
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya sekuriti yang merangkap sebagai bodyguard Karina yang berjaga di depan rumah.
"Aku mau bertemu Karina." Ucap dokter Nathan to the point sambil membuka kacamata hitamnya dengan tenang.
Sekuriti tersebut menghampiri mobil mewah tersebut sambil menuju kaca jendela belakang mobil. Saat melihat mobil mewah itu berhenti di depan rumah majikannya dia pun langsung waspada. Apalagi dia merasa asing dengan mobil mewah tersebut.
"Maaf, saya tidak bisa sembarangan membuka pintu." Tegas sekuriti berdiri tegak yang awalnya tubuhnya condong ke jendela mobil yang dibuka kacanya sedikit.
"Huff... jangan paksa saya untuk menggunakan kekerasan." Ancam dokter Nathan mulai terpancing emosinya.
"Maaf, siapa anda?" Tanya sekuriti tersebut sekali lagi.
"Dokter Nathan, katakan pada tuanmu!" Titah dokter Nathan.
"Sebentar tuan." Sekuriti tersebut mengambil ponselnya yang ada di saku celananya melakukan panggilan pada tuannya sebelum meminta izin pada sang nyonya majikan.
Namun sudah lebih dari lima kali namun panggilannya tidak diangkat. Sekali lagi dia mencobanya namun tetap tidak diangkat, hanya operator yang menjawab.
"Buka saja, dia sudah mengenalku!" Titah dokter Nathan lagi melihat sekuriti gagal menghubungi tuannya.
"Tapi?"
"Dia juga mengenalku, aku adalah pemilik rumah sakit kota tempat tuanmu dulu pernah bekerja sebagai dokter sebelum menjadi seorang suami." Jelas dokter Nathan.
"Saya akan menghubungi nyonya sebentar."
"Terserahlah!"
Panggilan kedua sekuriti diangkat oleh Karina yang saat itu sedang melamun di dekat jendela kamarnya, setelah menyelesaikan semua pekerjaan meski tidak semuanya karena dikerjakan oleh asisten rumah tangganya yang diwanti-wanti oleh suaminya untuk melarangnya melakukan pekerjaan rumah.
"Assalamualaikum." Jawab Karina dengan nada lembut di seberang.
"Wa'alaikum salam nyonya, ini... ada tamu untuk nyonya." Ucap sekuriti tersebut.
"Siapa?"
__ADS_1
"Dokter Nathan." Karina terdiam sejenak mengingat-ingat siapakah dokter Nathan. Saat dia ingat dokter Nathan adalah pemilik rumah sakit tempatnya dirawat Karina langsung terkejut.
"Antar beliau masuk!" Titah Karina.
"Tapi tuan belum tahu kalau ada tamu nyonya?" Seketika Karina terdiam. Dia tak mungkin membawa tamu masuk sebelum mendapat izin dari suaminya apalagi tamu seorang pria meski orang itu adalah orang yang menyelamatkan hidupnya disaat darurat. Karina menghela nafas panjang, merasa bersalah karena harus menolak tamu tersebut.
"Katakan jika lain kali kalau mau bertemu sebaiknya temui saat suami saya di rumah. Sampaikan permintaan maafku pada beliau." Ucap Karina penuh penyesalan.
"Baik nyonya."
Sekuriti tersebut mendekati mobil dokter Nathan menyampaikan jawaban sang nyonya.
"Maaf tuan, nyonya menolak bertemu dengan anda jika tidak bersama dengan suaminya." Ucap sekuriti tersebut penuh sesal.
"Apa kau bilang?" Seru dokter Nathan marah merasa ditolak.
"Maaf tuan, saya hanya menyampaikan perintah." Sesal sekuriti tersebut.
"Tuan, ada baiknya kita menemuinya saat dengan suaminya. Bagaimana pun juga nona Karina adalah seorang muslimah yang taat, beliau tetap akan menolak tamu untuk masuk ke dalam rumahnya tanpa izin suaminya. Apalagi tamunya seorang pria." Jelas Ramon, asisten dokter Nathan yang sedikit banyak tahu tentang ajaran agama seorang muslim karena dia juga beristri seorang muslim.
"Tapi nona Karina belum mengetahuinya tuan." Bujuk Ramon meredam kemarahan majikannya.
"Huff... kita pulang!" Ucap dokter Nathan mengalah sambil menatap amplop putih di tangannya yang berlogo rumah sakit miliknya. Hasil tes DNA putrinya, Karina.
.
.
"Ada apa kau mencariku ke perusahaan?" Tanya Johan setelah makan siang dengan klien dia mampir ke tempat Riko biasa bekerja. Riko tak mungkin datang sampai ke perusahaan kalau tidak ada hal yang penting. Meski dia tahu dimana alamat rumahnya juga, Johan melarang datang ke rumah kalau memang ada hal yang mendesak karena tak mau istrinya salah paham.
"Bos, kemana ponselmu? Aku berulang kali menghubungi ponselmu." Ucap Riko meninggalkan keyboardnya.
"Katakan ada apa! Kalau bukan hal penting aku akan memotong gajimu." Ucap Johan sambil duduk di sofa dekat meja kerja Riko.
"Bos tahu sendiri, aku tak akan datang ke perusahaan kalau bos bisa dihubungi ponselmu."
__ADS_1
"Katakan cepat!"
"Aku sudah menangkap dalang penculikan istri bos." Johan sontak mendongak menatap Riko tak percaya. Sepanjang pekerjaan yang diambil Riko selalu tidak pernah gagal dan dia juga tidak akan bercanda mengenai hal penting.
"Serius?" Tanya Johan memastikan pendengarannya. Dia memang sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran pada orang yang merencanakan penculikan istrinya yang bahkan hampir saja berani melecehkan istrinya.
"Bos bisa percaya padaku."
"Dimana dia?" Tanya Johan tak sabaran mulai mengepalkan kedua tangannya.
"Bos tidak akan percaya jika melihat siapa dalang penculikan itu." Ucap Riko tersenyum seringai.
"Dimana dia?"
"Dia ada di markas. Mereka mungkin sudah babak belur." Ucap Riko enteng.
"Mereka?" Tanya Johan mengernyitkan dahinya.
"Ya, mereka dua orang. Tapi saya yakin salah satunya baru terlibat. Karena dia ingin melindungi dan menanggung semua kesalahan dalang utama."
"Brengsek." Umpat Johan kesal.
"Bos mau bertemu sekarang?" Tanya Riko.
"Tentu saja."
"Bukankah bos sedang sibuk?"
"Ah, ****. Besok kita menemuinya. Ada meeting penting setelah ini. Jangan biarkan mereka lolos!" Ucap Johan dingin menatap Riko.
"Siap bos." Johan terpaksa pergi ke perusahaan karena meeting penting. Kalau tidak mungkin dia ingin segera membunuh para baju*ngan tengik itu.
.
.
__ADS_1
TBC