Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 151


__ADS_3

Johan berlarian kecil menuju ruang kerjanya. Pagi tadi, dia diberi kabar yang mengejutkannya. Seseorang datang mengklaim sebagai pemilik perusahaan dan akan mengambil alih kursi presiden direktur di perusahaan yang kakaknya bangun. Tentu saja Johan terkejut.


Dia yang belum bersiap apapun untuk ke kantor langsung mengambil langkah seribu mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor tanpa sarapan. Bahkan mandi dan persiapan yang biasanya lebih dari setengah jam, cukup sepuluh menit Johan menyelesaikannya meski dengan dasi yang masih belum dipakainya. Dan dia pun memakainya di dalam mobil serampangan. Dan tentu saja hal itu sangat berantakan.


"Tuan sudah datang?" Sapa Edo tanpa basa-basi melihat tuannya muncul dengan tergesa-gesa meski tampilannya tidak begitu rapi.


"Dimana dia? Siapa yang berani mengklaimnya?" Tanya Johan tidak sabaran.


"Dia di ruangan anda tuan. Dia ingin menggantikan anda katanya." Ucap Edo ragu, mata Johan langsung berkilat tajam padanya. Namun itulah kenyataan yang didengarnya tadi dari pria yang sekarang menduduki kursi presiden direktur perusahaan itu.


Cklek


"Siapa kau berani mengklaim semua ini?" Seru Johan tidak sabaran masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi masih dengan mata tajam dan dinginnya.


Johan melihat kursi kebesaran yang biasanya didudukinya itu berbalik memunggungi dirinya. Dan bisa ditebaknya kalau ada seseorang yang telah duduk di situ dengan yakinnya membuat Johan sebagai tidak sabaran untuk membalik kursi melihat wajah orang yang berani mengklaim singgasananya di perusahaan yang dibangun almarhum kakaknya dengan susah payah.


Cklek


"Permisi." Suara seseorang yang baru masuk ke dalam ruang kerja Johan yang berpenampilan stylish seorang pria berjas hitam kemeja putih dengan celana kain bahan berwarna senada dengan jasnya membuat Johan yakin kalau orang yang baru datang adalah orang kepercayaan dari pria yang berani duduk di kursi ruang kerjanya.


Johan dan Edo serentak menoleh menatap pria yang baru datang tadi. Mengernyitkan keningnya heran dan bertanya-tanya siapa pria itu gerangan namun mereka tampak familiar dengan pria itu. Dia adalah Bramantyo Pamungkas S.H pengacara terkenal di kalangan masyarakat kelas atas yang bisa memenangkan kasus apapun.


"Perkenalkan, nama saya Bramantyo, saya pengacara yang mewakili dari pihak keluarga Mulia." Ucap pengacara yang bernama Bram itu sambil mengulurkan tangannya pada Johan dan Edo.


Johan terdiam, Edo lah yang menerima uluran jemari tangan Bram. Sontak kursi yang membelakangi mereka berputar seratus delapan puluh derajat menatap mereka bertiga.


"Kau sudah datang?" Ucap pria dari balik kursi itu.


"Dokter Ivan?" Suara Johan yang tak percaya melihat siapa yang baru muncul dari balik kursi yang biasa ditempatinya.


"Oh, apa kabar dokter Johan, ah tidak mantan Presdir Johan." Sapa Ivan tersenyum tipis dengan seringai tipis pula yang masih sempat dilihat Johan.


"Apa yang dokter Ivan lakukan disini?" Tanya Johan tidak sabaran menatap dokter Ivan dingin.


"Pengacara saya yang akan menjelaskan." Tunjuk dokter Ivan pada Bram sang pengacara. Sontak Johan dan Edo menoleh ke arah Bram lagi.


"Ehm... saya akan menjelaskan semuanya. Silahkan duduk!" Persilahkan Bram pada Johan dan Edo meski sebenarnya Johan keberatan karena merasa seperti orang asing di ruangannya sendiri. Namun karena dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tidak ada hal lain selain menuruti mereka.

__ADS_1


"Kami mewakili dari pihak nona Karina...."


"Tunggu! Tunggu!"


"Ya?" Tanya Bram pada Johan yang ucapannya disela begitu saja oleh Johan yang terlihat mengernyit dengan tatapan bertanya-tanya.


Di sudut lain, senyum seringai langsung diumbarnya meski tidak ada yang menyadarinya, dialah Ivan. Dia diminta papanya untuk muncul sebagai wakil dari sang adik untuk menggoyahkan perusahaan Johan.


Dan tentu saja karena penderitaan adiknya sebagai tameng untuk Ivan agar bersedia melakukannya karena bagaimanapun, adiknya pasti tak akan menyetujui hal ini jika dia tahu. Tapi sang papa tetap melakukannya demi balas dendam pada keluarga suami adiknya melihat tidak sebentar penderitaan sang adik. Meski secara tidak langsung Johan tidak bersalah. Hanya saja Johan kurang tegas untuk melindungi istrinya membuat Ivan kesal.


"Siapa yang kau sebut tadi?" Tanya Johan menajamkan pendengarannya.


"Nona Karina?"


"Dimana dia?" Tanya Johan penasaran menatap Bram intens berharap memberikan kabar yang diinginkannya. Bram menatap wajah Johan intens, menelisik seluruh wajah pria itu. Dia sudah diceritakan garis besar masalah mereka berdua termasuk perlakuan semena-mena ibu mertuanya yang tidak lain adalah ibu dari pria di hadapannya ini.


Wajahnya menatap penuh harap mendapatkan berita tentang istrinya. Terlihat binar kerinduan dan juga kecewa pada manik hitamnya membuat Bram sontak menoleh menatap ke arah Ivan yang juga ikut menyimak mereka. Namun Ivan menggelengkan kepalanya memberi kode untuk mengatakan yang sebenarnya. Padahal dia sendiri tidak tahu dimana wanita yang dimaksud.


"Maaf, saya tidak tahu. Anda bisa mengatakan pada tuan Ivan." Jawab Bram menggeleng lemah menunjukkan penyesalan. Johan menatap Bram intens mencari kebohongan dimata pengacara itu namun Johan tahu, pria itu tidak berbohong. Bahunya sekejap saja luruh merasa kecewa.


"Non Karina sudah memberikan kuasa penuh untuk mengurus sahamnya pada tuan Ivan. Dan berdasarkan jumlah saham yang dimilikinya non Karina, tuan Ivan berhak mengambil alih wewenang kursi presiden direktur." Jelas Bram yakin yang ingin diacungi jempol oleh Ivan yang mendengar ucapan tegas Bram.


Senyum seringai lagi-lagi terpatri di bibir Ivan sengaja ditampakkan demi mengejek Johan membuat Johan mau tak mau melihat respon dari dokter Ivan yang dihormatinya dulu. Johan yang merasa dirinya tak mampu membantah kembali menoleh menatap Bram.


"Saya tidak bisa percaya kalau belum bertemu orangnya langsung." Jawab Johan tegas.


"Beliau tak mau bertemu anda. Dan silahkan dilihat, ini bukti surat kuasa serah terima dari non Karina untuk tuan Ivan." Jelas Bram sambil mengulurkan sebuah map yang ada tanda tangan Karina di atas materai. Johan sontak mengambil map itu memastikan kebenarannya.


Namun dilihat dari sudut manapun, surat itu asli. Ada tanda tangan Karina, istrinya dalam surat kuasa tersebut membuat Johan tanpa sadar meremas kuat map itu meski isinya bukan aslinya karena yang asli disimpan oleh Ivan di mansion Mulia milik papanya.


"Brengsek. Dimana istriku?" Kesal Johan tak sabaran menarik kerah kemeja Ivan yang membuat Edo dan Bram tentu saja terkejut sontak mencekal Johan berusaha melerai keduanya. Namun Ivan tetap tenang seolah sudah mengira hal itu akan terjadi.


"Lepaskan! Sebelum pengacara saya menjerat anda dengan pasal perlakuan tidak baik apalagi pada atasan anda." Ucap Ivan penuh peringatan. Wajahnya tak lagi ramah pura-pura tak tahu apapun seperti tadi. Kini wajahnya berganti serius. Apalagi saat mengingat penderitaan kesakitan yang dialami adiknya saat bersamanya setahun terakhir ini.


Ivan ingin marah, ingin menghadiahi bogem mentah pada pria di depannya ini. Pria yang dulu dikaguminya karena meski umurnya masih muda. Prestasi dalam bidang kedokteran sudah setara dengan dirinya meski lebih unggul dari dirinya. Namun mengingat perlakuan buruk ibu dari pria di hadapannya begitu buruk pada adiknya membuatnya lagi-lagi emosi.


Keduanya saling menatap penuh permusuhan bersiap untuk perkelahian mungkin jika keduanya tidak ada di sisi mereka melerai.

__ADS_1


"Tuan..." Bujuk Edo membuat Johan mau tak mau terpaksa menghentak kasar kerah kemeja Ivan.


"Saya tidak akan memaafkanmu jika kau menyakiti istriku." Ancam Johan menuding pada Ivan yang malah tertawa terbahak-bahak penuh ejekan dan seringai menakutkan.


"Apa saya tidak salah dengar? Bukankah seharusnya dirimu sendiri yang seharusnya tidak bisa dimaafkan mengingat tidak ada pembelaan dari anda saat ibu anda menghina dan mencaci maki istrimu. Sehingga istrimu sampai menderita?" Ucapan Ivan membuat Johan terdiam. Dia membenarkan semua ucapan Ivan tentang perlakuan ibunya pada istrinya.


"Istriku yang meminta saya untuk diam." Jawab Johan pembelaan diri.


"Lalu? Sampai kapan anda akan diam? Sampai istri anda digerogoti penyakit hingga dia meninggal? Sampai penyakit yang seharusnya sembuh tapi kembali datang karena pikirannya tertekan?" Final Ivan membuat Johan terpundur semakin merasa bersalah.


Merenung semua masa lalu saat dia memergoki ibunya memaki-maki istrinya dan menghina istrinya kasar tanpa belas kasihan. Saat itu Johan hanya diam karena belum menjadi suaminya. Dia tak mau ikut campur terlalu jauh.


Namun saat mengingat dia sudah sah menjadi suaminya, perlakuan buruk ibunya kembali dialami istrinya. Namun karena dirinya sibuk dengan pekerjaannya sampai tak menyadari penyakit kista yang diderita istrinya dan dia lebih mementingkan pekerjaannya.


Sial, maafkan aku sayang, maaf. Batin Johan menjambak rambutnya frustasi.


Namun saat ucapan ibunya terngiang mengatakan kalau bisa saja istrinya meninggal karena penyakit yang dideritanya membuat Johan kembali beranjak mendekati Ivan meski tidak semarah tadi.


"Lalu? Apa yang terjadi pada istriku? Dimana dia? Kau bertemu dengannya? Dia... baik-baik saja kan?" Tanya Johan putus asa membayangkan apa yang dikatakan ibunya menjadi kenyataan.


"Untuk apa? Toh semua sudah terlambat bukan? Kenapa tidak kau tanda tangani saja surat cerainya?" Kesal Ivan menunjuk dada Johan dengan telunjuk jemari tangannya kesal.


"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikannya. Dia istriku. Masih istriku. Aku tidak berencana untuk menceraikannya, baik sekarang atau nanti." Ucap Johan semakin frustasi dan putus asa.


"Dan membiarkan ibumu memanfaatkannya lagi dan memperlakukan buruk padanya lagi? Dan kau lagi-lagi memberikan penderitaan padanya kembali?" Seru Ivan murka menatap Johan nyalang.


"Tidak... sungguh...aku akan melindunginya. Kumohon, beri tahu aku dimana istriku. Kumohon!" Pinta Johan dengan nada penuh frustasi dan putus asa. Tak lupa kedua tangannya ditangkupkan kedadanya memohon dengan sangat pada Ivan yang tahu keberadaan istrinya.


"Tapi..." Ivan menjeda ucapannya melihat reaksi Johan yang terlihat tidak sabaran menunggu lanjutannya. "Bagaimana jika dia menginginkan perceraian itu?"


"Apa?"


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2