Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra chapter 6


__ADS_3

"Kau dimana sayang?" Isi pesan Johan siang itu.


"Kapan kau pulang?"


"Katanya kau berkunjung ke rumah papamu?"


"Apa kakakmu yang menjemputmu?"


"Mau ku jemput saat pulang nanti?"


"Apa kau sedang sibuk?"


Johan mengusap wajahnya frustasi melihat pesannya sama sekali tidak dibaca bahkan hanya centang satu sejak tadi. Dan itu membuat Johan sesak seperti saat hari kematian ibunya yang baru beberapa hari yang lalu.


*Aku tahu kau akan menepati janjimu untuk selalu bersamaku.


Aku akan menunggumu sampai kau pulang ke rumah kita sekarang ini.


Tapi kenapa kau belum membalas pesan-pesanku?


Bahkan semua pesanku belum masuk ke ponselmu.


Apa ponselmu low bat*?


Sore itu setelah terbangun dari tidur siangnya yang tidak sengaja terlelap setelah pulang tadi. Johan meraih ponselnya yang berada di meja nakas samping ranjang tempat tidurnya. Namun tetap tak ada panggilan atau pesan dari istrinya. Dan Johan pun mulai mengetik pesan itu tadi.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dia belum melaksanakan kewajibannya untuk ibadah sore. Johan pun berusaha dengan melaksanakan ibadah setelah mengambil wudhu.


Sudah pukul tujuh malam, lagi-lagi ponselnya masih dalam keadaan yang sama. Tidak ada pesan masuk dari istrinya. Pesannya masih sama, centang satu. Johan pun tidak sabaran dan merasakan firasat buruk. Dia pun melakukan panggilan telepon pada nomor ponsel istrinya namun lagi-lagi operator yang menjawab kalau ponsel istrinya tidak aktif.


Johan menatap nanar layar ponselnya. Dia pun menghubungi lagi hingga lima kali namun tetap sama jawabannya. Nomer sedang tidak aktif atau berada di luar area. Johan mulai cemas, panik dan khawatir kalau-kalau kejadian istrinya menghilang beberapa waktu lalu terjadi.


Johan pun segera menyambar kunci mobil dan dompetnya. Dia akan nekat menyusul istrinya ke mansion ayah mertuanya. Sebenarnya mereka berencana besok akan datang menemui ayah mertuanya itu. Namun seharian ini istrinya pergi dari rumah. Hanya meninggalkan pesan kalau dia sedang berkunjung ke mansion papanya.


Itu tepat setengah jam setelah Johan pamit pergi tadi. Namun saat Johan menghubungi nomor istrinya tersebut, operator yang menjawab kalau ponselnya tidak aktif.


Mobil diparkir sembarangan di depan gerbang mansion besar milik ayah mertuanya. Mansion besar, mewah dan berkelas. Johan pernah datang, tapi dulu saat dia masih sekolah menengah atas saat dia masih satu kelas dengan sahabatnya Ryan untuk berkunjung ke mansion mewah itu. Bahkan dia tak mengira kalau mansion mewah itu milik ayah mertuanya saat ini.


"Ada yang bisa dibantu tuan?" Tanya sekuriti mansion mewah itu sopan dan ramah.


"Aku ingin menjemput istriku." Jawab Johan to the point tanpa basa-basi apapun.

__ADS_1


"Maaf, siapa anda?" Tanya sekuriti yang belum mengenal Johan karena dia sekuriti yang baru kerja sebulan di mansion itu.


"Karina, aku ingin menjemput istriku Karina." Jelas Johan dengan tidak sabaran.


"Maaf, sepertinya..."


"Suruh dia masuk!" Titah suara seseorang yang muncul di depan. Dia adalah Ramon, asisten kepercayaan dokter Jonathan. Sekuriti tersebut langsung membungkuk sopan mengenali Ramon.


"Baik tuan." Tegas sekuriti membuka gerbang mansion.


Johan sendiri lupa-lupa ingat dengan Ramon. Dia hanya pernah berpapasan sekali saat mengikuti tuannya ke rumah sakit saat meeting bulanan. Johan memilih acuh karena merasa lega diizinkan masuk ke dalam mansion. Johan sendiri tak tahu kenapa tidak langsung diizinkan masuk oleh sekuriti itu. Kalau orang rumah mengatakan bahwa siapa dirinya seharusnya saat tahu siapa Johan langsung membuka gerbang tanpa banyak ditanyai.


Bahkan saat ini Johan seperti orang asing saja saat bertamu di mansion ayah mertuanya. Johan masuk mengikuti langkah Ramon ke dalam mansion, menyambut Ramon seolah tidak terjadi apapun.


"Tuan besar menunggu anda di dalam." Ucap Ramon setelah tiba di depan pintu ruang kerja dokter Jonathan. Johan mengernyitkan dahi heran, kenapa seformal itu saat ingin mengunjungi ayah mertuanya. Padahal dia adalah menantunya seolah seperti orang asing. Namun Johan tidak memperumit pikirannya hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh asisten kepercayaan ayah mertuanya tersebut.


"Tuan besar, dia sudah datang." Beri tahu Ramon saat mereka masuk ke dalam ruang kerjanya.


Dokter Nathan yang sedang berdiri menatap luar jendela ruang kerjanya masih setia membelakangi pintu tempat dimana kedua orang itu masuk.


"Tinggalkan kami berdua Ramon!" Titah dokter Nathan.


"Baik tuan." Ramon pun keluar dan langsung kembali menutup pintu ruang kerja tersebut.


"Tinggalkan putriku!" Titah dokter Nathan tanpa basa-basi setelah membalikkan tubuhnya menghadap Johan tanpa menjawab sapaan menantunya itu.


Pandangan mata yang dingin, datar dan tajam diberikan dokter Nathan pada Johan yang tubuhnya seketika membeku karena terkejut dengan ucapannya. Bahkan dia masih mencerna ucapan ayah mertuanya yang merasa meragukan pendengarannya sendiri.


"A-apa maksud tuan?" Tanya Johan memastikan pendengarannya tidak salah.


"Huff... Tanda tangani surat cerai itu dan tinggalkan putriku!" Titah dokter Nathan sambil menatap berkas di meja dekatnya kemudian kembali menajamkan pandangannya pada Johan yang masih mematung tak percaya.


*Sebegitu tak sukanyakah ayah mertua dengan hubungan kami?


Dulu saat dirinya menjadi dokter di rumah sakit miliknya. Pria paruh baya, ayah mertuanya itu sangat ramah dan bahkan memujinya berlebihan karena prestasinya sebagai seorang dokter. Tapi sekarang*...


Batin Johan berkecamuk sambil menatap wajah paruh baya ayah mertuanya.


"Sepertinya anda salah dengan hubungan kami." Jawab Johan dengan berani seraya mengepalkan kedua jemari tangannya marah.


"Tidak. Kurasa sudah cukup waktu yang kuizinkan padanya untuk memenuhi janjinya sebagai syarat aku mengizinkannya bersamamu beberapa hari terakhir ini." Jawab dokter Nathan tegas menatap Johan semakin tajam dan dingin.

__ADS_1


"A-apa maksud anda?" Ucap Johan semakin membuat tubuhnya membeku terkejut masih dengan tangan setia mengepal.


"Kau tak tahu?"


"A-apa?"


"Putriku berjanji akan melakukan apapun jika diizinkan dirinya untuk menemui dan menemanimu selama dirimu berduka."


Deg


Dada Johan serasa sesak dan berdegup kencang mendengar ucapan kenyataan apa yang diucapkan ayah mertuanya.


"Bahkan jika hal itu harus meninggalkanmu dan menceraikanmu." Ucap dokter Nathan lagi membuat Johan terdiam membisu tanpa berani menjawab apapun. Entah kenapa terdengar menyakitkan kenyataan yang didengarnya saat ini.


Istriku menjanjikan perceraian jika dia diizinkan menemaninya beberapa waktu yang lalu? Apa dia akan tetap bercerai setelah beberapa hari mereka terlihat mesra seperti pasangan pengantin baru.


"Boleh aku bertemu dengan istriku!" Tegas Johan menatap dokter Nathan dengan berani.


"Tidak. Karina sudah pergi."


Deg


"A-apa maksud anda? Istriku tidak akan meninggalkanku. Dia berjanji akan selalu disisiku menemaniku. Katakan dimana istriku!" Seru Johan mulai kehilangan kesabaran mencoba keluar dari ruang kerja ayah mertuanya mencari istrinya di segala sudut mansion.


"Karin!" Teriak Johan tak peduli lagi dengan kesopanan dan tata Krama.


Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membiarkan istrinya meninggalkannya lagi. Apapun akan dilakukan untuk mempertahankan istrinya berada di sisinya selamanya.


"Karin!"


"Karin!"


Teriakan Johan malam itu mencari di seluruh sudut mansion tanpa dicegah siapapun. Dokter Nathan malah terlihat membiarkan menantunya yang sayangnya masih belum diakuinya sebagai menantu itu mencari dengan puas dimana keberadaan putrinya yang sudah diungsikannya tadi di suatu tempat.


"Karina!"


"KARIN!!!"


Suara teriakan hampir putus asa yang dilakukan Johan tak menyurutkan langkahnya untuk mencari di berbagai tempat namun semuanya nihil. Tak ada istrinya dimana pun. Dia sudah kehilangan seluruh tenaganya namun Johan masih seperti orang gila mencari di segala penjuru mansion dengan berteriak memanggil-manggil nama istrinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2