan, selamat... ah siang." Sapa Karina sopan dan ramah.


"Selamat siang juga." Dokter Nathan balik menyapa.


"Tadi maksud anda yang tidak ada di sini siapa ya dok?" Tanya Karina sopan sedikit gugup. Berharap hal yang dicemaskan tidak terjadi. Kalau suaminya lagi-lagi tidak berada di sisinya saat dibutuhkan.


"Pa." Tegur dokter Ivan mengingatkan papanya untuk tidak terlalu keras kepada Karina. Dokter Nathan tidak menjawab hanya memalingkan wajahnya ke arah lain. Dokter Ivan yang tahu papanya tidak akan menjelaskan tentang Karina, memilih untuk dia maju mulai menjelaskan duduk permasalahannya.


Dokter Ivan memilih duduk di kursi dekat ranjang Karina menggenggam jemari tangan Karina namun langsung ditarik paksa oleh Karina merasa bersalah pada suaminya seolah sedang berselingkuh.


"Huff... Karina." Sebut dokter Ivan menatap Karina lekat. Bingung ingin memulai pembicaraan dari mana.


"Begini..." Dokter Ivan terlihat ragu untuk bicara dia menoleh pada papanya namun tetap hanya diam menatap datar pada Karina yang hanya meliriknya, itupun karena dia menatapnya. Karina hanya diam mengikuti arah pandang dokter Ivan yang ragu untuk bicara semakin membuat Karina penasaran pada kedua orang itu.


"Kami adalah keluargamu. Aku..." Dokter Ivan menunjuk pada dirinya sendiri ke dadanya. "... adalah kakakmu. Kakak kandungmu. Dan beliau..." Dokter Ivan menunjuk pada dokter Nathan yang masih menatap datar pada Karina tanpa ekspresi. "... adalah papamu. Papa kandungmu." Jelas dokter Ivan yang langsung bernafas lega dan menatap Karina yang masih terdiam tak menjawab seolah mencerna ucapan dokter Ivan.

__ADS_1


"Dokter." Panggil Karina setelah beberapa lama terdiam.


"Ya?" Kaget dokter Ivan mendapat panggilan Karina yang membuatnya entah kenapa bergidik, mungkin dia belum siap jika harus mendapat penolakan dari adiknya yang telah lama berpisah.


"Bercanda anda sangat tidak lucu." Ucapan Karina seketika membuat dokter Ivan melongo tak percaya dan Karina tertawa geli menatap keduanya bergantian. Dokter Nathan menghembuskan nafas kasar.


"Itulah yang sebenarnya. Dan hal itu bukan candaan." Suara tegas dokter Nathan membuat tubuh Karina membeku di tempat. Kedua pria yang ada di hadapannya ini, yang menjadi dekat dengannya karena penyakitnya menyatakan bahwa mereka keluarganya, keluarga kandungnya, keluarga yang telah lama ditunggu Karina, keluarga yang telah lama berpisah sejak dia kecil. Dan sekarang dengan entengnya mereka memperkenalkan mereka padanya seolah mereka baru berpisah beberapa hari yang lalu.


Karina beralih menatap dokter Nathan yang membuat tubuhnya kembali menegang kaku. Terlihat raut wajah serius, tegas dan datar. Sama persis dengan dokter Ivan hanya dokter Ivan adalah versi mudanya dokter Nathan.


"Mungkin jika kalian mengatakan bahwa kalian ayah dan anak mungkin saya akan percaya." Ucap Karina lagi masih belum percaya sepenuhnya ucapan kedua dokter berbeda generasi tersebut.


"Kami memang ayah dan anak. Dan kamu juga anak saya, adik dari dokter Ivan." Jelas dokter Nathan yang lagi-lagi membuat Karina terdiam.


"Tolong panggilkan suami saya! Saya ingin bicara dengannya." Sela Karina masih tak menggubris kenyataan tentang keluarga kandungnya.


"Sudah kukatakan kalau dia tidak ada disini. Dan papa tidak akan membiarkan dia ada disini." Tegas dokter Nathan menatap Karina dengan tatapan datar dan dingin.


"Anda tidak berhak melarang saya untuk bertemu dengan suami saya. Dia sekarang suami saya, dia lebih berhak atas saya. Meski kalian benar-benar keluarga kandung saya." Sangkal Karina marah entah karena apa. Dia menjadi lebih tegas seperti sebelumnya.


Dokter Ivan sontak meredakan emosi keduanya karena tak mau membuat Karina kembali tertekan dan stres dan kembali menunda pengobatannya.


"Papa, hentikan! Karina sedang sakit, dia butuh untuk mengontrol emosinya." Dokter Nathan terdiam, ucapan dokter Ivan benar, putrinya butuh waktu untuk memikirkan hal ini. Dokter Nathan pun memilih untuk keluar dari kamar perawatan Karina tanpa permisi masih dengan wajah datar tanpa ekspresi.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2