Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 53


__ADS_3

Jam 9 Arick sudah sampai di Cafe, ia tidak langsung masuk ke ruangannya, melainkan berbelok menuju dapur dan mencari Jodi.


Dilihatnya Jodi yang masih sibuk menata bahan makanan di dalam lemari pendingin berukuran besar itu.


Perlahan, Arick menghampiri.


"Jo," tegur Arick, namun Jodi tak bergeming, mata dan tangannya masih sibuk menata bahan makanan.


"Jo, bisa kita bicara sebentar," ucap Arick lagi dengan perasaan tak enak hati.


Jodi menghelas napas kasar, tak ingin mengganggu karyawan lain yang sedang bekerja akhirnya ia menuruti keingian Arick untuk bicara berdua.


Arick dan Jodi kini berdiri di rooftop bagian belakang, tepatnya dibelakang dapur itu sendiri.


"Maafkan aku Jo." Arick mulai buka suara, mengutarakan maksud hatinya untuk mengajak Jodi bicara berdua.


"Aku tidak bisa memaafkanmu sesama rekan kerja bukan sebagai teman, aku ingin kamu kembali bersikap profesional Rick."


Arick menyadari kesalahan fatal yang telah ia perbuat. 3 hari yang lalu adalah jadwal mengambil bahan produksi untuk 2 minggu kedepan. Karena terlalu sibuk mengurus Jihan, ia telat membayar tagihan hingga hari ke 2, selama 2 hari itu barang tetap ditahan di supplier. Supplier tidak bisa menempatkan bahan-bahan itu ke dalam lemari pendingin, karena sesuai kontrak, jadwal pembayaran dan pengambilan adalah dihari yg sama.


Supplier tidak mau menanggung rugi, jika kembali memasukkan bahan-bahan itu ke lemari pendingin. Karena pelanggannya pun bukan cuma Cafe ini.


Selama 2 hari itu banyak bahan-bahan yang mulai rusak, pihak supplier tidak bisa bertanggung jawab karena ini memanglah salah dari Arick.


Hari ini Jodi menyortir semua bahan yang masih bisa terpakai dan yang terpaksa harus dibuang. Banyak kerugian yang ditanggung Cafe, hanya karena keteledoran Arick.


"Maafkan aku." Hanya dua kata itulah yang bisa dikatakan oleh Arick saat ini.


"Apa solusimu?" tanya Jodi, sebenarnya ia sangat marah. Rasanga ingin membuang semua bahan produksi yang sudah layu dan daging-daging yang tidak segar.


Tapi Jodi sekuat tenaga meredam amarah, dia tahu jika 3 hari yang lalu Jihan sempat pingsan karena darah rendah. Saat itu pasti Arick sangat panik, takut terjadi sesuatu pada anak dan istrinya.


"Aku akan membeli sayur dan daging langsung ke pasar. Jika membeli dari mereka harganya pasti jauh lebih murah," jelas Arick.


Jodi tampak berpikir, menimbang-nimbang solusi yang diberikan Arick. Mungkin akan banyak waktu yang terbuang karena mereka harus memilih sendiri bahan dengan kualitas yang bagus, tapi setidaknya mereka bisa menghemat keuangan.


"Baiklah, siang nanti kita langsung pergi. Aku akan ikut denganmu."


Arick tersenyum getir, bahkan setelah kesalahan yang ia buat, Jodi masih saja bersikap baik terhadapnya.


Hubungan kedua sahabat itu mulai mencair, meskipun masih menyisahkan sedikit rasa tak enak dalam hati satu sama lain.


Selesai dengan Jodi, Arick masuk ke dalam ruangannya. Memerika keuangan Cafe dan mulai membuat anggaran belanja baru untuk menjadi pegangan saat nanti ia berbelanja ke pasar.


Sehabis shalat zuhur, Arick berniat menghubungi sang istri, pamit jika siang ini dia akan pergi dan mungkin pulang larut malam. Tidak bisa pulang sore seperti biasanya.

__ADS_1


Tut tut tut


Sudah ketiga kalinya Arick mencoba menghubungi Jihan namun tetap tidak mendapat jawaban.


Ada apa?


Perasaannya mulai cemas, takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada sang istri. Akhirnya Arick mencoba menghubungi telepon rumah. Dan untunglah, panggilan itu langsung di jawab oleh mbak Puji.


"Ponsel mbak Ji ketinggalan di rumah Mas. Sekarang mbak Jihannya belum pulang."


Arick tercenung, memangnya Jihan pergi kemana? kenapa ia tidak berpamitan?


"Memangnya Jihan pergi kemana Mbak?" tanya Arick penasaran.


"Ke Rumah Sakit Mas, den Zayn sakit_"


"Ya Allah, Zayn masuk rumah sakit? kenapa tidak ada yang memberi tahuku Mbak?" tanya Arick menggebu, bahkan suaranya terdengar cemas dan sedikit membentak.


"Den Zayn_"


"Jihan pergi dengan siapa?"


"Sama ibu Sofia, Asih dan pak Amir Mas."


Tanpa mengucapkan salam, Arick langsung memutus sambungan telepon itu dan berniat menghubungi sang ibu, sofia.


Sofia sedikit menyingkir ketika menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum Bu, bagaimana keadaan Zayn? Zayn sakit apa?" tanyanya beruntun.


Sebelum menjawab, sofia menghela napasnya sejenak.


"Walaikumsalam, tenanglah Rick. Zayn radang tenggorokan. Badanya panas, kami sudah selesai periksa, sekarang hanya tinggal menunggu obat di apotik," jelas Sofia dengan hati-hati. Tidak ingin anaknya ini cemas yang berlebihan.


"Aku akan kesana."


"Tidak usah!" cegah Sofia cepat, sofia tahu jika saat ini Arick sedang sangat sibuk bekerja. Lagipula disini sudah banyak yang menjaga dan merawat Zayn.


"Pulanglah sesuai jam kerjamu, ada ibu disini, nanti sore juga papa mu akan menyusul ke rumah. Jadi tidak perlu mencemaskan Zayn, dia baik-baik saja." Sofia mencoba memberi pengertian.


Tapi Arick tetap memberikan kecemasan yang berlebihan.


"Dimana Jihan?" tanya Arick, Sofia langsung memberikan ponselnya pada Jihan.


Cukup ada waktu yang dibutuhkan untuk menyerahkan ponsel itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum Mas," ucap Jihan takut-takut, ia merasa bersalah karena ponselnya pun tertinggal di rumah.


Jihan dapat mendengar helaan napas yang dikeluarkan oleh sang suami.


"Kenapa tidak memberi tahuku?" tanya Arick, suaranya terdengar dingin, bahkan Arick tidak menjawab salam Jihan.


"Apa bagimu aku masih bukan ayahnya Zayn?"


"Mas, kenapa bicara seperti itu? maafkan aku ya, Zayn baik-baik saja, ini bukan pertama kalinya Zayn radang tenggorokan." Jelas Jihan buru-buru.


Entahlah, entah yang apa yang terjadi pada Arick, ia merasa kenapa selalu gagal menjadi suami yang baik untuk Jihan.


Ia selalu merasa tidak percaya diri bahwa ia bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk Zayn dan si kembar.


Arick menutup matanya sejenak, mencoba menyelami hatinya yang selalu merasa tak tenang.


Terdengar suara pintu ruangan Arick terbuka, dilihatnya ternyata Jodi.


Kegusaran makin terasa menyelimuti, antara ingin pulang dan pergi mengurus pekerjaan.


"Ji, ku tutup teleponnya, Asalamaualaikum"


"Walai_"


Tut!


Telepon itu terputus, bahkan belum sempat Jihan menyelesaikan salamnya.


"Ayo pergi," ajak Jodi dan Arick mengangguk.


Keduanga pergi ke pasar induk Kramajati, Jakarta Timur.


Bagi Jodi ini bukanlah kali pertama ia membeli bahan bahan di pasar, profesinya yang sebagai Chef membuat ia sudah sering keluar masuk ke pasar ini.


Jodi sedikit terkekeh, ketika melihat Arick yang kebingungan berjalan diantara banyaknya orang.


"Bagaimana nasibmu jika kamu pergi sendiri tadi?" tanya Jodi meledek.


"Pikirlah sendiri," ketus Arick kesal, sudah bingung tambah diledek.


Hahaha, Jodi tertawa. Kini persahabatan mereka sudah kembali seperti sedia kala. Tanpa ada beban yang mengganjal di hati keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Jihan hanya menatap ponsel sang ibu yang mati secara sepihak.

__ADS_1


"Sudah teleponnya? ayo kita pulang," ajak Sofia dan Jihan mengangguk.


Berjalan lemah menuju mobil dan pulang.


__ADS_2