
"Ada apa?" Tanya dokter Nathan melihat Ramon masuk ke dalam ruang kerjanya padahal dia tidak memanggilnya. Biasanya Ramon akan datang jika dia memanggilnya.
"Dokter Johan pingsan." Beri tahu Ramon.
"Karena ngidam?" Tebak dokter Nathan.
"Benar tuan." Dokter Nathan terlihat menghela nafas.
"Apa masalahnya?" Tanya dokter Nathan masih belum paham dengan apa yang dimaksud Ramon.
"Nona Karina masih menyangkal dengan kehamilannya." Jawab Ramon.
"Apa karena riwayat penyakitnya?" Tebak dokter Nathan lagi.
"Sepertinya belum ada yang tahu kalau nona Karina sudah sembuh total." Ucap Ramon.
"Biarkan saja!" Jawab dokter Nathan acuh kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun dia kembali terdiam tampak berpikir. Ramon masih setia berdiri di depan meja kerja dokter Nathan.
"Pesankan tiket pesawat untuk pulang besok!" Titah dokter Nathan akhirnya.
"Baik dok." Jawab Ramon dan pergi meninggalkan ruang kerja atasannya.
.
.
"Ukh." Guman Johan meringis merasakan tubuhnya sakit semua. Dia terlalu memaksakan dirinya kali ini. Namun saat dia membuka matanya kali ini tidak ada siapapun di sisinya. Bahkan istrinya juga tidak ada disana. Johan tertawa garing di dalam kamar perawatannya.
Cklek
Johan spontan langsung menutup matanya saat pintu kamar perawatannya dibuka. Berpura-pura belum sadar. Karina masuk ke dalam menatap suaminya yang masih memejamkan matanya tertidur pulas. Karina pun duduk di kursi sebelah ranjang. Menggenggam jemari tangan suaminya erat.
"Maaf mas. Maafkan aku." Guman Karina lirih sambil meletakkan kepalanya di atas jemari tangan suaminya yang digenggamnya.
"Aku... Aku akan melahirkan anak ini." Sontak mata Johan langsung terbuka mendengar kalimat istrinya yang masih meletakkan kepalanya di posisi yang sama seperti tadi, Johan menoleh ke arah istrinya yang membelakanginya sehingga belum sadar kalau suaminya sudah siuman.
"Kau harus berjanji akan menyayanginya ya? Meski tanpa diriku." Guman Karina diakhir katanya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Suara lirih Johan mengejutkan Karina yang sejak tadi kepalanya membelakanginya.
"Mas sudah bangun?" Tanya Karina antusias.
"Jawab pertanyaanku Sayang!" Tuntut Johan mendengar ucapan istrinya tadi yang terdengar ambigu.
"Aku panggil dokter dulu ya mas?" Pinta Karina memelas tak mau terjadi hal buruk lain pada suaminya.
Dokter Ryan yang merupakan sahabat dokter Johan yang datang memeriksanya karena dokter Ryan adalah dokter yang bertanggung jawab dengan kondisi dokter Johan. Dokter Ryan tampak menghela nafas panjang dan berat melihat kondisi sahabatnya. Meski tidak sepucat kemarin saat pingsan.
"Apak kau akan terus seperti ini? Kenapa kau sangat lemah sekali?" Kesal dokter Ryan sambil memeriksa seluruh tubuh Johan.
Karina hanya memperhatikan sambil diam tanpa bicara apapun meski juga merasa bersalah karena dirinya lah yang menyebabkan kondisi Johan down.
"Bagaimana dok?" Tanya Karina setelah Ryan selesai memeriksa dan membereskan peralatannya. Meski Ryan adalah adik tirinya tapi Karina tetap memanggilnya secara formal karena sedang berada di rumah sakit.
"Tidak apa-apa mbak. Hanya butuh istirahat yang cukup dan menghabiskan infusnya." Jawab dokter Ryan tidak galak seperti saat bicara pada Johan tadi. Johan masih diam menatap interaksi keduanya dengan tatapan kosong.
"Banyak makan dan minum obat secara teratur. Kurasa hanya itu yang harus diperhatikan." Ucap Ryan lagi hendak pergi.
"Terima kasih dok." Jawab Karina tersenyum getir.
"Iya dek." Jawaban Karina mampu membuat hati Ryan menghangat karena baru kali ini kakak tirinya itu baru saja memanggilnya seperti itu.
"Aku pergi dulu mbak, masih banyak pasienku." Karina menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Mas sarapan dulu ya?" Tawar Karina bicara lembut menatap suaminya dengan senyuman manisnya.
"Aku tak yakin bisa makan." Jawab Johan terdengar putus asa.
"Dicoba dulu mas meski sedikit. Kata dokter Mira sedikit gak apa yang penting makan." Jawab Karina masih menampilkan senyumannya.
"Sayang." Karina sontak menatap Johan yang tadi sedang menyiapkan sarapan dari rumah sakit.
"Iya mas."
"Mas ikhlas sayang." Ucap Johan menatap istrinya sendu.
__ADS_1
Karina terdiam, menatap Johan intens. Dia mencerna apa maksud dari ucapan suaminya tentang ucapan ikhlasnya. Namun seolah buntu dia tidak bisa berpikir jernih hal apa itu.
"Mas ikhlas, asal sayangnya mas tetap disisi mas. Jadi,...." Johan menjeda ucapannya menatap istrinya lekat.
"Jadi apa mas?" Tanya Karina menatap tanpa ekspresi merasakan firasat buruk.
"Kita ikhlaskan buah hati kita yang penting kamu baik-baik saja di sisi mas. Mas akan selalu di sisimu meski tanpa ada dia." Penjelasan John membuat tubuh Karina membeku terkejut dengan keputusan suaminya untuk aborsi calon anak mereka.
"Jadi mas mengorbankan anak kita dari pada aku? Apa mas setega itu sebagai seorang dokter?" Ucap Karina menatap Johan getir.
"Bukan seperti itu sayang. Mas sudah tahu semuanya kenapa kamu menolak kehamilanmu. Seandainya mas tahu dari awal, aku pun juga akan berperilaku sama denganmu. Jadi, bukannya mas tidak mau membuangnya. Kalau itu sampai membahayakan kalian berdua, lebih baik aku memilih kamu dari pada kehilangan kalian berdua." Ucap Johan sendu.
"Tapi aku ingin mempertahankan calon bayi kita mas."
"Kalau itu membahayakan kalian berdua. Aku menolak." Tegas Johan meski masih dengan nada lemah.
"Tapi mas, aku tidak setega itu membunuhnya." Jawab Karina hingga isakan tangisnya mulai terdengar.
"Kita bisa berobat dulu dan mencari solusi apa yang akan kita lakukan nanti jika ingin mempunyai anak."
"Bagaimana jika itu mustahil? Bukannya mas sangat menginginkan anak?" Ucap Karina masih terdengar sesenggukan.
"Kita bisa adopsi anak dari panti tempatmu tinggal dulu. Meski bukan anak kandung kita, kita bisa mengadopsi mereka."
"Maaf mas, maafkan aku. Tidak bisa menjadi istri dan wanita sempurna untukmu. Hiks... hiks..." Ucap Karina sambil menutup wajahnya kembali menangis berderai air mata membuat Johan terenyuh dan merasa sakit melihat istrinya bersedih.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Jadi, kumohon tetaplah bersamaku apapun yang terjadi. Aku tak butuh orang lain hanya dirimu." Ucap Johan sambil mendekap tubuh istrinya yang masih menangis.
.
.
Pria yang berdiri di luar ruang perawatan Johan berbalik pergi meninggalkan tempat itu bahkan belum sempat dia masuk ke dalam untuk menjenguknya. Dia merasa kalau bukan saatnya mengganggu kebersamaan pasangan suami istri tersebut.
.
.
__ADS_1
TBC