
"Sih, sini temani aku," ucap Melisa sambil menarik tangan Asih untuk mengikuti langkahnya. Kedua gadis ini berjalan dengan buru-buru ke paviliun di belakang rumah utama.
Sampai ditengah jalan, keduanya mendadak terhenti saat melihat sang pujaan sudah menutup pintu paviliun itu dengan membawa sebuah tas ransel di tangan.
Melisa maju mundur, ragu antara ingin menemui atau kembali lagi masuk ke rumah utama.
"Kamu kenapa sih Sa? maju mundur, mau pipis?" ledek Asih, ia tahu temannya ini sedang ragu.
"Tidak usah lebay, kamu ingin menemui Dimas? mau kasih itu?" tanya Asih sambil menunjuk sebotol tuperware yang sedari tadi digenggam oleh Melisa.
Malu-malu Melisa mengangguk, ini adalah botol berisi Jahe Susu. Rencananya akan ia berikan pada Dimas agar tidak masuk angin selama perjalanan.
"Ya sudah sana kasih." kesal Asih karena Melisa malah takut-takut.
"Aku Malu." desis Melisa jujur.
Saking asik berdebat, keduanya tak sadar jika kini Dimas sudah berdiri di hadapan mereka.
"Mbak Asih, Mbak Melisa, ada apa?" tanya Dimas, dan kedua gadis ini langsung berjangkit kaget.
"Astagfirulahalazim." Ucap keduanya kompak, dengan wajah kaku seolah habis melihat hantu.
Asih yang sedari tadi sok berani kini mendadak ikut malu-malu kala menatap mata teduh Dimas.
"Anu Mas, anu_"
Plak!
Melisa langsung memukul lengan Asih yang mendadak gagap anu anu.
Sadar akan kelakuan absurdnya, Asih akhirnya terdiam mencebik.
"Begini Mas ..." Melisa buka suara, tapi ia sedikit memberi jeda menikmati memanggil nama sang pujaan dengan panggilan Mas. Seperti panggilan kesayangan.
Tapi bagi Dimas, itu tidak berarti apa-apa. Dia pikir Melisa dan Asih memanggil ujung namanya, Mas.
"Ini, aku buatkan susu Jahe, bawalah dan minum saat diperjalanan nanti." terang Melisa sambil mengulurkan botol bernuansa ungu muda itu.
Dengan tersenyum, Dimas menerimanya.
Dimas tak tahu, jika senyumannya itu membuat kedua kaki gadis-gadis ini terasa lemah, meleleh.
__ADS_1
"Terima kasih Mbak." jawab Dimas sopan.
Asih yang tidak memberi apapun ikut mengangguk, mengikuti gerakan Melisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 9 pagi, Amir bergegas mengantar sang majikan dan keponakannya ke bandara. Penerbangan Mardi jam 10 pagi, nanti disana mereka akan langsung disambut oleh keluarga.
Sedangkan Arick, tadi ia sudah lebih awal berangkat ke kantor.
Setelah kepergian Mardi dan Sofia, Jihan pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah.
"Sa, Asih, kenapa masih disini? ayo masuk." titah Jihan, dilihatnya kedua babysisternya ini malah melamun menatap mobil Amir yang sudah hilang tak nampak lagi.
"Biasa Mbak, sedih karena ditinggal cemcemannya pergi." Celetuk Puji dengan terbahak, Jihan dan Santi yang mendengar itupun ikut terkekeh.
Bahkan Jihan ikut mengulang satu kata yang menurutnya lucu, "Cemceman."
Lain halnya dengan Asih dan Melisa, yang malah cemberut dijadikan bahan tertawaan.
Puas tertawa, akhirnya semua orang ini masuk ke dalam rumah. Asih menggambil Zayn yang sedari tadi berada di gendongan Puji dan diajaknya main di taman belakang. Sementara Melisa dan Jihan naik ke kamar anak-anak, melihat keadaan Anja dan Jani yang tadi masih tertidur.
Sementara Puji dan Santi mulai berberes rumah.
Saat Jihan dan Memeriksa keadaan 2 bayi mungil itu, ternyata mereka pup dengan mata yang tertutup.
Dengan telaten, Jihan membersihkan Jani sedangkan Melisa membersihkan Anja.
"Kamu tidak merasa jijik Sa?" tanya Jihan, ia menoleh sejenak, melihat Melisa yang dengan cekatan membersihkan Anja. Bahkan sang bayi merasa tak terganggu sedikitpun dengan gerakan yang dibuat oleh Melisa. Benar-benar berbakat, pikirnya.
Melisa tak langsung menjawab, ia tersenyum sejenak.
"Tidak Bu, ini kan profesi saya, sejak lulus SMA saya sudah masuk yayasan, disana diajari beberapa keterampilan tentang merawat anak. Memahami tumbuh kembang bayi, membuat saya menyukai mereka." jelas Melisa jujur.
Mendengar itu Jihan tersenyum, merasa bersyukur, karena anak-analnya dirawat oleh orang-orang yang baik dan berhati tulus.
Selesai membersihkan Anja dan Jani, kedua bayi itu ternyata kembali tidur, tidak jadi bangun.
Ceklek!
Pintu kamar baby ZAJ dibuka, ternyata yang masuk adalah Puji dengan membawa kotak yang dibungkus dengan rapi, seperti sebuah paket.
__ADS_1
"Mbak, kiriman dari mbak Selena." Jelas Puji dan Jihan berOh ria, ternyata cepat juga paket ini datang, pikirnya.
Tanpa mengulur waktu, Jihan langsung menerima paket itu. Ia duduk di sofa dan langsung membukanya secara perlahan.
Ada 5 stel baju, lengkap untuk semua anggota keluarga besarnya, Arick, Zayn, Anja, Jani dan dirinya.
Sesaat, ia tertegun kala melihat baju Zayn dan Arick. Baju pasangan antara ayah dan anak. Dengan warna dan detail yang sama.
Jihan tersenyum mendadak haru.
"Liat dong Bu, baju yang perempuan-perempuan. Kalau yang punya pak Arick dan den Zayn mah Jas biasa." ucap Puji, ia mendekat, duduk bersimpuh di karpet tebal itu dan mulai melihat baju Anja dan Jani.
"Aduh cantiknya, ada hijabnya lagi." ucap Puji, Melisa yang mendengar ikut penasaran, ia pun mengikuti Puji, duduk di karpet itu.
Sebenarnya sudah berulang kali Jihan mengatakan, jika ia dan semua ART bisa duduk di sofa secara bersamaan, tapi seperti merasa tak pantas. ART disini tetap memilih duduk dikarpet, mereka lebih nyaman seperti itu.
Dan akhirnya baik Jihan ataupun Sofia tidak bisa memaksa.
"Mana yang baju Ibu?" tanya Melisa setelah puas melihat baju Anja dan Jani.
Dengan perasaan bahagia, Jihan membuka bajunya, baju dengan warna pastel yang senada dengan Anja dan Jani.
"Cantik sekali." ucap Puji dan Melisa kompak ketika baju itu sudah dibuka dan bentangkan hingga gaun panjangnya menjuntai jatuh ke lantai.
Jihan mengeryit bingung, mendadak perasaannya jadi tak nyaman sendiri kala melihat gaun itu.
"Kenapa Bu? Ibu tidak suka? ini bagus banget Bu, cantik, suer, tidak bohong." ucap Melisa menggebu, karena memang begitulah adanya.
Ia malah bingung kenapa sang majikan sepertinya tidak menyukai gaun itu.
"Apa aku muat memakai baju ini?" Desis Jihan dan untunglah masih di dengar oleh Puji dan Melisa.
"Ohalah, kirain kenapa. Muat kok Mbak, Mbak Ji kan badannya kecil, yang besar ..." Puji terdiam, tak melanjutkan kata-katanya, ia melirik Jihan dan Melisa secara bergantian dan Jihan makin cemberut dibuatnya.
"Tapi kan bagus Mbak kalau itunya besar." bela Puji sambil menunjuk dada sang majikan.
Jihan makin menekuk wajahnya sampai kusut.
Diam-diam Melisa memikirkan bagaimana caranya menutupi itu.
"Ini muat kok Bu, coba saja. Sebelum dipakai, pompa dulu ASInya. Nanti kan setelahnya tertutup sama hijab." jelas Melisa dan diangguki oleh Puji.
__ADS_1
"Bener itu Mbak." ucap Puji mantap.
"Benar?" tanya Jihan ragu, Puji dan Melisa langsung mengangguk cepat.