Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 29


__ADS_3

Dimas menatap Anin yang menangis menaiki tangga, ia melihat wanita cantik itu terlihat seperti tersiksa. Dimas tak mau menyusulnya ia tahu mengapa wanita itu menangis apalagi kalau bukan perkataannya tadi yang sudah melukai hati dan relung jiwanya.


Dimas mengepalkan tangganya ia memukul meja dengan keras hingga jarinya memerah. Bagaimana cara menjelaskan pada Anindira? Ia tak yakin Anin mau berbicara dengannya saat ini.


Dimas berjalan ke arah ruang tamu dan menatap foto berbingkai motif itu, dua bingkai foto terpanjang adalah foto pernikahannya dengan Kirana dulu dan satu lagi pernikahannya dengan Anindira, Dimas menahan tangisnya ia juga merasa tersiksa seperti ini karena kini ia sudah gagal mengakui perasaanya dan terdengar Anin.


"Kirana, aku sudah gagal! Aku membuatnya menangis hari ini," ucap Dimas menatap foto pernikahannya dengan Kirana.


"Kirana bagaimana cara aku menjelaskannya?" tanyanya lagi kemudian berlarih pada foto pernikahannya dengan Anin.


Dimas duduk di kursi, kini ia juga ikut menangis karena merasa gagal menjadi laki-laki dan suami, ia sudah membuat Anindira terluka dan menangis, Dimas mengusap wajahnya dengan kasar.


*-*-*-*-*


Anin menangis tersedu-sedu di kamarnya, hatinya terasa perih dan sakit bahkan rasanya lebih sakit dari pada orangtuanya yang tak peduli padanya. Mengapa Anin bisa jatuh cinta pada Dimas? Mengapa ia bisa berharap Dimas mencintainya? Padahal sudah jelas-jelas pernikahan mereka hanya berdasarkan turun ranjang dan Dimas juga hanya mencintai Kirana ia juga sudah tahu jawabannya.


Anin menghapus air matanya, ia tak mau menyalahkan Dimas dengan ucapannya tadi pada Gilang, ia sudah tahu sejak awal jawabannya ia tak mau menangis ia harus kuat tenang Anin menikah dengan Dimas agar Afifa ada yang merawat iya Anin harus bertahan dan sabar hanya demi Afifa.


Panggilan masuk di ponsel Anin menyadarkannya


"*Hallo,"


"Nin, bisa kita ketemuan?"


"Maaf a'Gilang, Anin lagi gak bisa," ucap Anin


"Sebentar saja Nin, saya tunggu di Caffe biasa*!" ucap Gilang.


"Tapi a.." ucapnya terputus.


Gilang sudah mematikan teleponnya, ada apa Gilang ingin menemuinya? Apakah karena pengakuan Dimas tadi jadi ingin menemuinya? Tanpa berpikir panjang Anin memilih menemui Gilang dan membawa Afifa agar bisa lebih tenang.


Anin sudah menggendong Afifa, ia berjalan keluar kamar sambil sedikit berhati-hati ia tak mau bertemu Dimas rasanya masih sesak. Ia belum melihat Dimas di ruang tengah tak mau berpikiran dimana Dimas berada Anin mengambil kunci motor dan berjalan keluar, namun saat diruang tamu ia melihat Dimas yang tertidur di kursi. Anin terdiam sejenak apakah ia harus izin dulu dengan Dimas, tidak dia tak mau berbicara dengan Dimas saat ini lebih baik ia langsung pergi saja.


*-*-*-*-*


Anin memakirkan motornya di depan Kafe, sambil menggendong Afifa ia memasuki Kafe yang tidak terlalu ramai, aneh sekali Gilang mengajaknya bertemu di Kafedekat kantor Dimas dulu.


"Silahkan duduk," ucap Gilang.


"Makasih." ucap Anin duduk.


"Saya kira kamu gak akan bawa Afifa,"


"Gak mungkin aku tinggalin dia sendirian juga," ucap Anin memberikan empeng pada Afifa.


"Saya sudah pesan makanan untuk kamu, silahkan dimakan," ucap Gilang.


"Makasih, ada apa a ngajak ketemuan?" tanya Anin.


"Saya tahu kamu galau," ucap Gilang.


"Galau?" tanya Anin.


"Kamu tadi dengar percakapan saya sama Dimas kan?" tanya Gilang.


Anin terdiam dan menunduk, ia malas jika Gilang membahas ini kembali, ia memang sedang patah hati.


"Saya tahu kamu patah hati sekarang!" ucapnya kembali.


"Gapapa kok, Anin baik-baik aja," ucap Anin tersenyum pada Gilang.


"Jangan sok tegar kalau kamu mau bersedih silahkan,"


"Anin baik-baik aja a."ucapnya Anin kembali.


Gilang mengangguk sambil memasukkan potongan daging ke mulutnya dan menatap Anin yang sedang tertunduk menatap Afifa, Gilang tersenyum miring bagaimana bisa ia baik-baik saja saat ini terlihat hatinya begitu tersayat.


"Dimas memang brengsek, padahal kalian sudah menikah tapi kenapa dia masih belum mencintai kamu," ucap Gilang sambil mengunyah makanannya.


"Maaf maksudnya?" tanya Anin.


"Nin, kamu gak sadar kalau Dimas itu cinta mati sama Kirana, kalian juga nikah karena turun ranjang kan?" ucap Gilang.


Anin terdiam tak menjawab ucapan Gilang, ia menatap wajah Gilang menatap tajam ke arahnya dengan senyum.

__ADS_1


"Pernikahan tanpa dasar cinta untuk apa, Nin apa kamu bahagia bisa bersama Dimas?" tanya Gilang kembali.


Anin masih terdiam tak menjawab ucapan Gilang, tak lama suara ponsel Anin berbunyi rupanya sebuah panggilan dari Dimas sepertinya ia mengkhawatirkan Anin. Anin hendak mengangkat panggilan Dimas namun Gilang terlebih dulu merebut ponselnya.


"*Halo Dimas."


"Gilang? Dimana Anin?"


"Tenang dia sama gue, lagi


nangis-nangis*," ucap Gilang.


"Kasih tahu gue dimana dia sekarang?" tanya Dimas tegas.


"Gak usah khawatir, loe udah campakin dia kan dia udah bersama orang yang tepat." ucap Gilang.


"*Mana Anin? Gue mau ngomong sama dia!"


"Buat apa? Bukannya jawaban loe tadi jelas*?" ucap Gilang.


"Kasihin handphonenya ke Anin gue mau bicara lang!" ucap Dimas.


Anin yang melihat Gilang berbicara dengan Dimas langsung merebut ponselnya bagaimanapun ia harus memberitahu Dimas keberadaannya.


"Halo Mas." ucap Anin memeluk Afifa.


"Kamu dimana?" tanya Dimas.


"Aku di Kafe deket kantor Mas dulu." ucap Anin.


"Tunggu Mas sekarang ke sana jangan kemana-mana," ucap Dimas mematikan sambungan.


Dimas mengepalkan tangannya saat Gilang yang menerima panggilannya, saat ini Anin sedang bersama Gilang dan membawa Afifa, ia takut terjadi sesuatu pada mereka terlebih Gilang pasti akan nekat setelah ucapannya tadi.


Sedangkan Anin menatap Gilang dengan tatapan heran, mengapa ia begitu tidak sopan merampas ponselnya dan menjawab Dimas, sudah pasti akan menjadi masalah lagi diantara mereka.


"A'Gilang kenapa jawab gitu sama Mas Dimas?" ucap Anin kesal.


"Anin, buat apa kamu bertahan


"Anin rasa ini masalah rumah tangga Anin, a'Gilang gak perlu ikut campur Anin bisa nyelesainnya sendiri!" ucap Anin menatap tajam Gilang.


"Nin, apa kamu bodoh? Kamu mau seumur hidup kamu menikah tanpa cinta dan cuman jadi pemuas nafsu Dimas aja? Dimas pun nyentuh kamu bukan karena cinta tapi buat luapin gairahnya aja!"


"Berhenti menjelekkan Mas Dimas di depan Anin, dia suami Anin dan aa gak berhak buat menjelekannya!" ucap Anin.


"Nin saya suka sama kamu sejak 2 tahun lalu, kita juga udah dekat dan saling terbuka tapi kenapa kamu pilih dia Anin? Dan sekarang jelas-jelas dia tidak mencintai kamu apa saya harus diam?" ucap Gilang.


Anin terdiam, ia menahan tangisnya ia tak mau Afifa mendengar ucapan mereka tadi tidak baik bertengkar di depan anak kecil.


"Nin, seharusnya saat itu kamu jangan terima lamaran Dimas tapi kenapa kamu terima lamaran itu dan kamu menikah dengannya? Bahkan dia gak pernah ada buat kamu Nin " ucap Gilang dengan penuh emosi.


Anin menenangkan Afifa yang menatapnya dengan senyum, Anin mengusap punggung Afifa, ia tidak ingin berbicara apapun dengan Gilang.


"Dimas menikahi kamu untuk mencari pengasuh anaknya Nin, apa kamu gak sadar? Sekarang kamu dengar sendiri kan pengakuannya? Dia gak butuh kamu dia hanya butuh pengurus anaknya Nin, sadar," ucap Gilang.


Keadaan di kafe memang sepi suara Gilang terdengar keras, Friska yang kebetulan sedang menunggu pesanan kopinya tiba-tiba menatap ke arah suara yang terdengar di telinganya, ia melihat Anin yang duduk menggendong Afifa dan melihat laki-laki yang berdiri membelakanginya sepertinya postur tubuhnya tak asing.


Apakah Dimas? Friska selesai mendapatkan pesanan dan ia pun membayarnya, ia memilih duduk sebentar di kursi sambil menatap ke arah Anin yang nampak tertunduk menahan tangis, apakah ia dimarahi Dimas? Tapi postur tubuhnya seperti bukan Dimas dan yang ia tahu Dimas tak pernah memarahi wanita apalagi di tempat umum seperti ini. Ia memilih mendengarkan percakapan antara keduanya.


"Nin, apa kamu bertahan dengan Dimas? Dia sudah jelas-jelas tidak menjawab mencintai kamu dan tidak akan pernah!" ucap Gilang.


"Jawab aku Anin, tolong tinggalkan dia biar aku yang bahagiain kamu," ucap Gilang kembali.


Anin tak menjawab ucapan Gilang ia terdiam, namun ia juga merasa tidak perlu berbicara dengan Gilang, ia hendak berdiri namun tangannya di halangi Gilang.


"Tetap di sini Anin, jangan kembali ke rumah itu dia gak pantas untuk kamu!"


"Lepasin, jangan sentuh Anin!" ucap Anin mencoba melepaskan genggaman Gilang.


"Dengarkan saya Anin, kamu tinggalkan Dimas, saya berjanji akan bahagiakan kamu."


"Lepasin tangan loe Lang!" ucap Dimas datang tiba-tiba.


Anin dan Gilang juga Friska yang duduk di kursi jauh dari mereka terkejut dengan kedatangan Dimas. Friska bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Ngapain loe ke sini?" tanya Gilang dengan tersenyum mengejek.


"Dia istri gue jangan ganggu dia!" ucap Dimas.


"Istri? Maksud loe baby sister ? Dim loe gak cinta sama dia, loe nikahin dia supaya anak loe sama Kirana ada yang rawat kan? Dasar muna!" ucap Gilang.


"Loe gak berhak ikut campur urusan rumah tangga gue dengan Anin lang, dan jangan pernah ketemu Anin lagi gue peringatin loe," ucap Dimas.


"Ikut campur? Gue sama Anin itu deket Dim, loe gak tahu gue sering ketemuan sama dia tanpa sepengetahuan loe!" ucap Gilang kemudian mengeluarkan ponselnya


"Ini foto kita dan ini yang terbaru foto gue sama dia dan bawa Afifa loe gak tahukan Anin sering ketemuan sama gue tanpa sepengetahuan lo?" ucap Gilang menunjukkan foto.


"A'Gilang jangan fitnah!" ucap Anin marah.


"Bukannya gitu kenyataan kan Nin? Pertemuan kemarin pun bukannya kita janjian juga sayangnya kamu malah lupa bawa belanjaan jadinya ketahuan sama Dimas," ucap Gilang.


"A'Gilang, kita gak pernah ketemuan dan kemarin juga kita gak janjian," ucap Anin.


"Dim, loe gak tahukan apa yang sering dia lakukan di luar tanpa sepengetahuan loe kita ketemuan bareng Afifa dan foto ini jadi bukti," ucap Gilang.


Dimas kini mengepalkan tangannya ia kesal dan marah kini Gilang juga menunjukan bukti foto bersama Anin dan Afifa sudah pasti diambil beberapa hari yang lalu.


"Lang, loe tahu Anin istri gue seharusnya loe jauhin dia," ucap Dimas menahan amarah.


"Gue memang jauhin dia, tapi Aninnya sendiri yang ngedekitin gue dan dia curhat ke gue masalah rumah tangga kalian, dia juga sering ngajak ketemuan dan gue tahu kalau loe gak cinta sama dia jadi gak masalah kalau sekarang gue mau rebut dia?" ucap Gilang.


"Gilang, Anin istri gue dan akan tetap jadi istri dan ibu dari anak-anak gue, gue gak peduli dengan semua omongan loe, dan foto ini gue gak peduli gue lebih percaya sama Anin ketimbang loe!" ucap Dimas mengenggam tangan Anin.


Anin tertengun dengan jawaban Dimas, benarkah Dimas mempercayainya? Bahkan ia tidak peduli dengan foto yang ditunjukan Gilang?.


"Dim, apa susahnya sih loe relain Anin buat gue lagipula dia gak bahagia sama loe dan loe juga gak cinta sama dia, anak loe biar gue rawat sama Anin tenang aja gue bakal sayangin dia kayak anak gue sendiri dan loe mendingan urus perusahaan loe yang bangkrut itu!" ucap Gilang.


"Gilang apa kamu gila ngerebut istri orang?" ucap Friska yang datang.


"Friska kenapa ada di sini?" tanya Dimas terkejut begitu juga yang lainnya.


"Aku udah denger percakapan mereka, Lang apa kamu gak waras mau rebut istri sahabat kamu?" ucap Friska.


"Ngapain loe ikut campur? Kenapa juga loe ada di sini bukannya loe di Jakarta?" tanya Gilang.


"Anin kita pulang sekarang?" ucap Dimas.


"Tunggu sebentar loe gak bisa bawa Anin gitu aja!" cegah Gilang meraih tangan Anin.


Dimas bertambah kesal ia ingin sekali menghajar Gilang yang sudah berani memegang tangan istrinya, namun ia tak mau bermain tangan terlebih ada Afifa yang melihat keributan mereka.


"A'Gilang lepasin tangan Anin!" ucap Anin.


"Nggak, kamu gak boleh pulang sama Dimas, dia gak cinta sama kamu Anin!" ucap Gilang.


Friska membantu Anin agar terlepas dari tangan Gilang, ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka namun yang pasti kini Gilang menyukai Anin istri Dimas.


"A'Gilang tahu kenapa Anin gak pernah milih kamu, dari dulu dan gak mau buka hati, karena Anin tahu kamu bukan orang yang tulus mencintai Anin dan Anin gak bahagia itu bukan karena Mas Dimas tapi karena a'Gilang, karena sudah muncul kembali di kehidupan Anin!" ucap Anin tenang.


Gilang terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Anin yang tenang namun menusuk, apakah kehadirannya membuat Anin tak bahagia? Gilang duduk sambil mengusap wajahnya ucapan Anin tadi masih terdengar ditelinganya, Anin belum pernah berkata tajam seperti tadi, Mungkin Anin sangat marah padanya.


"Gilang apa kamu sadar sama yang kamu lakukan!" ucap Friska yang ikut duduk dihadapan Gilang.


"Ngapain loe di sini hah?"


"Kamu kalau cinta sama Anin harusnya kamu relain dia dengan orang yang dia cintai bukan merebut kebahagiaannya," ucap Friska.


"Loe tahu apa? Dimas itu gak cinta sama Anin!"


"Dimas kalau gak cinta sama Anin gak mungkin dia ngejar Anin ke sini, dia juga gak mungkin nikahin Anin gitu aja kalau gak cinta, dia laki-laki bertanggung jawab Gilang bukannya kamu sendiri tahu gimana dia, kalian sahabatan sejak lama dari sebelum aku sama Dimas," ucap Friska.


"Sahabat? Loe bilang dia sahabat? Dia ngerebut Anin, dia nikahin Anin," ucap Gilang.


"Kamu gak pernah tanya gimana perasaan Anin? Memangnya kalau Anin sama kamu pun apa dia bisa bahagia? Lang kalau kamu sekarang mau ngancurin rumah tangga mereka itu sama aja kamu ngancurin kebahagiaan Anin!" ucap Friska kemudian bangkit dari duduknya.


"Bukannya loe ninggalin Dimas? Loe juga ngancurin hidup dia gimana rasanya?" ucap Gilang.


"Karena aku bukan orang baik makanya aku tinggalin dia, dan Anin adalah orang yang tepat untuk dia sekarang kalau kamu rebut Anin dari Dimas bukan hanya satu hati yang kamu hancurkan tapi dua hati Lang, dan kamu lebih jahat dari aku!" ucap Frsika kemudian menenguk kopi dan berjalan keluar.


Gilang terdiam mengatur nafasnya kemudian teringat kenangannya bersama Dimas dulu saat masih sekolah dan kemudian bertemu dengan Anindira, sudah jelas ia bertemu dengan Anindira pun saat Dimas memotretnya pertama kali di Jogja dan Dimas lah orang pertama yang mengagumi Anin bukan dirinya. Gilang merasa pikirannya berputar-putar teringat pertengkarannya dengan Dimas dulu hanya karena Anin mengapa ia sampai seperti ini? Gilang menjambak rambutnya frustasi.

__ADS_1


__ADS_2