
Tok tok tok
Pintu ruang kerja Ivan diketuk dari luar.
"Masuk!" Titah Ivan mendongak melihat pada pintu yang terbuka.
"Tuan, saya sudah mendapatkan kabar tentang nona." Ucap asisten kepercayaan Ivan.
"Katakan!"
"Nona sudah pulang bersama suaminya ke mansion mereka." Jawan asisten itu langsung ke intinya.
"Kau yakin?" Tanya Ivan mengernyit tak percaya.
"Benar tuan, baru dua hari yang lalu. Berdasarkan penyelidikan saya, tuan besar yang memberi tahu dokter Johan dimana nona berada."
Ivan terdiam tampak berpikir, apa gerangan yang membuat papanya itu luluh. Papanya orang yang berwatak keras tak semudah itu dia akan luluh begitu saja tanpa alasan yang jelas.
"Apa kau tahu kenapa papa luluh?" Tanya Ivan akhirnya menatap asistennya.
"Sepertinya karena nona hamil." Jawaban asistennya membuat Ivan terdiam. Senyum tipis sangat tipis terukir di bibirnya yang tidak disadari asistennya.
"Begitukah?" Ucap Ivan kembali menunjukkan wajah datarnya.
"Tapi?" Jeda kata yang diucapkan asistennya membuat Ivan mengernyit tanda menunggu kalimat selanjutnya sang asisten.
"Nona sepertinya tidak percaya kalau dirinya hamil. Setidaknya dia tidak mau terlalu berharap dan tidak yakin dengan pernyataan kalau dia hamil." Jelas asisten Ivan membuatnya lagi-lagi mengernyit.
"Apa maksudmu?" Tanya Ivan mengernyit belum mengerti.
"Nona menolak untuk tes kehamilan."
"Kosongkan jadwalku sore ini. Aku akan mengunjunginya. Jangan beri kabar juga! Siapkan alat periksaku!" Titah Ivan yang diiyakan asistennya.
.
.
"Setelah ini apa lagli?" Tanya Ivan saat masuk ke dalam mobil setelah selesai bertemu dengann rekan bisnisnya.
"Masih ada meeting setengah jam lagi dengan PT ABC di restoran di ujung jalan." Jelas asistennya yang duduk di jok depan sebelah sopir.
"Kita kesana!"
__ADS_1
"Baik tuan.'
.
.
Setelah meeting selesai jam dua siang sekaligus makan siang. Ivan langsung memerintahkan pergi ke mansion Karina dan mengosongkan jadwalnya setelah ini. Tak lupa alat-alat kedokteran juga dibawanya. Dia bertekad untuk memeriksa adiknya dan mengatkannya sendiri tentang kehamilannya beserta bukti agat Karina tidak bisa mengelak lagi.
Mobil tiba di mansion Karina setelah satu jam perjalanan dari restorannya tempatnya meeting tadi. Setelah pintu mobil dibuka Ivan keluar untuk mengunjungi adiknya sekaligus membujuk Karina untuk melakukan pemeriksaan.
"Kak Ivan?" Karina muncul di ruang tamu setelah diberi tahu asisten rumah tangganya.
"Apa kabar?" Sapa Ivan memeluk tubuh adik perempuan kesayangannya.
"Kak Ivan!" Sapa Johan yang baru muncul di belakang Karina dengan wajah sayu, lemas dan pucat.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Ivan menatap Johan cemas.
"Tentu." Jawab Johan tidak berdasarkan kenyataan dengan kondisi tubuhnya.
"Aku sudah memintamu untuk istirahat mas." Ucap Karina menatap suaminya cemas. Setiap pagi Johan mual-mual parah sekali sampai lemas meski tidak pingsan.
"Tapi kau terlihat pucat?" Tanya Ivan dengan raut wajah cemas.
"Dek, bisa ambilkan kakak minum?" Pinta Ivan langsung menatap Karina penuh permohonan.
Karina menatap dalam Ivan juga beralih pada suaminya yang memejamkan matanya di sofa dengan tidak bersemangat.
"Sebentar kak." Pamit Karina ke dapur.
.
.
"Aoa itu efek kehamilan simpatik?" Tanya Ivan setelah Karina pergi.
"Hmm. Dokter Mira juga mengatakan hal itu." Jawab Johan lemah mulai merindukan isrinya padahal baru saja pergi.
"Bagaimana dengan Karina?" Hanya gelengan kepala yang dilakukan Johan untuk menjawab pertanyaan Karina. Ivan menghela nafas panjang. Sepertinya sifat keras kepala papanya menurun pada Karina terlihat dari watak mereka.
"Aku akan membujuknya." Jawab Ivan yakin.
"Semoga berhasil. Asal jangan membuatnya marah padaku atau aku akan tersiksa." Ucap Johan.
__ADS_1
"Oke."
Karina datang membawa minuman yang dipesan Kakaknya dan meletakkan di meja.
"Karin!" Panggil Ivan.
"Ya kak?" Tanya Karina menatap wajah kakaknya.
"Bisa kita bicara berdua?" Pinta Ivan menatap Karina lekat.
Karina tidak langsung menjawab, dia tampak berpikir dan mencoba menebak apa yang ingin dikatakan kakaknya.
"Aku akan kembali ke kamar untuk beristirahat." Pamit Johan memberikan ruang untuk kakak beradik itu.
Karina mengajak kakaknya ke ruang perpustakaan pribadi milik suaminya. Keduanya duduk di kursi yang ada di ruangan itu setelah asisten rumah tangga menyajikan teh untuk mereka sesuai titah Karina.
"Karin." Panggil Ivan memulai pembicaraan.
"Ya?"
"Aku tahu kamu sudah tahu apa yang ingin kakak tanyakan?" Karina langsung menatap Ivan yang awalnya dia hanya menunduk.
"Iya, aku tahu." Jawab Karina menghela nafas panjang sebelum mulali bicara lagi.
"Aku takut kak? Aku masih ingat vonis dokter saat mengatakan aku sulit hamil. Misal pun aku bisa hamil dokter bilang itu sangat berbahaya. Bahkan bisa berakibat batal. Dann kebanyakan calon bayi yang tidak bisa diselamatkan meski kita sudah berusaha." Ucap Karina terhenti karena air matanya menetes meski tidak bersuara.
Ivan sendiri ingat dengan ucapan dokter Albert yang mengatakan pada kami saat itu. Tapi semua itu tidak akan terjadi tanpa izin sang pencipta.
"Jadi kau juga yakin dengan kehamilanmu?" Tanya Ivan yang diangguki Karina lemah.
"Disini. Disini calon anakku tumbuh kak. Dan dia belum tentu bisa hidup kak. Kalau saja... Kalau saja nyawaku hikss..hiks.. bisa ditukar..hiks..hiks.."
"Apa yang kau katakan Karin? Kenapa semudah itu kau menyerah? Bukankah kau selalu mengatakan untuk percaya pada Allah mu?" Sela Ivan tanpa sadar air matanya ikut menetes.
"Aku lelah kak, aku capek. Melihat suamiku yang begitu bersemangat pada anak kami membuatku tak tega melihat kekecewaan di matanya kak? Hiks.. Hiks..."
Ivan sontak mendekap tubuh adiknya merasa terenyuh dengan apa yang akan terjadi pada adiknya. Padahal sedikit lagi kebahagiaan menghampirinya. Tapi seolah ujian itu kembali datang pada adiknya.
Tubuh Johan luruh di lantai depan pintu ruang perpustakaan mansionnya. Sebenarnya tadi ingin menghampiri istrinya untuk minta pelukan karena mual kembali menyerangnya. Dan tubuhnya membeku saat mendengar alasan istrinya seyakin itu kalau dia tidak hamil.
Apa dia berencana menggugurkan kandungannya? Ah, benar. Itu jalan terbaik satu-satunya untuk istriku agar tetap hidup. Ya Allah, tak adakah kesempatan untuk istriku menjadi seorang ibu? Dan kami bisa menjadi orang tua? Batin Johan pergi meninggalkan tempatnya dan berlalu menuju kamar.
.
__ADS_1
.