
Jam 3 dini hari, Jihan terbangun dan melaksanakan shalat malam.
Dilihatnya Zayn yang tertidur pulas, juga mbak Puji yang masih terlelap.
Dimana mas Arick? tanyanya dalam hati.
Ia bergegas bangun, melipat mukenah dan kembali memasukkannya ke dalam tas . Jihan memutuskan untuk keluar, dan memeriksa keadaan Cafe.
Ternyata sudah sepi, sudah tidak ada pelanggan. Sayup-sayup terdengar pembicaraan antara Arick dan Jodi di meja bar.
Tak ingin menguping, Jihan pun memutuskan untuk menghampiri keduanya.
"Mas," sapa Jihan, Arick dan Jodi langsung melihat kearah sumber suara.
"Sayang, kamu terbangun?" tanya Arick dan Jihan mengangguk.
Arick memukul kursi disebelahnya, memberi isyarat agar sang istri duduk disini.
"Ku buatkan teh hangat ya Ji?" tawar Jodi.
"Tidak usah Jo, Jihan tidak minum teh atau pun kopi, air putih hangat saja." Arick yang menjawab.
Jodi tersenyum, merasa jika sahabatnya ini sangat mencintai sang istri, Jihan.
"Semua sudah pulang? kenapa mas tidak tidur? Jodi tidak pulang?" Tanya Jihan beruntun.
Arick menoleh dan menatap intens pada sang istri.
"Iya, hari ini Cafe tutup jam 1, teman-teman dan semua karyawan pulang jam 2. Aku rencananya ingin tidur dengan Jodi, kami baru saja membicaran tentang Cafe ini," jelasnya dengan lembut, tatapannya masih mengunci manik hitam milik Jihan.
"Mas, jangan melihat ku seperti itu," keluh Jihan, ia sedikit menunduk merasa malu.
Jodi datang dan hanya geleng-geleng kepala, dekat-dekat dengan pasangan ini memang membuat orang iri.
"Diminum dulu Ji." Jodi menyerahkan segelas air hangat, Jihan menerimanya dengan antusias. Dia memang sedang haus.
"Alhamdulilah, terima kasih Jo," ucap Jihan setelah meminum air itu hingga tandas.
"Sayang, jangan senyum-senyum seperti itu pada Jodi, aku tidak suka," keluh Arick, mendadak senyum Jihan langsung dipaksa surut dan Jodi tertawa terbahak.
"Ya Allah Rick Rick, yang sabar ya Ji, ternyata suamimu ini posesif," ucap Jodi setelah menyelesaikan tawanya.
"Aku tidur dulu." Pamit Jodi dan diangguki oleh keduanya.
Setelah Jodi pergi, Arick mengajak Jihan untuk keluar. Melihat pemandangan kota Jakarta yang masih germerlap di dini hari seperti ini.
Angin malam berhembus pelan, menyapu wajah keduanya dengan lembut.
__ADS_1
Mereka berdiri dipinggir rooftop , Jihan memegang pagar pembatas dan Arick memeluknya erat dari belakang.
Keduanya sama-sama terdiam, menikmati indahnya malam. Diatas sana bintang bersinar, dan dibawah mereka lampu-lampu kota masih menyala.
"Mas." Jihan buka suara, dan sang suami makin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa? dingin?" tebaknya dan Jihan menggeleng.
"Lalu?"
Jihan berbalik dan membalas pelukan sang suami, erat.
"Aku punya 1 keinginan, bisakah mas mengabulkannya?" tanya Jihan.
"Apa? aku pasti mengabulkannya untukmu."
"Saat anak kita lahir nanti, aku ingin Mas mendampingiku, menggenggam tanganku dan selalu berada disisiku. Apa Mas mau?"
Arick melerai pelukan mereka, dan menatap Jihan dengan lekat.
"Permintaan macam apa itu? aku pasti mendampingimu, aku yang akan mengazani mereka nanti," jawabnya.
Mata Jihan berembun, ingat saat dulu ia melahirkan Zayn hanya seorang diri. Bahkan yang mengazani Zayn bukan ayahnya, melainkan Mardi sang mertua.
"Aku Janji," ucap Arick, setelah mengatakan itu ia mendekat dan menjangkau bibir sang istri.
Perlahan, Jihan menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami. Ia membalas ciuman itu tak kalah dalamnya.
Angin malam sama sekali tidak membuat keduanya merasa dingin, malah semakin membuat mereka sama-sama bergelora.
Malam yang indah, diselimuti dengan janji yang manis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
4 bulan telah berlalu, kini kehamilan Jihan sudah memasuki usia 6 bulan. Perutnya sudah sangat besar dan membuncit. Sedangkan Zayn sudah genap 1 tahun, Zayn sudah sangat aktif, merambat kesana kesini mencoba berjalan.
Arick selalu merasa cemas, jujur saja, pekerjaannya sering terbengkalai karena terlalu menghawatirkan Jihan.
Bahkan Arick juga meminta ibu Sofia untuk mencarikan 1 baby sister untuk membantu mengurus Zayn. Didapatlah satu orang yang dirasa cocok, yaitu Asih, keponakan bude Santi yang berusia 22 tahun. Asih sudah mulai bekerja sebagai baby sister sejak lulus SMA. Kebetulan kini ia sedang menganggur dan langsung dipanggil ke Jakarta oleh ibu Sofia.
Sudah seminggu Asih berkerja di rumah Jihan.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya, kalau ada apa-apa kabari aku, kalau butuh apa-apa juga langsung beri tahu aku," pamit Arick. Tiap pagi sebelum pergi selalu ini yang ia ucapkan.
"Iya Mas, Mas jangan terlalu mencemaskan aku. Aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja bagaimana, kemarin kamu nyaris pingsan karena darah rendah. Aku tidak bisa melihatmu sakit seperti itu," cemas Arick.
__ADS_1
Jihan hanya tersenyum sebagai tanggapan, kemudian mendorong pelan tubuh sang suami agar segera memasuki mobil.
"Aku pamit, assalamualaikum."
"Walaikumsalam," jawab Jihan.
Arick mencium kening sang istri sekilas, kemudian benar-benar masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi.
"Bu, Bu."
Jihan menoleh, ketika terdengar suara Asih yang memanggilnya.
"Ada apa Sih?" tanya Jihan, keduanya beriringan masuk ke dalam rumah.
"Badan den Zayn masih hangat Bu, padahal semalam sudah saya kasih obat penurun panas."
Dengan berjalan sedikit cepat, Jihan masuk ke dalam kamarnya dan memeriksa keadaan Zayn. Ternyata benar, badanya masih hangat, bahkan ini lebih panas dibanding semalam.
"Minta mbak Puji untuk telepon ibu Sofia ya? bilang pak Amir tolong kesini, kita bawa Zayn berobat."
"Baik Bu." Asih berlalu dan Jihan mulai berkemas.
Menyiapkan semua keperluan Zayn untuk dibawa berobat.
Ia sengaja tidak memberi tahu sang suami, Jihan yakin masih bisa menangani masalah ini. Jika badan Zayn panas seperti ini pasti karena radang tenggorokan, pasalnya Zayn suka sekali makan kerupuk.
Terlebih Zayn tidak muntah ataupun mencret, Jihan yakin ini adalah radang tenggorokan.
Tak butuh waktu lama, hanya 10 menit saja pak Amir dan ibu Sofia sudah datang.
Ibu Sofia sangat cemas, namun Jihan segera memberinya pengertian.
"Ya sudah ayo kita bawa berobat, ke tempat bu Diah kan?" tanya Sofia dan Jihan mengangguk.
"Kamu kuat nggak Ji, bagaimana kalau ibu dan Asih saja yang pergi?" tawar Sofia, ia juga merasa tidak tega melihat sang menantu yang sudah hamil sebesar itu. Karena hamil anak kembar, Jihan jadi gampang merasa kelelahan.
Sofia bisa tahu apa yang Jihan rasakan, karena dulu pun ia seperti itu.
"Jihan kuat kok Bu. Jihan juga tadi sudah makan dan minum vitamin."
"Baiklah, tapi biar ibu yang menggendong Zayn."
Akhirnya mereka semua pergi ke rumah sakit, menemui dokter Diah.
Karena sebelumnya tidak membuat janji, kini mereka harus mengantri. Mereka mendapat nomor antrian 21, sedangkan kini masih nomor 8.
"Kamu yakin kuat Ji?" tanya Sofia lagi dan Jihan mengangguk, ia menghapus sedikit peluh didahinya sendiri.
__ADS_1