Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 73


__ADS_3

Pagi ini, Jihan ditemani oleh Sofia sedang berjemur dengan Anja di teras rumah. Sementara di halaman, Zayn asik berlari-lari di dampingi oleh Asih.


"Zayn, hati-hati sayang!" Sofia berteriak, karena nyaris saja Zayn terjatuh, untunglah Asih dengan sigap menahan tubuh gembul bayi itu.


Asih tertawa, "Iya Bu, maaf," jawabnya kemudian.


Jihan hanya tersenyum, ia lalu kembali memperhatian Anja yang hanya menggeliat-menggeliat, kini tubuh Anja sudah semakin gemuk.


"Sini, kalau capek biar ibu yang gendong," ujar Sofia.


"Memangnya Ibu tidak capek? semalam ibu juga ikut bangun waktu anak-anak menangis," jawab Jihan yang tak enak hati. Ibu mertuanya ini benar-benar berhati mulia.


Sebelum menjawab, Sofia tersenyum pada menantunya itu.


"Lebih baik capek badan daripada capek pikiran," setelah mengatakan itu Sofia terkekeh, Jihan bingung sendiri melihat tingkahnya itu.


"Sini, berikan Anja pada ibu," timpal Sofia sambil mengambil Anja di gendongan Jihan, dengan sukarela Jihan menyerahkannya.


"Memangnya Ibu sedang berpikir tentang apa? kenapa sampai capek?" tanya Jihan serius, tak ingin mertuanya ini memendam masalah sendiri, ingin saling berbagi.


"Benar kamu mau dengar cerita ibu?"


Jihan mengangguk.


"Ibu tiap hari berpikir, bagaimana caranya agar kamu dan Arick kembali ke rumah ini," jujur Sofia, ia tersenyum tapi matanya terlihat sangat sendu.


"Tapi ibu tidak memaksa, lagipula rumah kalian tidak terlalu jauh," lanjutnya lagi lalu tertawa miris.


Jihan yang mendengar dan melihat sang mertua merasa sedih, merasa egois telah meninggalkan mertuanya di rumah besar ini sendiri.


Tapi Jihan tak bisa menjanjikan apapun, karena keluar dari rumah ini pun atas keinginan sang suami.


Yang ingin mandiri dan memiliki rumah tangga yang utuh. Tanpa campur tangan kedua orang tua.


"Nanti Jihan rayu mas Arick deh Bu," tutur Jihan mencoba mencairkan suasana, ia bahkan tersenyum sangat lebar.


"Ah masih lama, kalau nunggu kamu rayu Arick."


"Kok gitu?" tanya Jihan penasaran.


"Karena harus menunggu 2 bulan lagi kamu baru bisa pakai lingeri, hahahaha." Sofia tertawa terbahak, sampai-sampai Anja yang berada digendongannya pun bereaksi terkejut.


"Aduh aduh aduh, maaf sayang maaf," ucap Sofia pada Anja, seolah bayi itu sudah bisa diajak bicara.

__ADS_1


Sedangkan Jihan, ia cemberut.


"Nanti kalau Jani sudah pulang, kita syukurannya di rumah ini saja ya Ji," kata Sofia yang mulai membuka obrolan lagi.


Jihan mengangguk menyetujui.


"Bu, sudah 10 menit Anja di jemur, saya bawa masuk dulu." Melisa datang, berniat membawa Anja kembali masuk ke dalam kamar, memakaikan bajunya kembali dan memberi Asi.


"Oh iya, untung kamu ingetin," jawab Sofia, sambil menyerahkan Anja pada babysisternya itu.


Dengan hati-hati, Melisa membawa Anja masuk ke dalam rumah. Jihan dan Sofia masih duduk disana, masih memperhatikan Zayn yang asik bermain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang hari, Anja, Jani dan Zayn sedang tertidur pulas. Siang ini, Sofia ingin menjaga ketiga anak itu, memberi kesempatan Asih dan Melisa untuk makan siang di bawah dan membiarkan Jihan menelpon sang suami.


Biasanya, Asih da Melisa makan secara bergantian. Agar tetap ada yang menjaga anak-anak.


Kini, Asih dan Melisa sudah sampai di dapur, ternyata disana juga ada Santi dan Puji yang akan makan siang. Jadilah semua asisten rumah tangga ini makan bersama.


"Bagaimana Sa, apa kamu betah bekerja disini?" tanya Puji saat semua orang duduk di meja makan khusus para ART.


"Betah Mbak, majikannya baik-baik," jujur Melisa, ia tersenyum sambil memasukan satu suapan ke dalam mulut.


"Sekarang masih enak Sa, kita pegang satu satu, nanti kalau Jani sudah pulang, hem baru repot," timpal Asih ikut buka suara.


"Kalau pak Arick orangnya bagaimana Mbak? apa sebaik Bu Jihan juga?" tanya Melisa, ingat ya, yang dipanggil Mbak itu Puji, Bude itu Santi. hihi


"Pak Arick sekarang baik, kalau dulu iya serem," jawab Puji sambil membayangkan masa lalu, kala Arick masih menjadi manusia Es, dingin.


Santi terkekeh karena sepemikiran dengan Puji, sementara Asih dan Melisa bingung.


"Tapi kalau menurut saya, pak Arick sekarang juga serem. Dia jarang sekali negur saya, jangankan negur, pernah saya mau senyum eh ternyata pak Arick nggak lihat." Asih berpendapat, Santi dan Puji langsung tertawa terbahak.


Sampai-sampai Puji tersedak dan buru-buru meminum air putih.


"Hahahaha, ya Allah Sih Sih, ngenes," ucap Puji setelah tawanya reda.


"Hi, saya jadi takut ketemu pak Arick." Melisa bergidik ngeri, membayangkan wajah Arick yang menyeramkan. Melisa belum pernah bertemu dengan 1 majikannya itu.


"Tidak usah takut, pak Arick itu ganteng kok. Walaupun beliau dingin, tapi tetap enak dilihat," Asih memuji, gadis yang masih masa-masanya jatuh cinta ini tak bisa memungkiri ketampanan sang majikan.


"Hus, jaga mata mu." Sang Bude langsung menegur, Santi melotot dan Asih mencebik.

__ADS_1


Masa memuji saja tidak boleh. Batin Asih.


"Sa kalau kamu mau lihat wajah pak Arick, fotonya ada di ruang tengah, yang besar itu," ujar Asih semangat.


"Itu bukan pak Arick, itu pak Arend." Puji membenahi, foto itu memanglah bukan foto Arick, melainkan foto Arend.


Asih menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kan sama saja sih Mbak." keluhnya pada Puji.


"Ya Beda."


"Ya sama."


Puji dan Asih terua berdebat, Melisa jadi tambah bingung sendiri.


"Jadi sama atau beda?" Melisa buka suara, sedikit menaikkan intonasi suaranya agar perdebatan itu berhenti.


"Sama, pak Arick itu punya kembaran, namanya pak Arend. Tapi pak Arend sudah meninggal, saat mbak Jihan mengandung Zayn," jelas Santi dan Melisa semakin bingung.


Puji dan Asih yang melihat wajah cengo Melisa malah terkekeh, menertawakan gadis yang tidak tahu apa-apa ini.


"Sudahlah, habiskan dulu itu nasimu. Kalau mau tau wajah pak Arick ya lihat saja foto itu. Lagipula sebentar lagi pak Arick pulang," jelas Puji tapi Melisa belum merasa puas.


"Cerita jangan nanggung-nanggung dong Mbak." keluhnya dengan wajah memelas.


Akhirnya dengan sukarela, Santi yang paling tua mulai menjelaskan sejarah yang terjadi di rumah ini.


Ingin Melisa juga tahu dan menghormati semua majikannya. Terlebih sudah terlalu banyak air mata di masa lalu. Kini keluarga ini sudah bahagia, karena itulah sebisa mungkin jangan sampai membuat masalah.


Melisa mengangguk paham, semakin ingin tahu seperti apa majikannya yang bernama Arick. Adik yang rela menikahi istri mendiang kakaknya.


Sangat berhati mulia.


Melisa sedikit tersenyum, belum bertemu secara langsung saja sudah membuat ia kagum.


"Beruntung sekali bu Jihan ya Bude," ujar Melisa ketika cerita panjang lebar itu telah selesai.


"Sangat beruntung." Asih yang menjawab.


Semua orang tersenyum, lalu kembali makan dengan diselingi obrolan ringan.


.


.

__ADS_1


☘☘☘


Bersambung ...


__ADS_2