Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 21


__ADS_3

Anin dan Dimas sampai di Bogor sore hari, mereka langsung menuju rumah sakit yang disebut Mamahnya itu Afifa tidak dibawa dan dititipkan pada Ibu.


Anin masih terdiam menatap Papahya yang terlelap dengan perban di kepala dan tangan kanannya sedangkan selang infus terpasang di tangan kirinya, terlihat Mamah yang masih syok dengan kejadian yang menimpa suami tercintanya itu.


"Kenapa bisa sampai kecelakaan Mah?" tanya Anin.


"Waktu mau berangkat kerja mobil Papah kamu ada yang nabrak dari belakang dan Mobil Papah nabrak trotoar jalan sebelum terbalik," ucap Mamah dengan mata memerah.


Anin hanya menatap sang Mamah yang masih menangis menghapus air matanya dengan tisu, bukan Anin tak tega melihat Mamahnya yang terlihat Syok dengan kondisi Papah, Aninpun terkejut melihat Papahnya yang terbaring karena baru saja di periksa Dokter.


"Nin boleh Mamah bicara berdua?" ucap Mamah pada Anin.


"Kalau gitu saya permisi keluar," ucap Dimas.


"Dimas kamu di sini jagain Papah,  biar kita bicara di luar."


"Baik Mah." ucap Dimas langsung duduk.


Anin mengikuti langkah sang Mamah yang begitu cepat membawanya ke arah luar, Anin menatap lorong-lorong rumah sakit, ia teringat saat Kirana yang menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit ia masih terbayang wajah Kirana yang sudah pucat memohon kepadanya agar menggantikan posisinya dan menikah dengan Dimas.


"Ada apa Mah?" tanyanya heran.


"Mamah dapat kabar kalau perusahaan Dimas mau bangkrut," ucap Mamah.


"Bangkrut? Kata siapa?" Anin terkejut.


"Dari rekan kerjanya katanya kerja sama Dimas beberapa waktu lalu dibatalkan dan membuat perusahaan dia merugi," terang Mamah.


"Anin gak tahu." ucap Anin menunduk.


"Iya karena kamu gak tahu Mamah kasih tahu kamu, Mamah khawatir sama kamu," ucap Mamah.


"Khawatir sama Anin?" tanya Anin menaikan satu alisnya.


Anin menatap sinis pada Mamahnya itu, tak mungkin Mamahnya khwatir padanya, mungkin Mamahnya hanya khawatir dengan berita buruk untuk keluarganya karena memang selalu begitu keluarganya mementingkan nama baik dan martabat saja.


"Mamah kenal sama salah satu Ceo dia yang nyelamatin Papah kamu waktu kecelakaan," ucap Mamah.


"Maksud Mamah? Tolong jangan berbelit-belit Mah Anin mau lihat Papah,"


"Mamah pengen kamu dekat sama Ceo itu,"


"APA?" tanya Anin membelalakan matanya.


"KAmu tahu kalau perusahaan Dimas udah di ujung tanduk sudah pasti akan di bangkrut dan dia gak akan punya pekerjaan lagi dan kalaupun dia bekerja diperusahaan dimana dia bakal bekerja karena perusahaan lain gak akan mau menerima dia mantan ceo perusahaan!" ucap Mamah dengan nada sedikit dingin.


"Tapi belum tentu terjadikan Mah?  Lagipula Anin belum bicara sama Mas Dimas, Mamah percaya sama yang Ceo itu katakan dibanding bertanya langsung?"


"Pokoknya Mamah gak mau kalau kamu nanti jadi miskin sama keluarga kamu, apa kata temen-temen Papah kalau suami kamu bangkrut!" ucap Mamah.


"Jadi Mamah lebih mentingin omongan orang-orang?"


"Memangnya kamu bisa hidup miskin?" tanya Mamah dengan sinis.


"Hidup Miskin tapi keluarga rukun bahagia Anin gak masalah, daripada bergelimang harta tapi gak peduli dengan keluarganya!" ucap Anin beranjak berdiri.


"Maksud kamu apa Anin? Siapa yang selama ini peduli pada kamu? Selama ini kamu yang selalu menentang keluarga bukan?" Anin menatap Sinis kearah Mamahnya yang sudah berdiri.


"Menentang? Peduli? Mamah mungkin lupa kalau dari kecil Anin sama Alm Teh Kirana itu hidup berdua. Kalau menentang? Anin rasa Anin gak salah pilih yang sesuai dengan Anin inginkan karena untuk kebahagiaan sendiri bukannya harus pilih kehendak hati?" ucap Anin.


"Jangan kurang ajar kamu Nin, selama ini kami yang membiayai semua hidup kamu, Mamah yang lahirin kamu ke dunia ini apa gini cara kamu berbicara dengan seorang Ibu? Pokoknya Mamah gak mau tahu kalau Dimas sudah bangkrut kamu harus bercerai!"


"Terserah Mamah, Anin sudah capek berdebat dengan Mamah tapi Anin benar-benar minta maaf karena kali ini Anin gak akan ikutin kata Mamah lagi!" ucap Anin langsung berlalu pergi meninggal Mamahnya yang tampak geram.


*-*-*-*-*


Anin menahan tangis berjalan menyusuri ruangan demi ruangan mencari tempat untuk menenangkan dirinya. Niatnya ke sini hanya ingin menengok Papahnya bukan untuk kembali berdebat dengan Mamahnya dan menekan keadaannya kembali. 


Anin terdiam di dekat taman sambil mencari udara, berdebat dengan Mamahnya hanya membuatnya lelah sendiri, Anin tersenyum sinis dengan apa yang baru saja terjadi sudah lama tak berbicara dengan Mamahnya hingga berdebat seperti tadi.


Teleponnya berdering membuatnya tersadar kembali.


"*Iya Mas?"

__ADS_1


"Kamu dimana?"


"Anin lagi beli minum dulu*," ucapnya berbohong.


"Cepat ke sini, papah udah sadar,"


"Iya Mas, Anin langsung ke sana." ucapnya mematikan telepon.


Sebelum keruangan Anin singgah ke Kantin yang berjarak tidak jauh dari ruangan ia membeli sebotol air mineral dan meneguknya.


Tiba diruangan ia melihat ke arah Mamah sekilas yang menatapnya sinis kemudian beralih ke Papah yang menatap ke arahnya dengan wajah yang masih pucat. 


"Pah gimana sekarang keadaanya?"


"Sudah sedikit membaik" ucap Papah.


"Masih ada yang kerasa sakit?" tanya Anin kembali.


"Masih kerasa sedikit sakit tapi tidak apa-apa," ucap Papah.


"Selamat sore." ucap seorang pria dengan kemeja biru dongker masuk keruangan.


"Sore, kamu sudah datang?" ucap Mamah.


"Iya Mah." ucap seorang pria tersebut.


"Pak Evan?" uca Anin terkejut.


"Hallo Anin sudah lama tak jumpa," ucapnya menyalami Anin dan Dimas.


"Sudah lama tidak jumpa Dimas bagaimana kabar loe?" tanya Evan beralih pada Dimas


"Baik." ucap Dimas.


"Kalian sudah kenal? Evan ini yang nyelamatin Papah waktu kecelakaan," ucap Mamah mengelus punggung Evan.


"Makasih Pak Evan," ucap Anin.


"Gimana kondisi Bapak?" tanya Evan.


Dimas hanya menatap Evan dengan tatapan tajam, maksudnya apa ia tiba-tiba berada di Bogor dan langsung menyelamatkan Papah Anin apa ini hanya kebetulan? Dan Ia akrab dengan orangtua Anin?  Bahkan Papah dan Mamah Anin menatap dirinya dengan mata berbinar, Dimas sejak dari tadi merasa menjadi orang asing. 


"Dimana kalian bisa kenal?" tanya Mamah.


"Dulu Anin bekerja di perusahaan saya di Jogja, dari waktu di kuliah dia termasuk karyawan yang rajin dan bekerja dengan tekun," ucap Evan dengan senyum yang tak lepas.


"Wah kalian ternyata sudah akrab sejak lama, terimakasih Evan kamu sangat baik," ucap Mamah.


"Sama-sama Mah, jangan sungkan Mah lagipula saya sudah menganggap kalian keluarga saya," ucap Evan.


"Kalau Mamah ketemu kamu dari awal mungkin Mamah bakalan nyuruh kamu nikah sama Anin," ucap Mamah.


"Belum berjodoh mungkin." ucap Evan.


Anin hanya terdiam ia menatap Dimas yang nampaknya merasa tak dianggap, bahkan Mamah yang memuji Evan terang-terangan merasa kagum pada Evan, Anin mulai merasa bosan dan tak suka dengan situasi seperti ini.


"Kalau gitu Anin sama Mas Dimas mau pamit pulang sekarang," ucap Anin berdiri.


"Kenapa pulang sekarang?" tanya Mamah


"Kamu nginap di sini aja," ucap Papah.


"Enggak Pah, lagian besok Mas Dimas sudah harus kerja dan kasihan juga sama Afifa lagipula Papah sudah membaik," ucap Anin


"Dimas saja yang pulang duluan, biar kamu di sini rawat Papah gantian sama Mamah, nanti biar Evan yang antar kamu," ucap Mamah.


"Iya kamu di sini aja Nin, biar saya pulang duluan dan Afifa biar saya jaga," ucap Dimasm


"Tapi gimana?" ucap Anin.


"Sudah gapapa kamu juga baru datang Papah juga belum stabil kondisinya biar kamu jagain Papah," ucap Dimas.


"Hati-hati Mas, nanti kalau sudah sampai telepon ya," ucap Anin.

__ADS_1


"Iya, Mah Pah Dimas pamit semoga cepat sembuh " ucap Dimas pamit.


"Iya Dim" ucap Papah.


*-*-*-*-*


Anin merasa kesal karena Evan masih saja berada diruangan bersamanya,  bahkan ia juga terus menatap Anin secara terang-terangan padahal Anin sudah menjaga jarak agar tidak berbicara dengan lelaki itu,  meskipun lelaki itu sudah menyalamatkan nyawa Papahnya tapi ia tak suka dengan semua ucapannya yang manis mulut hingga membuat Papah dan Mamahnya sampai memujinya. 


Anin memilih keluar ruangan mencari udara, ia sudah mendapat kabar dari Dimas kalau dia sudah sampai, Anin melihat Mamahnya yang baru saja datang setelah tadi pamit pulang untuk mengambil beberapa pakaian. Anin melihat Mamahnya yang berjalan ke arahnya langsung mengalihkan pandangan bermain game di ponselnya.


"Kamu ajak Evan makan gih kasihan dia belum makan," ucap Mamah.


"Anin gak lapar, Mamah aja yang makan sama dia biar Papah sama Anin dijagain," ucap Anin tanpa mengalih pandangannya.


"Kamu lebih kenal sama dia, masa Mamah yang ajak makan nanti dia nolak," ucap Mamah.


"Ya sudah Anin beli makanan di luar,"


"Ehh jangan di bungkus kalian aja makan gih sana," ucap Mamah.


"Anin gak bisa makan berdua sama cowok lain, Anin udah bersuami!" ucap Anin.


"Alah, suamimu juga gak ada lagian cuman makan aja, kamu gak inget apa dia yang nyelamatin Papah kamu!" ucap Mamah?


"Mamah juga gak inget Anin ulang tahun hari ini? Tapi makasih sudah melahirkan Anin karena Anin bahagian punya keluarga kecil dan mertua yang pengertian!" ucap Anin langsung masuk ke ruangan Papah.


Mamah hanya terdiam dengan jawaban Anin, ia tak tahu jika Putrinya kini sedang berulang tahun,  tapi apa mau dikata lagipula memang sudah bertahun-tahun ia tak ingat ulang tahun anaknya itu dan tak merayakan. 


"Pak Evan ayo makan di luar!" ucap Anin menatap Evan dengan datar.


"Makan?" tanya Evan.


"Iya, Mamah nyuruh Anin ngajak Bapak makan, ayo kita keluar," ucap Anin berjalan dan menatap Mamahnya sekilas yang tersenyum ke arah Evan.


Anin berjalan dengan cepat, ia kesal dengan Mamahnya yang menyuruhnya untuk mengajak Evan makan di luar, padahal ia menahan rasa lapar sejak tadi tapi tak ingin makan diluar apalagi bersama Evan.  Entah apa yang Tuhan rencanakan hingga ia bisa bertemu lagi dengan Evan.


"Kita Makan nasi goreng aja gimana?" tanya Evan.


"Oke Bapak yang pesan," ucap Anin langsung mencari kursi.


"Baik." ucap Evan dengan senyum.


"Oh iya selamat ulang tahun," ucap Evan memberi selamat.


"Makasih." ucap Anin tersenyum kecil.


Sambil menunggu nasi goreng datang,Anin memilij menelepon Dimas dan mengatakan tentang dirinya yang pergi makan dengan Evan, beruntungnya Dimas tidak marah dan menyuruhkan agar istirahat dengan cukup.


Tak lama nasi goreng yang mereka pesan pun datang dan Anin langsung menyantapnya untuk mengalihkan agar Evan tidak mengajaknya berbicara.


"Maaf ya soal kejadian di Jogja waktu itu," ucap Evan.


Anin hanya mengangguk sambil menyantap Nasi gorengnya dengan cepat agar ia cepat pergi, ia tak mau berduaan dengan Evan seperti ini apalagi ia tahu Evan pernah menyukainya.


"Kamu jangan panggil Bapak saya sudah bukan atasan kamu lagi," ucap Evan.


"Baik Evan." ucap Anin menatap Evan.


"Saya dengar kondisi perusahaan Dimas lagi merosot, saya cuman mau kasih bantuan,apalagi Dimas juga baru membeli perusahaan itu," ucap Evan.


"Mas Dimas pasti bisa mengatasinya." ucap Anin


"Saya dengar perusahaan dia itu ngalamin kerugian karena kerjasamanya di batalkan," ucap Evan kembali.


"Semoga bisa atasi." ucap Anin singkat.


"Semoga saya doakan, lagipula kasihan kalau Dimas gak bisa atasi perusahaannya di jual ke orang dan kasihan sama Dimas dia pasti susah cari kerja karena ia mantan Ceo." ucap Evan.


"Maaf sebelumnya, tapi lebih baik kamu tidak usah ikut campur urusan keluarga saya, permisi." ucap Anin langsung pergi setelah menenguk air putih.


Evan hanya menatap kepergian Anin kemudian tersenyum kecil, ia sudah lama merindukan Anin meskipun tahu Anin sudah menikah tapi ia masih mencintai Anin jujur saja saat melihat Anin tadi ia masih terpikat dengan wajah cantik itu.


Sedangkan Anin berjalan cepat kembali keruangannya, ia merasa benar-benar kesal sejak dari tadi apalagi sejak berbincang dengan Mamah dan Evan yang sama saja, ia merasa kesal karena mereka menghasut Anin seperti ini.

__ADS_1


Anin tak tahu menahu tentang kondisi perusahaan Dimas karena Dimas tak pernah berterus terang padanya, sekarang orangtuanya sudah tahu dengan kondisi perusahaan Dimas tanpa Anin tahu, ia merasa sedih apa Dimas memang tak menganggapnya sebagai istrinya sampai tentang perusahaannya sendiri ia tahu dari orang lain?.


Anin kemudian teringat dengan kejadian tadi siang saat Dimas memberi kejutanpun rencana dari Dina, Anin hanya tersenyum simpul mungkin memang Dimas menikahinya hanya untuk memenuhi keinginan Alm Kakaknya dan ia tak bisa menganggap Anin sebagai istrinya.


__ADS_2