
Jam setengah 4 sore aku sampai di rumah, Jihan sudah menyambutku berdiri diambang pintu.
Belum juga masuk ke dalam rumah dia sudah menghambur memeluk tubuhku erat, ku ciumi pucuk kepalanya dan ku balas tak kalah erat pelukannya.
"Adek bayinya minta dijengkuk ya Ji?" tanyaku pura-pura polos. Secepat kilat Jihan langsung melepas pelukannya dan memukul dadaku pelan.
"Mas ih, ngomongnya vulgar banget," protesnya dengan wajah cemberut.
Aku gemas sendiri, ku kecup bibirnya sekilas.
"Haduh! kalau liat begini terus, rasanya mbak Puji nggak kuat."
Aku dan Jihan menoleh ke sumber suara, ternyata ada mbak Puji baru datang, ada sekantong plastik ditangannya. Mungkin dia dari warung.
"Tahun baruan kemaren kan mbak Puji sudah pulang, apa sekarang mau pulang lagi ke kampung?" tanyaku, sebelah tanganku menarik pinggang Jihan dan ku dekap erat.
"Nggak usahlah Mas, kalau bisa tolong carikan pekerjaan untuk suami saya saja. Jadi nanti suami saya yang ke Jakarta."
"Hem, maunya," jawabku meledek, kami semua masuk ke dalam rumah.
Sampai di dalam kamar, ku lihat Zayn masih tertidur, belum bangun dari tidur siangnya.
"Mas mandi dulu ya, habis itu shalat Ashar," ucap Jihan.
Kini aku sedang duduk disisi ranjang, ia mendekat dan memberikan handuk padaku.
Dengan sendirinya, Jihan membantuku untuk melepas baju kerja. Dengan telaten ia melepas satu demi satu kancing bajuku.
"Ji, mandi bareng yuk?" ajakku bersungguh-sungguh, rasanya sudah cukup lama kami tidak mandi bersama.
"Aku nanti saja Mas, kalau mandi sekarang nanti gerah lagi."
Aku cemberut, benar juga, sekarang masih jam setengah 4 sore. Jam 4 Jihan masih berkutat didapur untuk masak, jadwalnya mandi memang jam 5.
Akhirnya aku mandi sendiri, seperti biasa, keluar dari kamar mandi aku tak lagi mendapati Jihan disana, setelah menyiapkan baju gantiku, dia langsung keluar dan berkutat di daput.
"Zayn bangun." Sambil memakai baju, aku mencoba membangunkan Zayn.
Yang di bangunkan tidak peduli, tetap terdiam dalam posisi tidurnya.
"Bangun dulu sayang, shalat Ashar." Kini aku memakai celana.
"Sudah sore, mandi biar ganteng dan harum kayak Ayah." Kini aku sedang menyisir rambut sambil memperhatikan pantulan diriku sendiri di dalam cermin.
Selesai menyisir rambut, aku mencium Zayn.
"Hem kecuut." Benar-bebar harum khas bayi.
__ADS_1
"Bangun yuk, bangun yuk," ajak ku sambil menciumi pipi gembul Zayn, sang bayi mulai menggeliat, ku pikir dia bangun ternyata tidur lagi.
Sedikit kecewa, kemudian aku menggelar sajadah dan melaksanakan shalat Ashar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV Jihan
Perutku mendadak mual ketika tercium aroma cabai, ku lirik mbak Puji. Ternyata dia memang sedang membuat sambal, sambal bawang kesukaan mas Arick.
Hemp! ku tutup mulut dan hidungku rapat-rapat, aku benar-benar mual dan mulai pusiang.
Aku sedikit menyingkir dan duduk di meja makan.
"Mbak kenapa?" tanya mbek Puji khawatir, ia mencuci tangannya dan datang menghampiriku.
"Saya nggak bisa cium bau cabe Mbak, mual."
"Walah, kalau begitu saya buang dulu sambel nya."
"Jangan! jangan!" Aku menahan tangan mbak Puji cepat.
"Itu kan sambel kesukaan mas Arick, dia kalau makan harus ada sambel itu Mbak. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja mbak, jangan dibuang. Saya coba nenangin diri dulu," ucapku memberi pengertian.
Ku lihat mbak Puji menghela napas dan kemudian menarik kursi duduk disampingku.
Aku terdiam, bingung.
"Asal Mbak tahu saja, beberapa hari ini mas Arick selalu masuk angin, setelah saya selidiki ternyata beberapa hari ini dia tidur tidak memakai baju. Mas Arick berusaha sebaik mungkin untuk menyenangkan Mbak Ji, sampai dia tidak peduli dengan tubuhnya sendiri," jelas mbak Puji panjang lebar, aku tercenung, benarkah seperti itu?
"Sekarang Mbak Ji ikut-ikutan mau nahan diri buat nyenengin mas Arick, haduh! pusing aku!"
"Sudah, pokoknya sambel itu mau mbak buang." Tanpa persetujuanku, mbak Puji bangkit dan bergegas membuang sambel itu.
Aku terpaku, kembali terngiang dikepala tentang ucapan mbak Puji tadi.
Beberapa hari ini mas Arick masuk angin? ya Allah, hatiku sedih, sangat sedih, demi aku mas Arick sampai menahan sakitnya sendiri.
Pantaslah tiap pagi dia selalu mual dan muntah-muntah, selalu ada saja alasan yang ia berikan. Tapi tiap malam tetap bersedia tidur tanpa menggunakan baju.
Tiba-tiba air mataku mengalir, merasa bersalah yang amat sangat dalam. Aku juga heran, kenapa aku jadi sesensitif ini.
Tanpa berpamitan pada mbak Puji, aku kembali ke kamar, ingin memeluk suamiku dan meminta maaf.
Ku buka pelan-pelan daun pintu itu, dan ku lihat mas Arick baru saja mengucapkan salam, menyelesaikan shalat Asharnya.
Hatiku luruh, dengan berderai air mata aku menghampirinya. Duduk bersimpuh disampingnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang?" tanya mas Arick cemas, ia berbalik dan memelukku erat.
"Apa yang terjadi?" tanyanya lagi, ia mendorong bahuku pelan, ingin melihat wajahku dengan jelas.
"Maafkan aku Mas," ucapku lirih, kedua tangan mas Arick bergerak menghapus air mataku.
"Maaf untuk apa?" tanyanya bingung.
Aku terdiam sejenak, sebelum mulai menjawab.
"Maaf karena aku membuat Mas tidak nyaman, aku selalu meminta Mas Arick untuk tidur tidak memakai baju. Sampai-sampai Mas masuk angin dibelakangku," jelasku dengan sesenggukan.
Mas Arick membelai rambutku, juga merapikan beberapa rambut yang menutupi wajah.
"Ku kira ada apa, sudah jangan menangis lagi." Mas Arick mengangkat wajahku dan mencium bibirku sekilas.
"Iya sih, aku memang masuk angin, tapi tiap pagi aku selalu minum jahe hangat dan juga vitamin. Jadi masih bisa ditangani."
Aku terdiam, aroma tubuh mas Arick memang menjadi canduku saat ini, tapi aku tidak ingin egois.
"Tidak Mas, mulai malam ini Mas harus tidur memakai baju, tapi_"
"Tapi apa?" tanya mas Arick cepat.
"Jangan pakai parfum ya?" lirihku pelan dan ku lihat mas Arick tersenyum lebar.
"Iya sayang," jawabnya sambil menciumi wajahku.
"Oh iya Mas, ada satu lagi," ucapku ragu-ragu setelah mas Arick menarik diri.
"Apa?"
"Em, aku tidak bisa mencium aroma cabe, jadi ...."
"Iya iya, aku paham. Aku tidak masalah makan tanpa sambel sayang, asal makan bersamamu apapun akan terasa nikmat."
Aku mencebik, kenapa malah terdengar seperti pria hidung belang yang sedang merayu?
"Tapi jawab dulu 1 pertanyaanku." Mas Arick memasang wajah serius, aku jadi ikut-ikutan seius mendengar pertanyaan yang ingin ditanyakannya.
"Memangnya kalau sedang hamil tidak boleh melakukan itu ya sayang?"
Aku mengulum senyum, sejak memeriksakan diri di dokter Diah dan aku dinyatakan hamil anak kembar, aku dan mas Arick memang tidak melakukan itu. Aku hanya selalu memeluk erat tubuh polosnya.
"Boleh tidak?" tanyanya lagi dengan wajah penuh harap.
"Boleh Mas," jawabku sambil mendekat dan memberi kecupan kecil pada bibirnya.
__ADS_1