Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 140


__ADS_3

"Lalu? Bagaimana dengan pengobatanku?" Tanya Karina membuat dokter Ivan terdiam. Ragu untuk mengatakannya. Terlihat dokter Ivan menghela nafas berat.


"Kamu ingin mendengar kabar baik dulu atau kabar buruk dulu?" Tanya dokter Ivan kemudian menatap Karina lekat dengan tatapan sendu.


"Terserah." Jawab Karina tidak yakin dengan ucapannya juga.


"Begini! Penyakit kistamu sudah hilang total di dalam rahimmu." Dokter Ivan menjeda ucapannya, namun wajah sedihnya masih terpapang jelas di wajahnya. Karina malah mengernyit mendengar kabar yang seharusnya baik itu namun wajah dokter Ivan malah tidak baik-baik saja.


Ah, apa ini karena kabar buruknya juga itu? Batin Karina masih saling menatap satu sama lain.


"Kabar buruknya...?" Dokter Ivan tak melanjutkan ucapannya menatap ragu pada Karina yang terlihat penasaran namun juga raut wajah cemas juga tergambar di wajahnya.


"Kanker serviks yang kini kamu derita akan kita obati." Lirih dokter Ivan masih terus menatap wajah adiknya yang baru saja ditemukan itu.


Berharap adiknya tersebut tidak histeris. Meski penyakit kanker serviks belum ditemukan obatnya tapi jika masih stadium awal tidak menutup kemungkinan akan sembuh total dengan terapi dan kemo.


Deg


Detak jantung Karina berdetak lebih cepat setelah kembali mencerna kalimat terakhir kakaknya itu seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hatinya terasa kosong, keinginannya untuk memiliki keturunan seolah sirna dalam benaknya. Hatinya juga mencelos mendengar vonis penyakit itu.


Dulu memang dokter Ivan sempat mengingatkan agar jangan sampai terlambat untuk pengobatan penyakit kistanya, kalau tak ingin kanker serviks tiba-tiba datang. Apalagi jika dipicu gejala stres dan tekanan berat dalam pikiran itu juga sangat mempengaruhi. Dan ternyata itu semua terbukti benar, rasa kalut, stres dan tekanan membuat Karina melupakan jadwal kontrolnya sehingga penyakitnya tak kunjung sembuh. Dan sekarang meski sudah sembuh bergantian kanker turut datang.

__ADS_1


"Apa...?" Karina kembali terdiam menahan sesak di dadanya sekaligus menahan tangisannya yang hendak keluar.


"Apa sudah sangat parah?" Tanya Karina dengan nada getir menatap wajah dokter Ivan nanar.


"Belum, maksudku masih gejala awal stadium dua. Itulah sebabnya kami membawamu langsung ke rumah sakit ini untuk minta pengobatan pada dokter yang ahli. Dia adalah dokter Albert, dokter spesialis kanker. Dia teman kakak dulu saat kuliah di Oxford university." Jelas dokter Ivan antusias tak mau adiknya terlalu terpuruk.


"Memangnya ini dimana?" Tanya Karina menatap sekeliling kamarnya yang memang tidak seperti rumah sakit di negara asalnya.


"Kita ada di rumah sakit negeri tetangga. Tepatnya di Sing*Pur*. Karena dokter Albert ditempatkan disini, kami membawamu kemari. Dan itu tanpa sepengetahuan dan tanpa seizin suamimu. Karena papa melarang kami, papa marah pada suamimu karena menilai suamimu telah menelantarkanmu. Sehingga papa memutuskan untuk menyembunyikanmu disini. Jauh darinya." Jelas dokter Ivan.


"Sebaiknya memang seperti itu. Jangan kabari dia, aku tak mau dia merasa bersalah! Apalagi jika mengetahui penyakitku yang lain." Dokter Ivan terdiam merasa kasihan pada adiknya yang merasa bersalah pada suaminya merasa tidak sempurna sebagai wanita dan seorang istri.


Dokter Ivan mengelus punggung adiknya mencoba menghibur melihat adiknya mengusap tetesan air mata yang disembunyikan dengan berpaling ke arah berlawanan dengannya. Dan dokter Ivan menyadari hal itu.


"Apa sebaiknya aku mengajukan gugatan cerai kak?" Hati dokter Ivan menghangat disebut 'kak' oleh Karina. Yang itu artinya dia sudah bisa menerima keluarganya.


"Apa kata hatimu? Kakak tidak akan mengaturmu. Seperti katamu, kau yang lebih besar berhak memutuskan hal itu sendiri. Turuti apa kata hatimu!" Ucap dokter Ivan bijak. Karina terdiam mencerna ucapan kakaknya dalam diam. Dokter Ivan ikut diam memberi waktu untuk adiknya berpikir.


"Aku akan menjalani pengobatan ini. Kalau memang dia masih mencintaiku, aku yakin dia pasti akan menungguku pulang. Kami pernah berjanji akan menungguku pulang jika kami terpisah. Siapa yang terpisahkan." Jawab Karina setelah lama berpikir menoleh menatap sang kakak. Dokter Ivan hanya tersenyum mendengar jawaban adiknya.


.

__ADS_1


.


Pengobatan kemoterapi yang akan dijalankan Karina akhirnya dilaksanakan esok harinya dan itu tentu saja setelah penjelasan panjang lebar dokter Albert setelah memeriksa secara keseluruhan tubuh Karina. Juga penjelasan tentang pengobatan yang akan dilaksanakan Karina.


Meski awalnya dia ingin melakukan semuanya di sisi suaminya. Namun mendengar alasan Ivan selaku sang kakak untuk mencegah terjadinya tekanan pikiran dan stres yang mungkin terjadi. Karina memutuskan untuk menyembunyikan diri dari suaminya.


Meski dia tahu hal itu salah karena telah pergi tanpa izin suaminya. Karina melakukan hal itu karena terpaksa. Tak mau melihat suaminya merasa bersalah dan menyesali semuanya. Dan kemungkinan besar suaminya itu akan murka pada ibu kandungnya sebagai penyebab dirinya sampai seperti itu. Sekaligus dia ingin melihat sebesar apa perasaan suaminya terhadap dirinya saat tidak ada dirinya disisinya.


Meski itu terlihat jahat dan mungkin kondisi suaminya tidak akan baik-baik saja, suaminya pasti akan bisa bertahan tanpa dirinya. Dulu suaminya pernah berjanji akan menunggunya pulang selama dan sejauh apapun dirinya pergi.


"Anda sudah siap nona?" Tanya dokter Albert pagi itu saat hendak memulai pengobatan kemoterapi yang mungkin saja akan menyakiti dan membuat tubuh Karina sakit dan mulai mengurangi bentuk tubuh Karina. Seperti tubuh yang mengurus, mual, atau rambut yang akan mulai rontok. Bisa jadi akan benar-benar tidak punya rambut. Dan sekali lagi dokter Albert meyakinkan untuk menyembuhkannya selama pasien sendiri mau ikut berusaha.


"Insha Allah siap dokter." Dokter Albert mengangguk. Setelah alat-alat kedokteran siap untuk melakukan kemoterapi, dokter Albert pun mulai melakukan penyinaran pada rahim dan sekitarnya. Juga berbagai macam prosedur yang biasa dilakukan dokter Albert saat melakukan kemoterapi seperti yang sudah pernah dilakukannya.


Dokter Ivan yang hanya bisa melihatnya dari luar jendela ruang kemoterapi tersebut meringis ikut kesakitan saat sang adik mulai meringis tertahan hingga air matanya terlihat menetes.


Jemari tangan dokter Ivan mengepal melihat adiknya kesakitan. Seandainya bisa dia rela penyakit itu dipindahkan pada tubuhnya saja. Toh tak ada yang merasa menderita saat dirinya terbaring sakit. Sedangkan adiknya ada suami yang mungkin menderita karena kepergian adiknya. Ivan tahu betul bagaimana perasaan Johan pada adik kandungnya itu.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2