
Malam harinya.
Grup WhatsApp Wanita Tercantik di Dunia.
Selena: Ji, besok aku kirim baju seragam untuk acara pernikahan ku. Katakan pada Arick, dia harus pakai Jas yang ku kirim itu. Jangan beli baju lagi dengan warna senada denganmu. 10 hari lagi aku menikah, jadi jangan banyak ulah.
Jasmin: Yang seharusnya jangan banyak ulah itu kamu. Oh iya Ji, 3 hari lagi aku dan Selena tidak bekerja di hotel, kami memutuskan untuk keluar.
Lama Selena menunggu balasan pesan itu dari Jihan, tapi seperti ditelan bumi, sampai 5 menit berlalu. Jihan tak kunjung muncul. Percayalah, saat sedang chatingan seperti ini, 5 menit itu lamaaa sekali, mungkin seperti 5 jam.
Selena melirik jam di pergelangan tangan kirinya, masih jam 8 malam. Belum terlalu larut, tidak mungkin kan Jihan sudah tidur.
Selena: Ji, kamu dimanaa? nanti Jasmin akan membantu Jodi bekerja di Cafe. Sementara aku jadi ibu rumah tangga sama sepertimu.
Jasmin: Sudahlah Len, Jihan jangan dicari lagi. Saat kamu sudah menikah nanti aku yakin kamu juga akan jadi seperti Jihan. Suka menghilang di jam malam, wkwkwkwkwk.
Selena: Pffttt.
Drt drt drt
Drt drt drt
"Mas, itu ponselku bergetar terus. Mungkin ada pesan penting." ucap Jihan pada sang suami.
Kini mereka sedang duduk bersama di atas karpet tebal di kamar, sehabis shalat isya tadi, Arick mengambil Zayn dan diajaknya untuk masuk ke kamar mereka.
Kini sang ibu, ayah dan satu anaknya ini sedang duduk dan saling bercengkrama.
Ponsel Jihan berada persis disamping Arick, namun tak diindahkan oleh suaminya itu. Tadi Arick sudah mengintip, tahu jika itu semua pesan dari Jasmin dan Selena.
"Tidak penting sayang, percayalah," jawab Arick tanpa menoleh pada sang istri.
Ia masih asik bermain dengan Zayn, merubah mobil-mobilan mejadi robot. Sesekali Arick menjelaskan tiap bagian mobil itu, mulai dari ban, kaca, pintu dan yang lain-lain.
Saat sudah menjadi robot, ia juga menjelaskan bagian-bagianya. Mulai dari kepala, tangan dan kaki.
Jihan yang melihat itu hanya tersenyum, ketertarikannya pada ponsel langsung menghilang begitu saja.
"Anja dan Jani sudah tidur, Mas?"
"Sudah, kamu lupa? sampai usia 3 bulan, Zayn dulu juga selalu tidur, bangun hanya untuk meminta Asi dan tidur lagi. Begitulah Anja dan Jani sekarang." jelas Arick.
__ADS_1
Mendengar itu Jihan mengulum senyum, rasanya bahagia sekali saat sang suami lebih memahami anak-anak dibanding dirinya.
"Oh iya Ji, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." ucap Arick, ia mengangkat kepala dan menatap netra sang istri.
Jihan berkedip, lalu membalas tatapan sang suami itu.
"Apa?" tanyanya penasaran.
Arick tak langsung menjawab, ia bergerak memposisikan duduknya sempurna. Satu tangannya terulur untuk mengambil tangan sang istri dan digenggamnya erat.
"Maafkan aku," ucap Arick sendu, benar-benar merasa bersalah akan sesuatu. Sesuatu yang tak dapat ia ubah lagi agar menjadi lebih baik.
"Maaf? untuk apa? Mas melakukan apa tadi?" cerca Jihan, ia mengeryit bingung. Tapi ada sedikit kemarahan dihatinya yang menggelitik. Maaf artinya ada kesalahan, dan ia benar-benar ingin tahu apa kesalahan itu.
Jihan makin gelisah, ketika ia mendengar helaan napas berat dari sang suami.
"Maaf, karena dulu aku tidak menikahi mu dengan layak." ucap Arick lirih.
Jihan terdiam, masih gamang.
"Awal mulanya kita hanya menikah siri, bahkan hanya digelar di ruang tamu rumah ini dan hanya dihadiri oleh segelintir orang, hanya keluarga inti ..."
"Tidak ada bunga, tidak ada sorot lampu, bahkan kamu hanya memakai gaun putih sederhana kala itu ..."
"Kenapa Mas membahas itu?" tanya Jihan sekali lagi.
"Karena nanti kamu akan melihat pernikahan mewah kedua sahabatmu, Selena dan Jasmin. Tiap ingat itu, aku jadi sangat merasa bersalah padamu." jelas Arick jujur, ia bahkan sedikit menunduk merasa malu.
Malu karena tidak memberikan pernikahan yang layak.
Jihan tersenyum, satu tangannya terulur untuk mengangkat dagu sang suami hingga kedua mata mereka kembali bertemu.
"Baiklah, aku akan memaafkan Mas Arick." ucap Jihan masih dengan tersenyum. Ia tahu suaminya ini butuh dimaafkan. Meski sebenarnya itu bukanlah masalah baginya. Tapi rasanya menjelaskan pun percuma, sang suami terlanjur diselimuti rasa bersalah.
"Tapi sebagai gantinya, Mas harus mencintai aku seumur hidup." Timpal Jihan lagi dengan senyum yang semakin lebar.
Mendengar itu Arick terkekeh pelan, tanpa diminta pun ia akan melakukan hal itu.
Arick mendekat dan mencium kening Jihan sekilas. Ia mundur perlahan dan kembali ditatapnya netra sang istri lekat-lekat.
"Terima kasih." ucap Arick tulus.
__ADS_1
"Terima kasih karena dulu kamu sudah menerimaku. Insya Allah, sekarang, nanti dan selamanya hanya ada aku, kamu dan anak-anak. Kita, jodoh sampai di surga."
Jihan terenyuh, kata-kata sang suami selalu saja bisa membuat hatinya melayang dengan tenang.
Keduanya saling tatap dengan senyum yang tak surut-surut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Arick kembali ke kantor, mungkin sebulan kedepan ia akan rutin untuk masuk kerja. Setelah itu baru ia bisa seperti Mardi yang hanya datang sesekali.
Pagi ini juga, rencananya Sofia dan Mardi hendak pergi ke Jogja, mereka berdua ingin berziarah ke makam kakek dan nenek Arick.
Rencananya juga, Sofia dan Mardi disana akan tinggal selama 2 minggu. Sengaja berlama-lama karena mereka hendak liburan, mengenang masa kecil mereka saat tinggal di Jogja.
Karena Arick sudah menggantikan Mardi, jadi Mardi menyanggupi keinginan sang istri itu.
"Jadi yang ikut ke Jogja pak Amir apa Dimas?" tanya Mardi pada kedua supir itu. Mereka akan berangkat jam 10 pagi, kini masih mempersiapkan beberapa barang bawaan.
"Saya saja Tuan, biar Dimas tinggal di rumah." jawab Amir.
Dimas hanya mengangguk, menyetujui. Sebenarnya jika ia yang disuruh pergi pun tak masalah. Karena memang inilah pekerjaannya.
"Ya sudah, kamu siapkan baju-bajumu. Kita disana lama lo, 2 minggu." jelas Mardi.
Saat Amir hendak berlalu untuk mempersiapkan baju-baju, datanglah Arick dan Jihan di ruang tengah ini.
"Loh, yang ikut pak Amir? kenapa bukan Dimas saja?" tanya Arick menginterupsi.
Membuat jalan Amir terhenti seketika.
"Lebih baik Dimas yang pergi, dia masih muda, lebih bisa melindungi papa dan ibu disana. Iya kan Dim?" tanya Arick pada Dimas dengan tatapan yang tak bisa digambarkan.
Dimas mengangguk kikuk, hawa-hawanya majikannya yang satu ini tak menyukai dirinya.
"Iya Pak." jawab Dimas canggung.
Melisa dan Asih yang ikut mendengar pembicaraan itu saling pandang, saling menunjukkam kekecewaan.
Baru sehari bertemu, kini mereka harus berpisah dengan si supir tampan.
Mardi yang mendengarkan alasan Arick juga setuju, sepertinya memang lebih baik Dimas yang ikut.
__ADS_1
"Ya sudah, pak Amir tidak jadi ikut ya, biar Dimas yang ikut saya." Final Mardi dan Arick langsung tersenyum lebar.