Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 128


__ADS_3

"Kamu senang?"


"Senang nenek. Ine senaaaang... sekali." Ucap gadis itu dengan wajah cerianya tersenyum lebar sambil mendekap sebuah boneka beruang yang didekap di depan tubuhnya.


"Lain kali kita jalan lagi ya?" Jawab Ambar dengan senyum manisnya tidak menunjukkan raut wajah galak ataupun jutek seperti biasanya. Entah kenapa dia merasa bahagia juga bisa bersama cucunya dari almarhum putranya yang disayanginya.


"Kalau begitu kita masuk ke dalam rumah nenek, Ine menginap di rumah nenek kan?" Tanya Ambar sambil menggandeng tangan mungil Ine diikuti pengasuhnya sambil menenteng beberapa paper bag di kedua tangannya. Ine pun seketika menghentikan langkahnya menengok ke belakang menatap wajah sang pengasuh.


"Jangan cemas, nanti nenek akan memberi kabar mamamu!" Bujuk Ambar menatap pengasuh cucunya langsung beralih menatap cucunya yang menatapnya dengan tatapan mata polos.


"Ok nek." Jawab Ine sumringah dengan senyum bahagianya.


.


.


"Ibu." Panggil seseorang dari dalam mansion Ambar.


Ambar pun menoleh ke arah suara masih menggandeng tangan mungil Ine.


"Ada apa?" Johan sedikit terkejut melihat ibunya menggandeng seorang gadis kecil yang dikenal Johan. Dia pun beralih menatap pada gadis kecil itu tersenyum tipis namun seketika raut wajahnya berubah saat mengingat siapa gadis kecil itu.


"Bisa kita bicara?" Tanya Johan yang terdengar seperti nada memerintah.


"Ine sayang." Ambar menundukkan tubuhnya menyamai tinggi Ine.


"Ya nenek."


"Ine sekarang mandi dulu dengan mbak ya, nenek mau bicara sama om dulu." Bujuk Ambar sambil melirik pengasuh Ine yang langsung mengangguk mengerti.


"Dia om Ine?" Tanya Ine polos.


"Iya, salam sama om dulu."


"Apa kabar om?" Sapa Ine langsung menghadap ke arah Johan menyapa dengan sopan.

__ADS_1


"Baik. Bisa izinkan om bicara sama nenek?" Pinta Johan dengan senyum manisnya.


"Baik om." Jawab Ine.


"Bi." Panggil Ambar pada salah seorang asisten rumah tangganya.


"Tunjukkan kamar cucu saya yang sudah saya suruh siapkan kemarin!" Titah Ambar.


"Baik nyonya."


Mereka bertiga pun pergi dari ruang keluarga meninggalkan anak dan ibu tersebut.


"Kita bicara di ruang kerjaku saja Bu!" Ajak Johan berjalan menuju ruang kerjanya saat dirinya masih tinggal di mansion ibunya. Ambar meski tidak suka mengikuti langkah putranya.


.


.


"Apa maksud ibu mengajak anak itu kemari?" Tanya Johan langsung setelah pintu ditutup rapat oleh ibunya.


"Meski begitu, dia tetap tak berhak Bu. Dia anak yang lahir di luar nikah. Dalam hukum agama, anak di luar nikah tidak berhak mendapatkan harta warisan dari almarhum kakak." Ucap Johan tak suka masih berusaha sabar.


"Kamu mau mengatakan cucu ibu anak haram, begitu?" Seru Ambar tak terima.


"Bukan begitu bu. Istriku bahkan belum tahu tentang anak itu. Apa yang akan terjadi jika dia sampai mengetahui hal itu? Apa ibu tidak bisa menghargai perasaan istriku?" Ucap Johan membuat mengerti ibunya.


"Ibu tak peduli. Toh dia mandul tak bisa memberi kamu anak. Jangan salahkan ibu menyayangi cucu kandung ibu!" Ucap Ambar sinis.


"Astaghfirullah... istriku tidak mandul ibu, hanya sakit, dan penyakitnya juga sudah diobati dan dioperasi. Dokter mengatakan istriku masih ada kesempatan punya anak meski menunggu beberapa waktu lagi." Bela Johan tak percaya ibunya memvonisnya mandul, bahkan dokter tidak mengatakan apa-apa setelah operasi. Jika rutin berobat dan kontrol dia yakin bisa hamil dengan sehat dan selamat meski harus menunggu beberapa lama.


"Sama saja. Kapan? Sampai ibu mati. Kamu sendiri ibu suruh menikah lagi untuk punya anak tidak mau. Ah... bagaimana kalau kau menikah dengan ibunya Ine?" Usul Ambar spontan terlintas ide itu di benaknya.


"Ya ampun ibu, sampai kapanpun sudah aku katakan, aku tak akan mengkhianati istriku dengan menikah lagi atau menceraikannya untuk menikah dengan siapapun. Aku mencintai istriku bu. Kami saling mencintai. Kami juga sedang berusaha untuk program anak setelah selesai pengobatannya." Jelas Johan.


"Sampai kapan. Terserah kau saja, ibu akan memaksa istrimu untuk mengizinkanmu menikah lagi jika satu tahun ke depan tidak punya anak." Ambar langsung berdiri setelah mengatakannya.

__ADS_1


"Apa maksud ibu? Jangan katakan apapun pada istriku!" Ucap Johan menaikkan intonasi suaranya.


"Oh kau mulai berani berteriak pada ibumu? Siapa yang menyuruhmu? Istrimu? Dasar menantu sialan, menantu mandul, wanita pembawa sial. Kalau saja harta warisan itu tidak untuknya aku pun tak sudi punya menantu sepertinya." Umpat Ambar kesal menatap nyalang pada Johan.


"Istighfar ibu istighfar! Apa salahnya sampai ibu mengatakan kata-kata buruk itu pada istriku?" Ucap Johan berusaha sabar mendengar makian ibunya pada istrinya yang tentu saja sangat menyakiti hatinya juga, apalagi jika istrinya mendengar langsung ucapan buruk ibunya tentang istrinya.


"Kenapa? Itu kenyataannya, memangnya apa yang dihasilkan wanita itu selain dari butik kecilnya itu. Kalau bisa ibu pasti sudah menyuruhmu untuk menceraikannya atau paling tidak menyuruhnya untuk menceraikanmu." Ucap Ambar semakin sarkas dan kasar penuh umpatan menunjukkan ketidak sukaannya pada Karina.


"Istighfar bu, istighfar..." Bujuk Johan tak mampu untuk marah pada ibunya dan kelepasan berteriak semakin kencang pada wanita yang melahirkannya itu.


.


.


Saat itu Karina yang sedang istirahat di kamar suaminya di mansion ibunya itu keluar dari kamar setelah bangun tidur setelah pulang dari rumah sakit tadi. Suaminya mengajaknya untuk mengunjungi ibunya karena sudah lama tidak bertemu berharap bisa memperbaiki hubungan istrinya dan ibunya.


Karina pun tak bisa menolak selain menuruti ajakan suaminya. Kini dia menuruni tangga untuk mencari keberadaan suaminya dan kebetulan dirinya pun merasa haus dan ingin mengambil air putih di dapur. Namun belum sampai di dapur dia pun melewati ruang kerja suaminya yang kebetulan harus melewatinya jika harus ke dapur tak sengaja mendengar suara orang berbincang.


Karina merasa mengenali suara suaminya yang mulai kencang. Membuat Karina mau tak mau mendekati ruang kerja suaminya untuk melerai jika keduanya sampai bertengkar. Dia tak mau suaminya durhaka pada ibunya. Karena tak mungkin orang lain selain ibu mertuanya yang mungkin berbincang dengan suaminya di mansion itu.


Tiba-tiba jantung Karina terasa diremas, dadanya terasa sesak. Perut bawahnya mulai terasa nyeri saat mendengar ibu mertuanya menyebutkan sebagai wanita mandul dan juga wanita pembawa sial. Air mata Karina seketika luruh tak tertahankan. Meski dia tahu ibu mertuanya tidak menyukainya namun dia tetap menghormati ibu mertuanya itu. Namun dia tak mengira bahwa seperti itulah penilaian ibu mertuanya tentang dirinya.


Karina terpundur ke belakang merasa kakinya lemas jika saja di belakangnya tidak ada meja dia pasti akan jatuh terjerembab ke belakang karena tak mampu berdiri saking sakitnya mendengar ucapan-ucapan buruk dirinya di mata ibu mertuanya.


Ya Allah, apa salah dan dosaku sampai beliau begitu membenciku. Maafkan dosaku jika ibu mertuaku tak begitu menyukaiku ya Allah. Hiks...hiks...Batin Karina berusaha meredam suara tangisnya yang mulai terdengar isakan kecil.


Apa aku merelakan suamiku demi kebahagiaan ibu mertuaku ya Allah. Merelakan suamiku menikah dengan wanita lain pilihan ibu ya Allah. Batin Karina semakin terasa dicabik-cabik membuatnya merasa berdenyut nyeri di perut bawah bekas operasinya.


Karina pun berlari meninggalkan mansion ibu mertuanya. Dia sudah tidak sanggup, dia ingin berlari, pergi meninggalkan semuanya. Dia berharap Tuhan mengampuninya karena pergi tanpa izin suaminya.


"Nyonya muda mau kemana?" Tanya bibi yang melihat wajah nyonya mudanya tidak baik-baik saja. Namun Karina tidak menggubrisnya. Bibi sebenarnya ingin mengejarnya namun dia masih membawa nampan berisi makanan untuk diantar ke kamar Ine.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2