
Isakan tangis terdengar pilu di ruang ICU rumah sakit. Langkah Karina memelan melihat tubuh suaminya luruh di lantai ruan ICU tersebut. Para dokter yang menangani keadaan Ambar hanya terdiam menatap Johan penuh rasa bersalah dan kasihan. Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin demi menyelamatkan ibu mantan rekan dokternya itu. Namun takdir Tuhan tidak mampu membuat seseorang hidup jika sudah menjadi kehendak Tuhan kalau seseorang itu harus menutup usia.
Pada dasarnya manusia itu pasti akan kembali pada-Nya. Hanya waktu dan caranya saja berbeda mereka akan meninggalkan dunia ini. Setidaknya jangan sampai kita terlena dengan urusan dunia sampai melupakan apa yang akan kita bawa ke akhirat nanti.
Air mata Karina luluh dan mengalir deras meski tak terdengar suara tangisannya. Melihat kondisi suaminya yang begitu putus asa dan bersedih karena harus kehilangan ibunya. Satu-satunya keluarga yang tersisa. Dan kini hanya tinggal dirinya keluarga satu-satunya Johan. Istrinya.
Belum lama dia ditinggal kakak kandungnya, kini dia harus ikhlas melihat kematian ibunya karena penyakit jantung yang dideritanya. Lagi-lagi hal itu membuat Karina bersedih. Rasa sakit hatinya melihat keadaan suaminya yang tidak baik-baik saja membuat Karina mendekati perlahan suaminya.
"Istighfar mas, ibu sudah tenang disana." Bisik Karina mendekati tubuh Johan sambil menyentuh bahunya lembut.
"Dia pergi Karin, dia meninggalkan aku sendiri. Ibu... ibu satu-satunya keluargaku pergi Karin." Histeris Johan melihat istrinya benar-benar datang atas permintaan ibunya sebelum beliau meninggal.
"Sabar mas, masih ada aku. Istrimu yang akan bersamamu. Hmm..." Karina bertutur kata lemah lembut membuat Johan akhirnya mampu mengendalikan dirinya mendengar ucapan yang membuat hatinya menghangat.
"Kau tak akan meninggalkanku kan? Kau tak akan membiarkan aku sendiri kan?" Ucap Johan menatap lekat istrinya dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Yang dengan telaten diusap lembut oleh Karina.
"Aku tak akan pergi mas. Aku akan selalu bersamamu." Ucap Karina meski tidak yakin dengan apa yang diucapkannya. Sesaat ucapan papanya melintas di benaknya.
*Apapun?
Ingat apa yang kau janjikan*.
Ucapan tegas papanya tadi sebelum pergi untuk menemui ibu mertuanya dan suaminya membuat Karina terdiam sambil membalas pelukan suaminya yang semakin mengerat seolah takut ditinggalkan olehnya. Karina hanya mampu membalas pelukan itu tanpa mampu bicara apapun. Apalagi isakan tangis suaminya masih terdengar samar meski tidak sekencang tadi.
.
.
Tiga jam setelah proses jenazah dari rumah sakit. Kini jenazah itu telah sampai di mansion milik keluarganya. Yang untung saja belum disegel oleh pihak penagih pinjaman ibunya karena masih diberi waktu sebulan kemudian.
Johan sudah buntu tak memikirkan hal itu, dia akan memberikan mansion keluarganya itu jika memang itulah satu-satunya jalan untuk keluar dari jerat hutang ibunya.
Meski di masa hidupnya ibunya berperilaku tidak baik namun bagaimana pun juga beliau tetaplah ibu kandungnya. Ibu yang melahirkannya. Ibu yang merawatnya sedari dia kecil. Meski rasa bersalahnya pada sang istri masih membekas di hatinya karena perlakuan buruk ibunya saat masih hidup.
Hal itu sudah sedikit membuatnya lega, karena detik terakhir ibunya menghembuskan nafas terakhirnya beliau sudah meminta maaf pada Karina meski tidak bertemu langsung. Johan yakin istrinya seorang yang berjiwa besar pasti akan memaafkan sebelum ibunya meminta maaf secara langsung.
__ADS_1
Para pelayat sudah mulai hadir menyatakan bela sungkawanya kepada Johan. Apalagi dia tak punya sanak saudara lainnya. Hanya tinggal dirinya dan ibunya. Keluarga mendiang ayahnya berada jauh di luar pulau hingga tak bisa hadir hanya mengucapkan turut berdukacita nya lewat panggilan telepon yang dimakhlumi Johan.
Karina terus duduk di sisi suaminya menemani sampai jenazah siap untuk dikebumikan saat seseorang memberi tahu kalau tempat peristirahatan terakhir Ambar sudah siap.
Dengan dituntun Ryan sang sahabat, Johan mengikuti langkah keranda itu menuju tempat peristirahatan terakhir ibunya di TPU tak jauh dari komplek perumahan ibunya tinggal. Karina memilih untuk tidak ikut mengantar kepergian sang ibu mertua.
.
.
Waktu sudah mulai beranjak larut, para pelayat sudah mulai berpamitan untuk pulang yang masih terdiri dari rekan kerja, juga teman serta sahabat Johan. Karina sendiri masih setia menemani suaminya menemui teman-temannya yang hadir sebagai wujud duka cita mereka.
"Istirahatlah! Kau butuh tidur." Ucap Ryan menenangkan sahabatnya yang masih terdiam sejak tadi tanpa mampu bicara apapun.
"Mbak, ajak Johan tidur sudah beberapa hari ini dia tidak cukup istirahat bahkan dia hanya makan saat ingat saja." Saran Ryan yang diangguki oleh Karina menatap suaminya cemas.
"Kita istirahat ya mas?" Ajak Karina membuat Johan menoleh menatapnya.
"Aku tidak mengantuk." Jawab Johan berdiri dari duduknya menuju ruang kerja pribadinya.
"Aku pamit dulu mbak, titip Johan. Aku akan minta izin kan papa untuk mbak agar bisa menginap disini." Pamit Ryan.
"Tidak perlu Ryan, mbak tadi sudah menghubungi papa untuk minta izin menginap. Terima kasih."
"Papa mengizinkan?" Karina mengangguk kaku tak menjelaskan apa yang harus dibayar untuk mendapatkan izin papanya tadi.
Saat jenazah diantar ke tempat peristirahatan terakhir tadi Karina sempat menghubungi papanya. Sedikit perdebatan kecil terjadi. Dan dengan penuh permohonan yang sangat, dokter Nathan pun akhirnya mengizinkan putrinya dengan berat hati dan tentu saja dengan syarat-syarat yang harus ditepati Karina nantinya.
"Aku pamit mbak."
"Assalamualaikum." Karina yang mengucapkannya yang dijawab kikuk oleh Ryan, bagaimana pun juga keluarga besar Mulia masih non muslim.
"Wa... wa'alaikum salam." Jawab Ryan gugup.
.
__ADS_1
.
"Nona butuh sesuatu?" Tanya bibi di mansion mendiang ibu mertuanya.
"Tidak bi, aku akan buat sendiri. Aku mau membuatkan teh hangat untuk suamiku." Jawab Karina lembut tersenyum hangat membuat bibi ikut tersenyum menatap istri putra mendiang majikannya.
"Biar saya bantu non!" Tawar bibi yang diangguki oleh Karina. Dia sendiri sebenarnya juga lelah dan mengantuk. Tubuhnya baru beberapa hari lalu dinyatakan sehat namun jangan terlalu stres dan sibuk. Bisa memicu penyakitnya lagi.
Karina menghela nafas panjang menggumankan istighfar berkali-kali dalam hatinya sambil membuatkan teh hangat untuk suaminya.
Tok tok tok
Karina mengetuk pintu ruang kerja suaminya yang sebenarnya tidak terkunci. Namun dia tak mau menyelonong masuk begitu saja meski di dalamnya adalah suaminya. Dia tak mau mengganggu privasi suaminya. Apalagi sebelum pergi tadi suaminya mengatakan ingin sendiri dulu.
Tok tok tok
Masih belum ada jawaban dari dalam ruang kerja itu. Karina memutuskan untuk membukanya karena pintu itu benar-benar tidak terkunci. Dia pun melongokkan kepalanya menatap dalam ruangan. Namun tak dilihat dimanapun suaminya.
Perasaan cemas dan khawatir melingkupinya dan membuat langsung masuk begitu saja. Meletakkan nampan yang dibawanya di meja terdekat pintu. Karina masuk ke dalam dengan panik karena belum melihat suaminya dimanapun. Namun saat tiba di sofa panjang yang membelakangi pintu membuat Karina menghela nafas lega.
Suaminya terlelap di sofa tersebut sambil memeluk pigura foto keluarganya. Karina tersenyum getir melihat wajah suaminya yang terlihat kehilangan dan lelah itu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak membangunkannya. Karina mencari-cari selimut di sekitar ruangan itu yang biasanya dipakai suaminya saat sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Karina pun menemukannya dan menyelimuti tubuh jangkung suaminya yang hanya mampu menutupinya pergelangan kaki hingga dadanya. Karina mengambil perlahan pigura yang dipeluk suaminya itu. Air matanya ikut menetes saat melihat wajah mendiang mantan suaminya yang juga sudah meninggal itu.
Dan rasa sakit pengkhianatan yang dilakukan oleh mendiang mantan suaminya itu meski dilakukan tanpa sengaja. Tak sanggup lagi Karina segera meletakkan pigura yang berisi mendiang ayah dan ibu serta mantan suaminya juga suaminya sekarang. Dia menelungkupkan pigura itu di meja dan pergi meninggalkan ruang kerja tersebut sebelum rasa sesak menghinggapi dadanya.
.
.
TBC
Beri dukungannya terus.
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1