Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 09


__ADS_3

Riangan burung yang bersenandung di teras rumah, saling bersautan satu sama lain, berlomba menunjukkan siapa suara yang terbaik dan membuat hati pemiliknya merasa riang.


Anindira sudah pagi sekali memandikan Afifa dan membawanya ke teras untuk di jemur, menurut Mamahnya setelah mandi bayi lebih di jemur di bawah sinar matahari sebelum matahari menjulang lebih tinggi. Anindira dengan semangat mengajak Afifa untuk di Poyan dalam bahasa sunda.


Tak lama suara motor CBR berhenti depan pagar rumah Anindira, tampaknya motor itu sudah tiga bulan belakangan ini sering singgah di rumahnya, siapa lagi jika bukan Gilang sahabat Dimas yang sering berkunjung kerumau Anindira untuk bertemu dengannya.


"Guten Morgen (selamat pagi)," ucapnya tersenyum pada Anindira .


"Halo Mang Gilang," ucap Anindira mengayunkan tangan Afifa menyapa Gilang.


"Udah ganteng gini di pangil mang sih udah kayak mang tukang bakso," celetuknya.


"Terus maunya di panggil apa?"


"Panggil saya Uncle Gilang," ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Anindira.


"Ah gak cocok, udah mamang aja." ucap Anindira tertawa.


Gilang duduk di sebelah Anindira yang yang memangku Afifa yang tampaknya masih terlelap, sesekali Anindira bersenandung kecil menghantarkan Afifa dalam tidurnya membuat Gilang tersenyum melihat Anindira begitu telaten merawat Afifa bahkan menidurkannya.


"Gak kerja a?" tanya Anin.


"Santai, bos mah bisa datang kapan aja," ucapnya dengan gaya songgongnya.


Gilang membuka bisnis bengkel dan sorum motor yang sudah dirintis sejak lama, ia melanjutan usaha Ayahnya yang di berikan padanya karena ia anak tunggal di keluarganya.


Sudah tiga bulan belakangan ini Gilang sering berkunjung ke rumah Anin mengajaknya berbincang dan bertemu orangtuanya, Anindira merasa nyaman jika berada bersama Gilang yang humoris dan humble, namun kedatangan Gilang tanpa sepengetahuan Dimas mereka memang sudah jarang berkumpul bersama semenjak Dimas menikah.


"Kamu gak mau cari kerja lagi Nin?" tanya Gilang.


"Belum a, Anin mau fokus ngurus Afifa dulu, sama bikin miniatur juga kan waktunya lama jadi kalau sambil kerja takutnya malah gak kepegang," jelas Anin.


Gilang hanya mengangguk, ia tahu Anindira memang belum berniat mencari kerja kembali setelah kembali ke Bandung, ia hanya membuat rangkain miniatur yang memesan online padanya meksipun tidak banyak yang pesan namun keuntungannya cukup untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari.


"Assalammualaikum." ucap Dimas yang baru saja datang.


"waalaikumsalam, eh Mas Dimas dedenya masih bobo," ucap Anin saat Dimas langsung menghampirinya.


"Ya sudah gapapa, Mamah Ada di dalam?" tanya Dimas.


"Ada, Mas ke dalam aja," ucap Anin.


"Loe ngapain di sini Lang?" tanya Dimas.


"Gue tadi sekalian lewat jadi mampir dulu," ucap Gilang.


Dimas hanya mengangguk dan langsung masuk ke dalam rumah, meskipun dalam hatinya masih bertanya-tanya tentang kehadiran Gilang di rumah Anin, meskipun ia tahu Gilang sering berkunjung ke rumah Anin namun ia tak pernah mengabari Dimas apapun dan itu membuat Dimas penasaran dengan maksud Gilang.


Anin mengajak Gilang masuk ke dalam karena ia mau menidurkan Afifa, namun belum sempat Anin ke dalam Dimas sudah keluar bersama Mamah yang membawa gendongan dan topi.


"Nin ayo kita pergi," ajak Dimas.


"Hah? Kemana?" tanya Anin binggung.


"Kamu ikut Dimas dulu aja, pake gendongan Afifanya," ucap Mamah memberikan gendongan.


"Afifa di ajak emang gapapa?" tanya Anindira.


"Iya gapapa lagian jarang ajak Afifa jalan-jalan," ucap Dimas.


"a'Gilang gimana?" tanyanya tak enak.

__ADS_1


"Gapapa kalian jalan aja, saya sekalian ke sorum," ucapnya.


Anin pun pamit pada Mamah sambil mengendong Afifa yang masih terlelap, Mamah juga memberikan botol susu untuk Afifa dan jaket agar ia tidak kedinginan, mereka pun pergi menggunakan mobil Dimas yang di parkir di depan gerbang.


"Gilang mau minum dulu?" tanya Mamah.


"Eh, enggak mah, mau langsung pulang aja," ucap Gilang ramah.


"Oh iya makasih ya sudah berkunjung, jangan lupa doain semoga mereka cepet nikah kasihan Afifa butuh Ibu," ucap Mamah.


Gilang hanya mengangguk sambil tersenyum pada Mamah Anin, iapun langsung pamit karena merasa canggung.


"Anin sama Dimas mau nikah?" tanya Gilang dalam hati.


*-*-*-*


Mobil Dimas terpakir di depan tempat Baby Spa, Anindira menggendong Afifa dan berjalan ke dalam, Dimas sudah mendaftarkan Afifa.


"Biar saya aja yang gendong," ucap Dimas yang hendak mengambil Afifa.


"Eh gapapa Mas, sama Anin aja lagian dia udah bobo takutnya malah ke bangun," ucap Anin.


"Tapi pegel juga kan kamu dari tadi gendong dia terus," tanya Dimas.


"Gapapa Mas, Afifa juga anak Anin jadi pegel juga gapapa," ucapnya sambil tersenyum.


Dimas hanya terdiam melihat Anin yang begitu menyayangi Afifa seperti darah dagingnya sendiri, ia binggung dengan janji yang ia ucapkan pada Alm Kirana untuk menikahi Anindira, ia masih belum bisa membuka hati lagi karena semenjak ia menikahi Kirana semua pusat kasih sayangnya sudah jatuh pada Kirana wanita yang di jodohkan Bapaknya yang juga kakak kandung Anindira, namun ia juga tak mungkin sering mengajak Anindira pergi tanpa ada status diantara mereka apalagi dengan membawa Afifa yang sudah nyaman digendongan Anin, ia harus berbicara langsung pada Anin.


"Kita pulang dulu, saya ingin bicara sama kamu," ucap Dimas saat di dalam mobil.


"Ada apa Mas?" tanya Anindira cemas ia sudah tahu Dimas akan membahas perihal turun ranjang itu.


"Kita tidurin dulu Afifa di rumah nanti baru saya bicara," ucapnya langsung melajukan mobilnya.


*-*-*-*


Ia binggung saat Dimas mengajaknya ke rumah yang ia tempati saat menikah dengan Kirana dan ia memberikan sebuah buku pada Anin.


"Saya baru nemuin ini seminggu yang lalu di bawah bantal, ini milik Kirana,"


Anindira membuka buku catatan tersebut dan membacanya tiap lembar, semua curahan hati Kirana dituliskan disana hingga hampir bagian terakhir Anindira membaca dengan tidak percaya .


"Malam ini semua terjadi begitu cepat, aku harus menikah dengan lelaki yang di pilih orangtuaku, bahkan tak ada yang bertanya bagaimana dengan perasaanku sebenarnya, aku terpenjara di sini." tulisan singkat


"Dia bersikap baik padaku, tapi aku belum mencintainya , sampai saat ini aku masih mencintai lelaki itu tapi Tuhan tidak mengizinkanku untuk bersamanya, mengapa Tuhan lebih cepat mengambilnya." lembaran kedua.


Anindira mengernyitkan dahinya dengan curahan singkat milik Kirana yang bahkan ia sendiri tidak mengetahui, ia melihat Dimas yang tampaknya sudah membaca dan mengetahui isi buku harian Kirana


"Kini Tuhan menakdirkan aku hamil dan aku bersyukur karena sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu, tapi aku melihat potret adik kesayanganku di ponsel miliknya yang tampaknya mereka pernah bertemu sebelum kami menikah, bahkan Anin terlihat begitu cantik apa aku cemburu melihatnya menyimpan foto adik kesayanganku? Aku ingin Anindira bahagia." catatan terakhir Kirana.


Anindira merasa hatinya bergetar hebat, selama ini apakah Dimas menyimpan potret dirinya? Apakah mereka pernah bertemu? Dimana? Kapan? Mengapa Anindira tidak mengetahuinya?.


"Maksudnya ini Mas?" tanya Anindira.


"Saya pernah menyimpan potret kamu," ucapnya tertunduk.


"Potret apa? Kapan?" tanya Anin tak percaya.


Dimas memberikan ponselya pada Anindira dan melihatkan foto dirinya yang di potret dari arah samping, namun Dimas bilang ia hanya memiliki dua saja karena sebagian sudah ia hapus dan Dimas menjelaskan tentang pertemuan pertamanya dengan Anindira hingga ia di jodohkan dengan Kirana dan jatuh cinta padanya.


"Kenapa Mas gak hapus semua foto Anin? Teh Kirana selama ini pasti ngerasain sakit hati," ucapnya menangis tertunduk menyesalkan dengan sikap Dimas.

__ADS_1


"Saya gak tahu kalau dia lihat foto itu, saya juga lupa menghapus fotonya," ucapnya menyesal.


"Mas, apa selama ini teh Kirana pernah marah soal ini?" tanyanya.


"Dia hanya bertanya kenapa saya menyimpan foto kamu, dan saya jawab tidak sengaja saat liburan sebelum menikah saya pernah bertemu dengan kamu, saya bilang kalau saya tidak menyukai kamu saya hanya mencintai dia dan dia percaya." ucap Dimas.


"Teh Kirana pernah kehilangan pacarnya waktu kuliah, mereka pacaran hampir empat tahun, namanya Handika, sayangnya Handika meninggal karena sakit jantung bawaan lahir," ucap Anindira menceritakan tentang Kirana.


"Handika? Kirana pernah nyebut namanya waktu dia tidur," ucap Dimas.


"Teh Kirana sayang banget sama Handika, mereka udah berencana mau nikah dan Mamah juga setuju tapi Tuhan bekehendak lain, dua tahun setelah ini teh Kirana langsung nikah sama Mas Dimas dan mungkin masih ada bayangan Handika,"


"Saya tidak pernah tahu apa Kirana selama menikah bahagia atau tidak, saya juga tidak pernah bertanya apa dia mencintai saya atau tidak? Karena setiap hari dia selalu bersikap baik dan melayani saya dengan penuh perhatian saya tidak pernah bertanya dan mau tahu tentang diri dia sampai akhirnya buku harian ini jadi jawaban," ucap Dimas.


Anindira melihat garis penyesalan dari diri Dimas, ia benar-benar sudah kehilangan orang yang paling ia sayangi tanpa pernah tahu masa lalu dari Kirana sesungguhnya, sekarang penyesalan itu tidak berarti karena Kirana sudah tenang disisi Tuhan, Anindira juga menyesalkan dirinya yang malah pergi meninggalkan Kirana sendirian tanpa pernah bertanya tentang kakaknya itu sebenarnya hingga dia mungkin merasakan sakit hati yang tidak orang lain ketahui.


"Sebelum dia meninggal, dia minta saya jagain kamu, saya tidak tahu kalau maksudnya saya menjaga kamu dia meminta saya untuk menikahi kamu,"


"Sebenarnya sebelum melahirkan apa yang terjadi sama teteh?" tanya Anin penasaran.


"Waktu dia bilang buat jagain kamu, dia pergi ke kamar mandi dan dia jatuh, saya langsung bawa dia ke rumah sakit karena sudah pendarahan di perjalan darahnya makin banyak keluar akhirnya dokter mutusin buat operasi sesar tapi dia nolak, akhirnya dia milih lahir normal tapi pendarahannya tidak berhenti," jelas Dimas tak kuasa menahan tangis mengingat kejadian itu.


"Waktu itu saya temani dia di dalam dia terus nyebut nama kamu, sampai akhirnya Afifa lahir kondisinya makin melemah Dokter coba berbagai cara sampai transfusi darah tapi golongan darah dia lagi kosong dan golangan darah saya juga gak sama, dia masih bertahan nunggu kamu," ucapnya.


Dimas menangis tak bisa menahan air matanya, ia benar-benar merasa kehilangan, Anindira yang melihat Dimas terpukul mendekatinya dan menepuk bahunya, ia bilang semua sudah takdir Tuhan tidak ada yang bisa disesalkan mungkin memang ini jalannya dan Kirana mungkin sekarang sudah bahagia dan ia juga sudah bertemu dengan Handika.


"Mas, soal janji itu apa bisa kita batalin aja?" tanya Anin pada Dimas.


"Kenapa?" tanya Dimas mendongakkan kepalanya.


"Anin gak bisa buat nikah sama Mas Dimas, Anin tahu Mas sayang sama teh Kirana dan Anin gak mau kalau harus menggantikan posisinya," ucap Anindira.


"Sejujurnya saya ngajak kamu bicara di sini bukan untuk bahas catatan harian ini," ucap Dimas menatap Anindira.


"Maksudnya?"


"Saya ingin melamar kamu."


*DEG* 


Apa yang baru saja Dimas katakan padanya? Melamarnya? Maksudnya bagaimana Anindira merasa menjadi canggung.


"Saya ingin menikah dengan kamu, saya ingin kamu menjadi istri saya dan Ibu untuk anak saya," ucapnya.


"Mas Dimas," ucap Anindira tak percaya.


"Saya tahu , saya memang masih mencintai Kirana sampai sekarang, tapi bisakah kamu bersabar sebentar? Saya hanya ingin mengabulkan permintaan terakhir Kirana untuk menjaga kamu dan menjadi suami untuk kamu," ucapnya menatap Anindira.


"Mas, Anindira belum siap," ucap Anin.


Dimas menggenggam tangan Anindira, ia berusaha meyakinkan Anin untuk menerimanya, Anin yang tersentak mencoba menetralkan pacu jantungnya yang berdetak lebih cepat saat Dimas menatap lekat padanya dan mengenggam tangannya.


"Afifa butuh Ibu, dan saya juga tidak mungkin bisa merawat dia sendirian, mungkin memang tidak mudah tapi saya akan mencoba untuk memulai kembali," ucapnya.


Anindira terdiam, ia teringat dengan Afifa, anak bayi itu harus menjadi piatu sejak lahir dan Anindira begitu menyayangi keponakannya itu, tapi apakah ia bisa menjadi ibu untuk Afifa? Apakah turun ranjang ini berlaku untuk hidupnya? Tapi ia teringat janjinya terakhir bersama pada Kirana untuk menikah dengan Dimas, tapi ia tahu Dimas tidak mencintainya apakah Anin akan bahagia menikah tanpa ada rasa?


"Anin?"  tanya Dimas kembali.


"Iya, demi Afifa Anin terima Mas," ucap Anin meyakinkan diri bahwa ia harus bisa menjaga Afifa seperti permintaan Alm Kirana.


"Terimakasih." ucapnya tersenyum kecil pada Anindira.

__ADS_1


Anindira hanya tersenyum simpul, ia tidak tahu apakah pilihannya menerima Dimas menjadi suaminya ini adalah benar? Ia tidak tahu apakah ia akan bahagia menikah dengan Dimas kakak iparnya sendiri? Anindira mencoba menahan air matanya sekarang bukan tentang kebahagiaannya tapi semua hanya karena Afifa untuk Afifa dan Alm Kirana yang sudah berkorban untuknya sekarang biarlah Anindira mengorbakan dirinya untuk Afifa.


__ADS_2