Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 106


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, ah tidak, mungkin sudah melewati beberapa bulan.


Kini, Jihan sudah benar-benar mengihklaskan kepergian sang ibu.


Bahkan ada banyak kabar gembira yang akhir-akhir ini ia dapatkan. Pertama, tentang Selena yang sudah hamil. Kedua, tentang Jasmin yang ternyata sudah hamil pula.


Seperti janjian, usia kandungan Selena dan Jasmin sama, 5 minggu.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Arick, baru saja ia keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati sang istri yang duduk disisi ranjang sambil mengulum senyumnya, menatap layar ponsel yang sedang menyala.


Mendengar suara, Jihan langsung mengangkat wajahnya dan menatap kearah sang suami.


Seketika itu juga wajahnya merona, bahkan tanpa sadar ia menelan salivanya sendiri dengan susah payah.


Dilihatnya Arick yang hanya menggunakan handuk, melilit sempurnya, namun tak menutupi semua tubuh itu.


Dada bidangnya terbuka, lengkap dengan beberapa titik air yang masih menempel.


"Mas, kan sudah ku bilang, jangan pakai handuk yang itu, pakai saja handuk kimononya," jelas Jihan dengan gugup yang begitu ketara.


Melihat itu, kini giliran Arick yang mengulum senyumnya. Lucu.


"Ji, aku tidak biasa menggunakan itu. Lebih mudah memakai handuk ini," jelas Arick sungguh-sungguh dan Jihan memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Entahlah, tiap kali melihat tubuh itu ada desiran aneh di seluruh tubuhnya. Seolah darahnya mengalir lebih deras, panas.


"Ini baju gantinya," jelas Jihan, tangan kirinya menunjuk tumpukan kecil baju diatas ranjang, sementara wajahnya masih berpaling ke arah lain.


Melihat itu, Arick menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan agar tawanya tidak pecah.


"Ji, saat mandi tadi tanganku terkilir, aku tidak bisa memakai baju sendiri," ucap Arick lirih, berbohong untuk mendapatkan perhatian lebih dari sang istri.


Mendengar itu, Jihan buru-buru bangkit dan menyentuh tangan sang suami, kiri dan kanan secara bergantian.


"Mana yang sakit? ini atau ini? kok bisa sih Mas, sini duduk," jawab Jihan cemas, ia langsung saja menarik sang suami agar duduk disisi ranjang.


Tapi bukannya menurut, Arick malah menahan badannya dan menarik Jihan agar masuk ke dalam dekapan.


Terasa keras namun begitu nyaman.


Wajah Jihan makin merona, sumpah demi apapun kini ia sangat gugup.


Melihat itu, Arick tak kuasa lagi menahan tawanya. Ia terkekeh lalu memeluk tubuh Jiham erat.


Mendengar tawa sang suami, Jihan mendadak jadi kesal. Ia kini tahu, suaminya baru saja mempermainkan dirinya.


"Ih, mas ngeselin!" keluh Jihan, ia memukul dada itu pelan.

__ADS_1


Masih dengan kekehannya, Arick membuat jarak, namun kedua tangannya masih memeluk pinggang Jihan erat.


"Kamu sih, masih saja merasa malu melihat tubuhku. Padahalkan kita sudah sering saling melihat satu sama lain. Ah tidak-tidak, bahkan kita sudah sering berbagi peluh," ucap Arick menggoda dan makin membuat Jihan bak kepiting rebus, wajah merona yang tak bisa lagi dicegah.


"Ih, mesum," jawab Jihan yang lagi-lagi memukul dada bidang Arick. Ia cemberut dan kembali memalingkan wajah. Malu, kerena wajahnya terasa begitu panas.


"Kalau begitu, aku akan membiasakanmu agar terbiasa dengan tubuh ini," jelas Arick dengan menyeringai dan suara yang dingin.


Suara yang membuat bulu kuduk Jihan berdiri tegak seketika itu juga.


Tanpa aba-aba, Arick lalu mendorong tubuh Jihan hingga terbaring di atas ranjang. Ditindihnya langsung tanpa perlu izin-izin.


Keduanya saling tatap, lekat. Seolah saling membaca isi hati satu sama lain.


"Suami istri adalah pakaian bagi pasangannya," ucap Arick lembut, napas hangat itu menyapu wajah Jihan yang berada di bawahnya.


Jihan hanya terdiam, terhipnotis dan tak mampu berkata-kata apa-apa. Banyak makna dari kalimat yang diucapkan oleh suaminya itu, namun satu yang ia pahami. Bahwa antara dirinya dan Arick adalah sepasang suami istri. Tak ada satupun yang bisa mereka tutupi dari keduanya.


Dengan berani, Jihan menggantungkan kedua tangannya dileher sang saumi, menariknya lebih dekat dan menjangkau bibir itu.


Meyesapnya dalam, menyalurkan semua cinta.


Dengan tersenyum, Arick membalas. Balasan kasar yang belum pernah ia lakukan. Anehnya, Jihan makin meremang kala sang suami menyesapnya dengan begitu keras.

__ADS_1


__ADS_2