Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 93


__ADS_3

Pagi hari, seperti biasa, Arick masih sibuk bekerja dan Jihan hanya menghabiskan waktu di rumah.


Sebelum berangkat, kini Arick masih menggendong Anja dan Jani sekaligus dengan kedua tangannya. Dia duduk di kursi teras rumah, dan Jihan di kursi sebelahnya.


Sementara Melisa dan Asih bermain dengan Zayn di halaman.


"Sayang, nanti pergilah berbelanja, sepertinya kamu sudah lama tidak membeli barang keperluanmu," ucap Arick, ia melirik sekilas sang istri lalu kembali memperhatikan kedua anaknya.


Jihan nampak berpikir, benar juga, pikirnya.


"Tapi semua keperluanku sudah dibelikan ibu Sofia, Mas. Baju saja ibu yang belikan." jelas Jihan, karena memang begitulah adanya, Sofia termasuk suka belanja, dan tiap dia berbelanja selalu membelikan Jihan.


"Memangnya tidak ada yang sedang kamu inginkan?" tanya Arick yang sekali lagi melirik, Jihan menggeleng.


"Oh ya Mas, besok kita ke rumah ibu Nami ya? besok kan Rizky ulang tahun, mas Faruq dan mbak Aluna mau buat syukuran. Anja dan Jani juga belum pernah main kesana." jelas Jihan.


Arick tersenyum, lalu kembali melihat ke arah sang istri.


"Iya sayang, bagaimana kalau kita kesana nanti sore, saat aku sudah pulang kerja. Kita menginap disana, bagaimana?" tawar Arick dan Jihan tersenyum sumringah.


Saking bahagianya, ia tanpa sadar mendekat dan mencium pipi sang suami sekilas, lalu kembali duduk di kursinya sendiri dengan masih senyum-senyum.


"Tanggung sayang, kenapa tidak bibir sekalian?" keluh Arick, ia mendekatkan bibirnya meminta sang istri untuk mencium.


"Mas ih!" senyum Jihan hilang diganti dengan wajah yang cemberut.


Arick terkekeh, lucu.


10 menit kemudian, akhirnya Arick berangkat kerja. Sementara Jihan dan yang lainnya masuk ke dalam rumah.


"Lihat bu Jihan dengan pak Arick, aku jadi ingin segera menikah." ucap Asih yang berjalan beriringan dengan Melisa, Asih menggendong Anja dan Melisa menggendong Jani. Sementara Jihan menuntun Zayn berjalan di depan.


"Aku juga, tapi aku maunya menikah dengan Dimas." jawab Melisa, ia mengulum senyumnya, membayangkan adegan Jihan dan Arick didepan tadi diganti olehnya dan Dimas.


Asih yang melihat senyum itu jadi jijik sendiri.


"Dasar mesum!" ketus Asih.

__ADS_1


Sialnya Jihan mendengar kata mesum itu, Jihan langsung berbalik dan menatap tajam keduanya.


"Asih, bicaranya yang sopan, didengar sama anak-anak loh." Jihan memperingati dan Asih langsung menunduk takut.


"Maaf Bu, saya salah." jawab Asih lirih.


"Maafkan kami, Bu." ucap Melisa menimpali.


Jihan yang melihat itu malah tak jadi marah, ia tersenyum merasa bahagia. Ia pikir Asih dan Melisa akan saling menyalahkan, ternyata mereka saling melindungi.


"Ya sudah, ayo ke kamar," ajak Jihan, ia kembali berjalan dan diikuti oleh keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam 3 sore Arick sudah pulang, sehabis shalat Ashar ia memboyong keluarganya untuk pergi ke rumah Nami.


Seperti biasa, mereka pergi menggunakan 2 mobil. Jihan, Zayn dan Asih ikut dimobil Arick. Sedangkan Anja, Jani, Asih dan Melisa bersama Amir.


2 mobil itu terus beriringan, hingga jam setengah 5 sore mereka sampai di rumah Nami.


"Ibu." jawab Jihan.


Keduanya saling berpelukan dengan erat di ambang pintu utama rumah Nami.


"Ayo masuk." Ajak Nami bersemangat, ia menciumi Anja dan Jani bergantian lalu menggendong Zayn untuk dibawanya masuk.


Mereka semua berkumpul di ruang tengah, Rizky yang kedatangan sepupu-sepupunya sangat senang, terlebih kini Zayn sudah bisa diajaknya main.


Jadilah anak-anak berkumpul duduk di karpet dan didampingi para babysister.


Sementara para orang tua duduk di sofa, berbincang sambil memperhatikan para anak-anak.


"Jadi sekarang kamu sudah menggantikan pak Mardi?" tanya Faruq, setelah Arick bercerita tentang kesibukannya selama ini.


"Iya Mas." jawab Arick singkat.


"Bagus kalau seperti itu."

__ADS_1


Arick dan Faruq terus saling berbincang, keduanya kini sudah memiliki hubungan yang lebih baik. Menerima satu sama lain dengan hati yang terbuka.


Saat ini Aluna juga sedang mengandung anak kedua, baru memasuki usia 2 bulan.


Saat magrib, barulah perbincangan itu selesai. Mereka semua shalat berjamaah di mushola rumah dengan Arick yang menjadi imam.


Sedangkan Jihan dan para babysister memberikan Asi pada anak-anak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu sedang bahagia?" tanya Arick, kini ia dan sang istri sudah masuk ke dalam kamar dan sama-sama berbaring siap untuk tidur. Dilihatnya sang istri yang terus tersenyum tak henti-henti.


"Sangat bahagia." jawab Jihan yang lagi-lagi tersenyum lebar.


"Kenapa?"


Jihan mendekat dan memeluk suaminya erat.


"Dulu, tiap kali kita pulang ke rumah ini kamu selalu saja berselisih dengan mas Faruq, aku senang karena sekarang kalian sudah memiliki hubungan yang lebih baik." jelas Jihan.


Mendengar itu Arick tersenyum, salah satu tangannya mengelus pucuk kepala sang istri.


"Waktu merubah segalanya sayang, dulu kamu juga dingin sekali, sekarang begitu hangat." jawab Arick dengan suara sensual.


Mendengar itu, Jihan buru-buru melepas pelukannya, dan menatap lekat mata sang suami.


"Bukannya terbalik? Mas yang dulu bersikap dingin padaku." bela Jihan dan Arick malah terkekeh.


"Bukan itu sayang, maksudku diatas ranjang." jawabnya dengan terkekeh, apalagi saat melihat wajah sang istri yang langsung cemberut.


Sebelum dadanya dipukul, ia kembali menarik Jihan untuk masuk dipelukannya erat.


"Kalau sesama pria memang seperti itu sayang, susah untuk dekat. Tapi meski begitu bukan berarti bermusuhan. Hanya butuh waktu saja." jelasnya sungguh-sungguh, agar sang istri berhenti merajuk.


Di dalam dekapan sang suami, Jihan mengangguk-angukan kepala.


Keduanya terus saling berpelukan, hingga lambat laun sama-sama terlelap.

__ADS_1


__ADS_2