
Awalnya, sore hari Arick dan Jihan akan pulang. Namun melihat Jihan yang masih mencemaskan sang ibu, akhirnya Arick memutuskan untuk kembali menginap satu malam lagi dan besok pagi pulang.
Untunglah, malam itu Nami mulai membaik, ia hanya batuk sesekali tidak separah kemarin.
Pagi ini akhirnya Arick benar-benar mengajak semua keluarganya untuk pulang.
"Kalau ada apa-apa kabarin aku Bu." ucap Jihan saat ia berpamitan.
"Iya Nak, sana masuk mobil, Arick sudah menunggumu." Jihan mengangguk, lalu memeluk sang ibu erat.
Setelah salim pada sang kakak dan iparnya ia akhirnya menyusul sang suami masuk ke dalam mobil.
"Bismilahirohmanirohim." gumam Jihan pelan saat mobil itu mulai melaju.
Arick melirik sekilas pada sang istri, memastikan apakah raut wajah Jihan masih sedih atau tidak. Dan ia sedikit tersenyum, saat dilihatnya wajah sang istri yang mulai membaik. Tak ada lagi gurat kesedihan.
Tangan kiri Arick terulur untuk mengelus kepala Jihan sejenak.
Mendapati perlakuan seperti itu benar-benar membuat Jihan tenang.
Asih yang memperhatikan dari kursi belakang ikut senyum-senyum merasa bahagia. Bahkan tanpa kata-katapun, kedua majikannya ini tetap diselimuti cinta. Cinta yang menguap hingga ke udara.
25 menit perjalanan, akhirnya mereka semua sampai di rumah. Disana Arick sudah ditunggu oleh Denni.
Tadi pagi-pagi sekali, Arick memang meminta Denni untuk datang dan membawa beberapa berkas perusahaan.
Jadilah, saat baru sampai itu Arick langsung menuju ruang kerja bersama dengan Denni.
Sedangkan Jihan, kini ia masih berada di kamar baby ZAJ.
Dilihatnya ketiga buah hati yang sama-sama terlelap. Zayn jika naik mobil memang seperti itu, selalu tidur.
Zayn. Ucap Jihan di dalam hati
__ADS_1
Ditatapnya lekat anak sulungnya ini, semakin hari Zayn semakin terlihat seperti sang ayah Arend, artinya juga mirip dengan Arick.
Alis mata yang tebal, bahkan bulu matanya lentik. Hidung mancung dan bibirnya merona merah.
Jihan tersenyum, lalu mendekat dan mencium Zayn sayang. Setelah puas dengan Zayn ia juga memandangi wajah Anja dan Jani.
Kata mas Arick mereka mirip denganku? tapi mirip dimananya? padahal jelas-jelas, jika Anja dan Jani mirip dengan dia.
Lagi, Jihan juga mendekat dan bergilir mencium Anja dan Jani. Setelah itu ia pamit pada Asih dan Melisa untuk keluar, menuju kamarnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu jam kemudian, urusan Arick dan Denni sudah selesai. Ia lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
Baru membuka pintu, ia langsung dibuat tertegun.
Dilihatnya sang istri yang sedang duduk di dekat jendela. Rambut panjangnya terurai, bergerak sesuai semilir angin.
"Aduh!" keluh Jihan saat tak sengaja jari telunjuk kirinya tertusuk jarum.
Buru-buru Arick mendekat dan menjangkau jari itu. Ia berjongkok dengan satu lutut sebagai tumpuan dihadapan sang istri dan mulai menghisap jari Jihan.
"Hati-hati sayang, kamu buat apa sih?" tanya Arick, dilihatnya jari sang istri yang sudah tak mengeluarkan darah.
Masih berjongkok disana, ia menatap Jihan lekat.
"Dulu, aku pernah membuat janji dengan mas Arend. Akan membuatkan baju rajut untuk Zayn. Aku sempat lupa akan janji itu, tapi saat tadi aku menatap lekat wajah Zayn tiba-tiba aku mengingatnya."
Mendengar itu, Arick tersenyum, lalu mengangkat sedikit tubuhnya dan menyesap bibir sang istri. Disesapnya cukup lama, bahkan sampai Jihan pun ikut membalas.
"Mas tidak marah?" tanya Jihan dengan napas terengah. dan Arick menggeleng.
"Aku justru semakin merasa bahagia, apalagi saat melihatmu menyebut nama mas Arend seperti tadi."
__ADS_1
"Seperti tadi?"
"Iya."
"Memangnya tadi aku menyebutnya bagaimana?"
"Kamu menyebut nama mas Arend tanpa beban dihadapanku, seolah mas Arend bukan lagi duri diantara kita. Aku begitu lega dan bahagia mengetahui itu. Kini tiap kali kita bercerita tentang mas Arend kita tidak lagi merasa canggung." jelas Arick dan Jihan tersenyum.
Benar. Batinnya membenarkan perkataan sang suami.
"Tapi aku ingin membuat baju rajut ini untuk Zayn dewasa, bukan Zayn bayi. Anja dan Jani juga akan aku buatkan." jelas Jihan dengan tersenyum lebar.
Senyum yang selalu menular kepada Arick.
Setiap hari, wanita bersahaja ini selalu saja bisa membuatnya merasa jatuh cinta.
"Aku tidak dibuatkan?" tanya Arick menggoda, tapi malah Jihan mendapatkan ide cemerlang.
"Bagaimana kalau Mas saja yang membuatkan baju rajut untukku? Bukankah kemarin Mas bilang aku boleh meminta apapun?" tanya Jihan dengan wajah polosnya dan Arick menghela napas berat.
Meski ia tak bisa merajut namun ia mengIyakan permintaan sang istri itu.
"Tapi kalau jadinya lama tidak apa-apa ya? aku harus belajar dulu." tawar Arick sungguh-sungguh.
"Aku punya waktu seumur hidup untuk menunggu baju itu jadi." jawab Jihan dengan tersenyum.
Mendengar kata-kata manis sang istri ditambah pula dengan senyum itu, membuat Arick benar-benar tidak tahan untuk tetap diam.
Ia lalu bangkit dan kembali menyesap bibir Jihan dalam. Menelusupkan lidahnya masuk dan menjelajah disana.
Jihan tak tinggal diam, masih memegang benang wol dan jarum ia menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami.
Membalas tak kalah dalam ciuman itu.
__ADS_1