Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 139


__ADS_3

"Dokter, boleh saya tahu apa penyakit saya?" Tanya Karina pada dokter Albert yang pagi itu kembali memeriksa keseluruhan tubuhnya untuk melihat kondisi pasien stabil sebelum dilanjutkan pengobatan selanjutnya. Tentu saja dengan bahasa Inggris yang fasih membuat dokter Albert menoleh pada dokter Ivan yang ikut menunggui pemeriksaan tersebut.


Sejak sore kemarin saat dokter Ivan diusir dari kamar perawatan oleh Karina. Dokter Ivan masih belum berani untuk bicara. Dia juga belum mendapatkan respon dari Karina tentang penjelasan tentang hubungan sebenarnya mereka. Dan pagi itu dia tetap mendampingi Karina untuk diperiksa oleh dokter Albert yang bertanggung jawab dengan pengobatan Karina di rumah sakit tersebut.


Dokter Albert selain dokter yang dipercaya sebagai spesialis kanker, dokter Albert juga teman seangkatan dokter Ivan saat mereka sama-sama kuliah di fakultas kedokteran di Oxford university. Hanya beda spesialis saja. Dokter Ivan sebagai dokter spesialis kandungan dan dokter Albert sebagai spesialis kanker. Segala macam kanker.


Dokter Ivan malah menatap lekat wajah Karina tak menggubris pandangan mata dokter Albert padanya yang seolah meminta pendapat padanya untuk mengatakan yang sebenarnya atau tidak mengenai pertanyaan Karina. Terakhir mereka bicara, dokter Ivan meminta dokter Albert untuk merahasiakan dulu tentang kanker serviks yang diderita Karina setelah operasi pengangkatan kista di rahimnya.


Karina yang tidak memperdulikan tatapan mata dokter Ivan masih menatap lekat wajah dokter Albert menunggu jawaban dari pertanyaannya. Dokter Albert terlihat menghela nafas panjang sebelum akhirnya menatap Karina kembali.


"Sepertinya lebih baik biar dokter Ivan yang menjelaskannya." Jawab dokter Albert berusaha profesional dan meninggalkan keduanya di ruang perawatan. Karina memejamkan matanya sebentar, hingga kemudian menatap wajah dokter Ivan yang masih setia menatapnya sejak tadi.


"Kau ingin kakak bicara jujur atau bohong?" Ucap dokter Ivan menatap Karina gusar meski berusaha untuk tenang. Sedetik yang lalu tubuh Karina menegang mendengar pernyataan ucapan kakak di kalimat dokter Ivan.


"Maaf dokter Ivan, saya belum mempercayai pernyataan anda kemarin." Jawab Karina tegas membuat dokter Ivan menghela nafas panjang.


"Percaya atau tidak percaya, itulah kenyataannya. Kamu adalah adik kandungku dan juga putri dari dokter Nathan papa kita." Jawab dokter Ivan tak kalah tegas meski masih dengan nada lembut.


Karina terdiam mencerna ucapan dokter Ivan hingga akhirnya dia menghela nafas berat.


"Tolong buktikan pernyataan anda!" Tantang Karina meski sebenarnya di dalam sudut hati kecilnya juga bahagia mendengar kalau dia masih memiliki keluarga kandung meski mereka terlambat menemukannya.


"Okay." Dokter Ivan mengambil tasnya yang ada di sofa di kamar perawatan Karina mengeluarkan sebuah tes DNA yang menyatakan sembilan puluh sembilan persen kalau DNA Karina sama dengan DNA milik dokter Nathan.

__ADS_1


Karina meraih lembar kertas hasil tes DNA itu dengan cepat membaca dengan teliti tulisan itu. Meski bukan seorang dokter, dia tahu betul surat hasil tes DNA itu. Karina menatap tak percaya dan surat itu yang menyatakan bahwa adalah putri dari dokter Nathan. Pemilik rumah sakit kota terbesar di negeri ini, juga pemilik pengusaha terbesar di negarinya pula. Orang terpandang dan terkaya. Itu artinya dia adalah seorang putri dari pengusaha kaya raya tuan Jonathan Mulia.


Karina menoleh ke arah dokter Ivan dengan tatapan tak percaya. Dokter Ivan hanya terdiam menunggu reaksi Karina tanpa mengatakan apapun.


"Adakah hal lainnya lagi? Dan ini .. bagaimana saya tahu jika ini benar-benar saya? Saya tidak merasa dapat izin untuk tes DNA, bisa saja ini milik anda sendiri." Ucap Karina ragu.


Dokter Ivan tampak menghela nafas berat. Kembali dia merogoh tasnya mengambil selembar foto jadul dan menyodorkan pada Karina. Karina menerima dengan tatapan penasaran. Dia hanya tidak yakin kalau dirinya yang dulu hanya seorang anak yang tinggal di panti asuhan yang kebanyakan dari mereka tidak dikehendaki hidupnya oleh orang tuanya mendadak sekarang mendapat kabar kalau dia adalah putri dari seorang bilioner terkaya nomor satu di negaranya.


Wajah Karina membeku melihat wajahnya terpapang jelas di foto yang terlihat jadul itu. Namun dia kembali mengernyit saat melihat foto wanita itu sedikit beda dengan dirinya yang sekarang. Kembali lagi Karina menatap tajam pada foto yang menampilkan wajah muda dokter Nathan yang masih tampak segar seperti pria berusia dua puluh lima tahunan.


"Dia almarhum mamaku dan papa." Ucap dokter Ivan seolah tahu pertanyaan di benak Karina. Sontak Karina menatap wajah dokter Ivan yang terlihat sendu saat membicarakannya.


"Tapi dia...."


"Kau benar, dia sangat mirip denganmu kan? Pasti sesaat kau mengira itu adalah foto kita dan itu tidak mungkin karena kita tidak sedekat itu sebelumnya." Jawaban dokter Ivan dibenarkan Karina dalam hati.


"Saat itu mama tidak tahu saat dibuntuti para penculik hingga mama melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang lumayan tinggi dan hal itu menyebabkan kecelakaan yang membuat mobil mama menabrak pohon dan terguling hingga langsung meledak dan terbakar." Suara dokter Ivan mulai serak mengingat kenangan buruk itu. Itupun hanya didengarnya dari kesaksian seorang yang secara langsung melihat kejadian tersebut. Hingga polisi menyelidiki semua itu adalah karena dikejar seseorang tidak dikenal dan terjadilah kecelakaan tunggal itu.


"Lalu? Apa yang terjadi?" Tanya Karina karena dokter Ivan lama terdiam.


"Kami, papa dan aku hanya menyesalkan semuanya karena tubuh kalian nyaris hangus terbakar tak bisa dikenali lagi. Hingga papa memutuskan untuk langsung mengebumikan kalian yang mengira kalau kalian adalah mama dan adikku." Ucap dokter Ivan menghela nafas panjang dan berat.


"Kalian tidak mengeceknya kalau mereka belum tentu kami kan?" Tanya Karina.

__ADS_1


"Awalnya kami sudah mengira seperti itu tapi saat melihat barang-barang mama sama dengan saat pertama kali mama pakai, kamipun percaya. Hingga beberapa tahun kemudian sang sopir yang selalu menjadi sopir mama datang, mengatakan kalau yang di mobil tersebut bukan kamu." Karina tersentak menatap dokter Ivan lekat.


"Kami kebingungan bagaimana mungkin yang bersama mama bukan kamu padahal kejadian sudah lebih dari lima tahun. Dan setelah itu sang sopir langsung pergi menghilang bagai di telan bumi tidak menjelaskan hal lain apapun lagi. Sepuluh tahun kami mencari keberadaan kamu namun nihil. Hingga kami menyerah karena istri kedua papa tidak terima papa sibuk mencarimu." Jelas dokter Ivan membalas tatapan Karina.


"Istri kedua papa?"


"Ya? Lima tahun setelah meninggalnya mama sebelum sopir itu kembali ke mansion kami, papa menikah dengan sahabat papa. Dia adalah ibu dokter Ibra." Ucap dokter Ivan membuat Karina mengernyit merasa familiar dengan nama yang disebut dokter Ivan.


"Dokter Ibra?"


"Ya, dokter Ibra, dokter yang menemukan keganjilan tentang hasil rekam medismu tentang kista yang kamu derita. Dia adalah adik tiriku dan sekarang menjadi kakak titimu juga." Jelas dokter Ivan lagi.


"Oh begitu ya." Dokter Ivan mengangguk.


"Lalu, bagaimana kalian bisa menebakku?" Tanya Karina terlihat kepo.


"Wajah... kamu sudah melihat wajah mama kan, saat aku bertemu denganmu aku sangat terkejut namun aku tak mau berharap terlalu banyak, hingga aku mengatakan pada papa. Beliau langsung mencari tahu tentang dirimu dan saat itu kau akan memulai pengobatanmu."


"Ah... jadi... saat itu kalian melakukan tes DNA." Tebak Karina.


"Maafkan kami." Keduanya saling diam.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2