
Selama 3 hari berturut, keluarga Faruq menggelar doa Yasinan untuk sang ibu. Tiap harinya Jihan dan Arick datang, mengirim doa bersama para tetangga.
Bahkan di hari ketiga ini, semua teman-teman Jihan dan Arick menyempatkan untuk datang ke rumah ini, Jodi dan Jasmin, Selena dan Kris, juga Haris.
Menjelang isya', Yasinan itu selesai, setelah para tetangga meninggalkan rumah ini, kini giliran Jodi dan teman yang lainnya pamit untuk pulang.
Jihan dan Arick mengantar mereka semua hingga di halaman rumah.
Sebelum benar-benar berpisah, Jasmin dan Selena kembali memeluk Jihan dengan erat. Ketiganya saling memeluk, saling memberi kekuatan satu sama lain.
"Terima kasih ya sudah datang," ucap Jihan yang tidak enak hati, pasalnya rumah ini berjarak cukup jauh dari rumah mereka semua, membutuhkan waktu perjalanan selama 1 jam.
"Jangan berterima kasih, lagipula aku dan Jasmin tidak merasa keberatan sedikitpun," jawab Selena cepat.
"Iya, lagipula yang menyetir kan suami-suami kita, kalau kita lelah tinggal tidur," timpal Jasmin yang mencoba mencairkan suasana.
Ia berhasil, Jihan dan Selena kompak terkekeh pelan.
"Mungkin yang keberatan Haris, karena dia tidak ada yang menemaninya dalam perjalanan panjang saat pulang," ledek Selena sedikit berbisik, jarak ketiga wanita ini memang cukup berdekatan dengan para pria. Sama-sama berdiri di halaman rumah disamping mobil mereka semua.
"Salah, bukam keberatan, tapi kedingingan," sanggah Jihan dan langsung membuat Jasmin serta Selena tergelak.
Tawa keras kedua wanita itu langsung mencuri perhatian para suami, mereka semua mengeryit bingung.
Kadang tiga wanita itu nampak sedih, lalu tiba-tiba menangis dan tak lama kemudian langsung tertawa. Perubahan yang begitu cepat. Batin mereka semua kompak.
Lain para wanita, lain pula para pria.
__ADS_1
"Sebaiknya kita tunda dulu untuk pergi bulan madu," ucap Jodi memulai pembicaraan, selain suasananya yang tidak mendukung, ia juga memikirkan nasib 1 sahabatnya yang begitu malang.
Haris si jomblo abadi.
"Iya, sebaiknya kita pergi setelah Haris menikah," jawab Arick yang ternyata mempunyai pemikiran yang sama dengan Jodi.
Yang jadi bahan pembicaraan hanya terdiam, awalnya memang terdengar seperti simpati. Namun Haris yakin, lama-lama ia akan di ledek.
"Berarti masih lama," desis Kris ikut buka saura dan Aric Jodi langsung terkekeh.
Kan, kan, mulai. Batin Haris.
"Sudah ayo pulang. Ji, kami pamit," ucap Haris dan Jihan langsung menoleh seraya mengangguk.
"Tidak berpamitan denganku?" tanya Arick menggoda dan Haris langsung memalingkan wajah.
Sudah ia duga akan begini.
Selesai dengan tawanya, akhirnya Jodi dan yang lainnya pamit untuk pulang. Sementara Arick dan Jihan, malam ini akan menginap disini.
Ketiga anak mereka pun ikut, lengkap dengan para babysister.
Sampai di dalam rumah, keduanya melihat Faruq yang sedang memberekan beberapa buku surat Yasin. Dengan telaten, ia mengambil beberapa buku yang masih berserak diatas karpet tebal.
"Mas," sapa Jihan, namun Faruq tak menoleh barang sedikitpun.
Arick dan Jihan lalu saling pandang, seolah saling mengatakan jika mas Faruq tidak mendengar sapaan itu. Meski tubuhnya bergerak, namun dengan pikiran kosong.
__ADS_1
"Mas," sapa Jihan lagi dengan suara yang lebih keras.
Seketika itu juga Faruq terkisap, ia langsung menatap ke arah sumber suara. Dilihatnya sang adik yang berdiri disana, melihat Jihan makin mengingatkannya pada sang ibu, Nami.
Karena Jihan begitu mirip dengan wajah ibu mereka.
Jihan dan Arick mendekat, hingga kini mereka saling berhadapan.
"Mas istirahat saja, biar ini saya yang bereskan," jelas Arick sungguh-sungguh. Meskipun Faruq tak pernah menangis atas kepergian sang ibu, namun Arick tahu jika Faruq begitu terpukul.
Ia hanya berusaha lebih kuat daripada sang adik.
Tanpa banyak berdebat, Faruq langsung mengangguk seraya memperlihatkan senyum tipisnya. Setelah itu ia berlalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan ruang tamu.
"Ji, besok sebelum pulang, bersikaplah yang biasa saja, jangan lagi menangis meski mengingat ibu," ucap Arick setelah Faruq menghilang dari hadapan mereka.
Jihan terdiam, untuk sekarang rasanya itu masih sulit.
Sekelebat saja ia mengingat sang ibu, air matanya mengalir tanpa permisi.
"Mas Faruq begitu mencemaskanmu, jadi jika tidak ingin membuatnya cemas, tunjukkanlah keihklasanmu," jelas Arick lagi dengan menatap dalam netra sang istri.
Lagi-lagi Jihan menangis, ia membenarkan ucapan suaminya itu. Dengan cepat ia mengangguk, lalu menghapus sendiri air matanya agar berhenti mengalir.
"Iya Mas," jawabnya patuh.
Arick tersenyum, lalu menarik sang istri untuk masuk kedalam dekapannya.
__ADS_1