Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 38


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa kehamilan Anin sudah menginjak tujuh bulan dan membuat semua orang sibuk mengurus persiapan acara syukuran "tujuh bulanan" sesuai permintaan orang tua Anin juga orangtua Dimas.


Kasus Evan juga sudah diselesaikan, ia mendapat banyak tuntutan, selain itu Evan yang sudah sadar dengan kelakuannya sempat meminta maaf pada Anin sebelum ia ditahan di sel penjara.


Tubuh Anin sudah sedikit berisi membuat Dimas sering gemas untuk mencubit pipinya. Tidak banyak aktivitas yang dilakukan Anin sejak awal kehamilan ia tidak banyak bergerak selain tidur dan makan, terutama morning sickness yang sering ia alami membuatnya betah untuk berada dikasur seharian paling-paling keluar kamar hanya melihat Afifa dan bermain sebentar


"Nin, katanya Mauren mau datang?" tanya Mamah dari dapur.


"Iya Mah, masih di jalan kayaknya," jawabnya sambil memasukan potongan jeruk ke mulutnya.


Mauren adalah sahabat paling dekat dengan Anin, mereka berteman sejak sekolah menengah pertama, dulu hanya Mauren sahabat satu-satunya Anin yang paling setia diantara lainnya yang memanfaatkan kecantikan dan kepintaran Anin untuk berteman akrab.


"Mauren tuh siapa?" tanya Dimas yang datang bersama Afifa.


"Temen Anin, dia udah lama tinggal di Singapura sama neneknya dan sekarang baru pulang ke Indonesia katanya mau datang juga ke acara syukuran." ucap Anin.


"Memangnya kamu punya temen?" tanya Dimas yang mendaratkan pantatnya di sebelah Anin.


Plak!


"Duh Anin kok Mas di pukul sih?" ringisnya mengusap tangannya.


"Maksudnya apaan? Jadi Anin gak punya temen gitu?"


"Eh, bukan gitu sayang kan Mas cuma nanya aja lagian gak pernah lihat teman perempuan kamu di sosial media kamu juga gak ada tuh." jawab Dimas.


"Ada kok, Mas aja gak tahu!" ucap Anin jutek sambil terus memakan jeruknya.


"Mas kan sering cek ponsel kamu, tapi gak ada tuh namanya


Mauren, kalian komunikasi lewat apa sih," ucap Dimas penasaran.


"Kita komunikasi lewat telepati!"


"Astaga, sabar Dimas untung cantik, untung istri sendiri kalau orang lain udah di sleding." ucap Dimas dalam hati.


"Afifa mau?" tanya Anin menyodorkan jeruk ke mulut mungil Afifa.


"Kok cuman Afifa yang di kasih, Mas juga mau," ucap Dimas cemberut.


"Oh Mas mau?"


Dimas menganggukkan kepalanya menatap Anin sambil membuka mulutnya.


"Gak ada udah habis, kalau mau buka sendiri aja!" ucap Anin cuek.


"Ya Allah, gini banget nasib gue!" ucap Dimas mengusap dadanya.


Anin yang melihat raut wajah Dimas yang menahan sabar hanya tersenyum. Semenjak hamil suasana hati Anin memang berubah-ubah kadang ia bisa menempel seharian dengan Dimas, kadang juga ia bisa menjauhi Dimas seharian tanpa sebab, entah hormon Ibu hamil atau hanya akal-akalan Anin yang memang senang menjahili Dimas karena bagaimanapun Dimas tak akan marah padanya.


"Nih buat Ayah yang baik hati, penyayang sama anaknya apalagi sama istrinya." ucap Anin menyodorkan potongan jeruk ke mulut Dimas.


Dengan mata berbinar, Dimas membuka mulutnya dan memakan potongan jeruk di tangan Anin, sedangkan Afifa hanya menatap kedua orangtuanya itu sambil tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang sudah tumbuh.


"Mau lagi?" tanya Anin pada Afifa.


Afifa menggeleng, mulutnya sudah belepotan dengan jeruk yang diberikan Anin. Afifa kini menginjak 15 bulan dengan keaktifannya setelah lancar berjalan membuat fokus semua orang teralih padanya, badannya yang berisi ditambah pipi tembemnya membuat orang-orang gemas padanya.


"Bu," ucap Afifa.


"Iya sayang?"


Afifa hanya tertawa, ia belum terlalu lancar berbicara hanya bisa memanggil kata Bu yang sering Anin ulang-ulang setiap hari. Anin mengambil tisu dan mengelap mulut Afifa.


"Nanti kalau Anak kita lahir umur mereka dekatan ya," ucap Dimas.


"Anak kita?" tanya Anin


"Iya anak kita, anak di rahim kamu," jelas Dimas


"Jadi maksud Mas Afifa bukan anak kita?" ucap Anin tak terima.


"Bukan gitu, maksudnya kan Afifa beda Ibunya,"


"Jadi kalau beda Ibu kenapa? kan anak kita juga!" solot Anin tak terima


"Bukan gitu sayang, maksudnya Mas mengarahkan ke anak kita yang dirahim kamu," ucap Dimas.


"Tapi Afifa juga anak kita,"


"Iya sayang iya.. "


"Afifa memang beda ibu, tapi yang produksinya sama!" ucap Anin.


"Iya sayang iya." ucap Dimas


"Sabar Dim, sabar wanita selalu benar" ucap Dimas dalam hati.

__ADS_1


*-*-*-*-*


Anin sudah sedang bersiap-siap untuk acara syukuran yang di adakan ba'da Dzuhur, ia sedang berada di kamar bersama Dimas dan Mamahnya yang membantu Anin untuk berdandan dan memakai kerudung.


Sejak hamil Anin jarang sekali memoles wajahnya dengan bedak, selain karena takut dengan kosmetik yang berbahaya untuk kandungan, selebihnya karena Anin yang sangat malas, terkadang dirinya sendiri pun tak mengerti mengapa sampai semalas ini untuk melakukan aktivitas semenjak ia dinyatakan hamil.


Mamah Anin sudah pergi keluar menyiapkan untuk acara, sedangkan Dimas sibuk dengan ponselnya.


"Mas gimana bagus gak Anin pake kerudung?" tanya Anin selesai berdandan.


"Subhanallah cantik sekali," puji Dimas.


"Mas ih beneran bagus?"


"Beneran cantik banget Anin, muka kamu kan bentuknya oval jadi pakai kerudung bagus,"


"Beneran? Tapi Anin belum siap buat istiqomah berhijab." ucap Anin.


"Niatin semoga bisa istiqomah," ucap Dimas.


"Aamiinn." ucap Anin tersenyum .


"Mas waktu pertama kali lihat kamu pakai kerudung bener-bener terkesima, wajah kamu cantik, putih kalau pakai hijab udah mirip orang arab apalagi hidung kamu mancung," ucap Dimas mencubit hidung Anin.


"Mas mah gitu."


"Beneran sayang, Mas pertama kali lihat kamu berhijab waktu wisuda kamu,"


"Jadi waktu itu Mas langsung jatuh cinta?"


"Iya, tapi Mas inget kan sudah menikah jadi cuman di pendam di hati aja," ucap Dimas berhati-hati.


Anin hanya tersenyum kecil sambil menghadap cermin melihat penampilannya, dengan perut buncit badan yang sedikit berisi Anin hanya tersenyum dengan perubahan pada dirinya.


Dimas memeluk Anin dari belakang, sambil tersenyum menatap ke arah cermin keduanya nampak bahagia, Dimas membalikan badan Anin dan mencium keningnya dan beralih pada bibir ranum Anin yang ia cium dengan lembut.


"Nin, ada Mauren baru datang!" Mamah datang dengan tergesa.


"Iya Mah masuk," ucap Anin.


Mamah menarik tangan wanita yang lebih tinggi darinya dengan kulit putih dan selendang biru yang ia selipkan di lehernya wanita itu masuk ke dalam kamar Anin.


"Mauren." teriak Anin kegirangan.


"Ahh baby kangen,"ucap Mauren tak kalah histeris


"Emangnya gue gak kangen gitu, kangen berat tahu," ucap Mauren membalas pelukan Anin.


"Cewek kalau ketemu emang rempong banget ya" ucap Dimas dalam hati.


"Sorry ya gue baru datang pas acara syukuran kehamilan lo, lagian lo nikah dadakan jadi gak bisa ambil cuti!" ucap Mauren melepas pelukan Anin.


"Iyaa gapapa, udah seneng kamu datang hari ini udah lama kita gak ketemu," ucap Anin.


Mauren mengangguk sambil memeluk kembali Anin dengan begitu bahagia, terlihat seperti keluarga yang baru dipertemukan kembali. Sedang Dimas hanya diam menatap pemandangan haru kedua sahabat itu dan Mamah Anin sudah kembali kebawah lebih dulu.


"Eh Ren ini suami aku Mas Dimas,"


"Mauren." ucap Mauren menyalami Dimas.


"Dimas." ucap Dimas


"Mas kalau gitu ke bawah dulu bantuin yang lain" pamit Dimas.


"Iya Mas." ucap Anin tanpa menatap suaminya itu


"Giliran ada sahabatnya aja suaminya dilupain," batin Dimas.


"Gimana sama kandungan lo, udah tahu jenis kelaminnya?" tanya


Mauren duduk di sisi ranjang.


"Belum, aku sama Mas Dimas gak terlalu pengen tahu jenis kelaminnya, cowok atau cewek gak masalah yang penting lahir dengan selamat dan sehat." jawab Anin mengelus perutnya.


"Ahh gak sabar lihat ponakan gue!!"


"Gimana kabar nenek? Kamu masih mau netap di Singapura atau balik ke Bandung?"


"Gue udah mutusin balik ke Bandung, nenek juga udah sakit-sakitan jadi gue bawa dia pulang tinggal sama nyokap," ucap Mauren.


"Gak usah sedih, sekarang kita udah dewasa." ucap Anin.


Mauren mengangguk kemudian tersenyum pada Anin. Ayah mauren sudah meninggal sejak kelas 9 SMP dulu dan Mamahnya memutuskan menikah lagi dengan temannya yang seorang duda, Mauren yang tidak terima dengan pernikahan kedua Mamahnya membuat hubungan mereka renggang hingga lulus SMA ia memutuskan tinggal di Singapura bersama neneknya yang menikahi lelaki dari negeri Singa tersebut.


*-*-*-*-*


Acara syukuran sudah selesai, tamu-tamu juga sudah pulang lebih dulu hanya tinggal sahabat Dimas, Friska bersama Leona dan Mauren yang berada di sana. Afifa sudah tertidur bersama Dina yang sejak kemarin membantu menjaganya karena Dimas juga ikut sibuk mempersiapkan acara.

__ADS_1


"Dim, itu cewek yang sebelah Anin siapa?" bisik Rendra.


"Oh itu sahabat Anin,"


"Siapa namanya?" tanya Rendra kembali.


"Mauren." ucap Dimas.


"Geulis kitu cewek teh, udah nikah belum?" tanyanya kembali.


"Loe kalau mau kenalan nanya langsung aja ke orangnya." ucap Dimas berdiri.


Rendra hanya menyengir dengan pandangan yang tak beralih menatap Mauren yang sedang tertawa bersama Anin dan Friska, sedangkan Leona jangan ditanya lagi ia sudah menemukan Papah yang bisa ia ajak berbicara berdua bahkan kini ia sudah duduk di pangkuan Giilang sambil berbincang.


"Nasib jomblo cuman lihatin orang-orang ngobrol," ucap Rendra.


"Makanya cepet cari cewek," ucap Gilang yang duduk di sebelah.


"Tenang gue udah ada target di depan mata!" ucap Rendra yakin.


"Siapa?" tanya Gilang.


"Di depan Boy lihat itu!"


"Jangan bilang Friska." ucap Gilang.


"Enak aja, walaupun janda lebih menggoda tapi gadis lebih mempesona," ucap Rendra.


Gilang hanya terkekeh dengan ucapan sabahatnya itu, Rendra memang sangat ceplas-ceplos saat berbicara dengan siapapun tapi untuk otaknya ia paling pintar diantara yang lain meskipun tampangnya ya kalah dari Dimas dan Gilang namun selera humoris dan senyum manisnya mampu memikat kaum hawa, terbukti mantannya banyak dan cantik-cantik.


"Teh, gimana hubungannya sama a'Gilang?" tanya Anin.


"Hubungan apa? Gak ada kok kita cuma teman biasa."


"Teman tapi menikah!" caletuk Mauren yang memang ceplas-ceplos.


Friska hanya tersenyum sambil menatap Gilang yang sedang bergurau dengan Leona, sejujurnya ia juga memiliki rasa untuk Gilang terlebih sifat Gilang yang ke Bapakan dan dewasa membuat dirinya nyaman, namun ia sadar diri sikap Gilang hanya sebatas peduli sesama teman lagipula mana mungkin Gilang mau dengannya yang seorang janda beranak satu.


"Mauren sendiri gimana, sudah ada calon?" tanya Friska.


"Belum teh, belum terlalu mikirin sih," jawabnya cuek.


"Jangan sampai salah pilih pasangan, teteh juga nyesal tapi apa boleh buat," ucap Friska.


"Mungkin jodohnya belum tepat teh, tenang aja inshaallah teteh cepat ketemu jodoh," ucap Anin tersenyum.


Friska mengangguk, Anin memilih untuk berjalan ke dapur menemui Dimas yang berada di sana, sedangkan Friska menghampiri Gilang dan Leona. Mauren berjalan ke arah luar untuk menghirup udara segar.


"Gue kesana dulu ya," ucap Rendra.


"Ngapain?" tanya Gilang.


"Kejar jodoh gue takut dia kabur!" ucap Rendra berjalan keluar.


"Siapa Lang?" tanya Friska.


"Temen Anin yang tadi,"


"Mauren?" ucap Friska tak percaya.


Gilang mengangguk tersenyum, sedangkan itu Anin melihat suaminya sedang makan di meja makan dengan lahap, sejak tadi pagi ia belum sarapan dan makan apapun karena sibuk membantu acara, melihat Dimas yang serius Aninpun menuangkan air putih untuk Dimas.


"Kamu mau makan juga?" tawar Dimas.


"Disuapin." pinta Anin.


"Dasar manja!" ucap Dimas sambil menyuapi Anin.


"Yang lain pulang?" tanya Dimas.


"Enggak lagi pada sibuk masing-masing,"


"Eh temen kamu Mauren itu udah punya ada pacar atau calon?" tanya Dimas sambil menyuapi Anin.


"Belum, kenapa memang?"


"Tadi Rendra nanyain,"


"Ah a'Rendra mah modus paling" ucap Anin.


"Tapi kali ini kayaknya serius, dia cerita ke Mas kalau udah pengen nikah dan dia kalau udah ngomong serius sama Mas itu berarti memang dia ingin," ucap Dimas.


"Tapi Anin gak bisa bantu soalnya Mauren orangnya cuek juga Anin takut kalau jodoh-jodohin."


"Iya biarkan aja mereka kita gak usah ikut campur lagipula kalau memang jodoh gak akan ketuker."ucap Dimas.


"Kecuali Mas yang jodohnya turun!" ucap Anin tersenyum.

__ADS_1


Dimas hanya tersenyum sambil memberikan Anin minum, Dimas bangkit dari duduknya dan mencuci piring bekasnya sendiri, Anin hanya menatap punggung Dimas sambil tersenyum karena suaminya sangat perhatian dan pengertian, bahkan sejak hamil Dimas melakukan semuanya sendiri tanpa mau menyusahkan Anin meskipun Anin sempat protes karena tugasnya sebagai istri merasa diabaikan namun ia mengerti kondisinya saat ini butuh banyak istirahat yang cukup.


__ADS_2