
Hah...hah...
hosh...hosh...
Huf.. huf..
Tit tit tit tit tit tit
Cklek...
Bruak...
Bruk...
Dia menjatuhkan tubuhnya di kursi sofa apartemen itu. Ditemukan siapapun di dalam apartemen itu membuatnya sedikit bernafas lega. Dia mengistirahatkan tubuhnya sebentar setelah lari jauh dari tempat dimana dia dikurung selama ini. Dia tak peduli dengan pria yang menolongnya itu.
Salahnya sendiri kenapa memilih tetap tinggal padahal bisa saja mereka sama-sama melarikan diri. Dan dia tak mau mati konyol membusuk di dalam ruang bawah tanah yang busuk dan kotor itu. Setelah cukup beristirahat, dia pun beranjak ke dalam kamar di apartemen itu tempat biasanya dia tinggal bersama orang terdekatnya.
Segera dia mandi sebentar dan berganti pakaian yang layak sebelum dicurigai dan ditanyai macam-macam tentang apa yang terjadi dengannya nanti. Itu artinya dia harus mengakui kejahatannya selama ini.
Setelah itu dia mulai mengemasi beberapa pakaian, barang secukupnya juga paspor serta identitasnya yang dibutuhkan jika dia ingin melarikan diri. Dia tak mungkin bisa sembunyi dengan tenang di rumahnya jika dia ketahuan melarikan diri. Dia harus pergi, pergi yang jauh. Dari kehidupan semua orang yang mengenalnya bahkan mungkin keluarganya juga.
Meski sebenarnya dia menyesal telah melakukan hal nekat itu. Dia tak mungkin memutar balik waktu selain harus menebusnya di dalam penjara untuk menerima hukuman. Dia tak mau menghabiskan waktunya di dalam penjara lagi. Meski itu penjara ruang bawah tanah sebelumnya atau penjara di kepolisian.
"Rani?" Suara panggilan dari seseorang yang dikenalnya membuat gadis itu terkejut hingga tak sengaja menjatuhkan barang yang dipegangnya.
"Eh, mbak su-sudah pulang?" Jawab Rani gugup gelagapan meraih barang yang jatuh itu.
"Kamu pulang? Dari mana saja kamu selama ini? Kamu tidak memberi kabar ke rumah, mama dan papa menanyakan mu?" Seru Alicia heboh menghampiri adiknya.
"A-aku tidak kemana-mana, hanya..." Alicia menatap selidik pada adiknya menatapnya ke belakang tubuh mendapati tas ransel berisi penuh.
"Kamu mau kemana lagi? Jangan bilang kamu mau kabur lagi?" Tebak Alicia tepat sasaran.
"Ti-tidak mbak, bukan begitu. A-aku... urusanku belum selesai." Jawab Rani gelagapan.
"Urusan apa? Kemana?" Tanya Alicia lagi meneliti tubuh adiknya yang agak kurusan. Matanya berhenti di tangannya yang menggenggam sesuatu.
__ADS_1
"Bu-bukan... begitu mbak..."
"Paspor, kau mau ke luar negeri? Kemana? Urusan apa yang membuatmu pergi ke luar negeri?" Berondong Alicia.
"Mbak, ini urusan. Aku akan segera pulang." Jawab Rani cepat-cepat membereskan barang-barangnya yang sudah disiapkan tadi. Dia berusaha menghindar dari desakan kakaknya.
"Ma." Panggil Cecil dari ambang pintu kamar Rani, Alicia dan Rani yang sejak tadi berdebat mengalihkan pandangannya ke arah suara serempak. Rani tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan mengambil paspor nya cepat.
"Ada apa?" Tanya Alicia ketus. Dia memang tak bisa bersikap ramah pada siapapun termasuk anaknya itu.
"Aku lapar ma." Jawab Cecil polos.
"Sama bibi, mama lagi sibuk." Usir Alicia kembali menatap adiknya tajam.
"Aku tak mau disalahkan oleh papa dan mama karena kau menghilang tanpa kabar. Kalau mereka menghubungimu sebaiknya secepatnya diangkat. Awas kalau sampai papa mama menyalahkanku lagi." Kesal Alicia.
Setelah beberapa waktu lalu Rani ditangkap oleh Riko. Alicia yang tak tahu menahu keberadaan adiknya itu diinterogasi oleh orang tuanya. Bahkan mereka menyalahkannya karena tidak becus mengurus adiknya.
Apalagi selama ini adiknya itu memang tinggal dengannya di apartemen miliknya. Dan itu membuat Alicia kesal, sejak dulu apapun yang dikerjakannya tidak ada yang pernah benar selalu disalahkan hingga hal terkecil apapun. Apalagi setelah adiknya lahir, orang tuanya sangat pilih kasih. Adiknya yang selalu dimanja.
.
.
"Tuan, satu jam lagi ada meeting penting di kantor." Beri tahu Edo saat melihat Johan masih dalam kondisi seperti semalam. Duduk di lantai menyandar di sofa kamarnya menatap ke depan dengan tatapan kosong. Anak buahnya masih dikerahkan untuk mencari keberadaan sang istri. Namun hingga pukul sembilan pagi hasilnya nihil.
"Dimana istriku Edo? Dia belum pulang sejak semalam." Ucap Johan tak menjawab pertanyaan Edo membuatnya menghela nafas panjang.
"Orang-orang kita sedang mencari nyonya tuan, dan saya yakin nyonya tidak akan jauh perginya." Jawab Edo merasa kasihan.
"Panti asuhan Edo, iya... dia pasti disana... kita kesana!" Johan segera beranjak meski tubuhnya lemah namun dia memaksakan dirinya.
"Nyonya tidak ada disana tuan, orang kita baru saja kembali dari sana. Bahkan Bu Merry ikut kemari karena mencemaskan nyonya yang tidak ada dimanapun." Jelas Edo membuat tubuh Johan kembali terkulai ke lantai kamarnya.
"Dimana kamu istriku? Pulanglah! Maafkan aku... maafkan aku sayang.. hiks...hiks..." Tangisan yang terdengar menyayat hati membuat Edo tersenyuh dan kasihan. Baru kali ini dia melihat majikannya seputus asa hari ini.
"Tuan." Guman Edo sendu, dia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.
__ADS_1
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki menaiki tangga menuju kamar Johan membuat Edo menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Dimana bos?" Tanya Riko orang IT kepercayaan Johan. Edo tak menjawab namun matanya melirik dimana Johan berada. Riko menatap tak percaya melihat keadaan bosnya sekarang. Berbeda sekali dengan keadaannya sehari-hari. Selama ini Riko mengenal Johan seorang pria yang kuat dan tegar. Namun baru semalam ditinggal pergi istrinya keadaannya sangat buruk. Baju berantakan, wajah kusut, rambut acak-acakan, tatapan matanya kosong menerawang ke depan.
"Bos." Panggil Riko lirih, namun mampu membuat Johan menoleh dan sontak berdiri mendekatinya.
"Kau sudah menemukannya? Dimana dia? Dimana istriku?" Tanya Johan antusias terlihat berbinar.
Namun hal itu membuat Riko menundukkan kepalanya merasa bersalah. Bukan kabar tentang pencarian istri bosnya yang ingin disampaikan tapi... tentang tawanan mereka yang kabur. Bahkan bosnya belum sempat menemuinya karena sibuk mengurus istrinya pasca operasi pengangkatan penyakitnya. Riko terdiam tak mampu menyampaikannya karena dia tahu sekarang yang ada di pikiran bosnya hanyalah mencari keberadaan istrinya.
"Katakan Riko! Dimana istriku?" Tanya Johan lagi.
"Maaf bos." Jawab Riko masih setia menundukkan kepalanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan lagi-lagi hal itu membuat Johan terkulai lemas jatuh lagi tubuhnya ke lantai.
"Sayang, dimana kamu? Kumohon... pulanglah!"
Bruk
Tubuh Johan pingsan setelah bergumam seperti itu. Mungkin karena terlalu banyak masalah dan kecapekan setelah berputar-putar semalaman mencari istrinya tanpa istirahat dan tanpa makan apapun.
"Bos."
"Tuan."
Seru Riko dan Edo bersamaan.
.
.
TBC
__ADS_1