
Dimas melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sudah hampir jam sepuluh malam suasana di luar ternyata tidak begitu sepi, ia memikirkan motornya di depan gerobak nasi goreng mas Deni lelaki asal Jogja yang sudah tiga tahun berjualan bersama adiknya.
"Mas nasi gorengnya dua, di bungkus," pesan Dimas.
"Oke mas, pedes atau sedang?"
"Sedang aja"
Setelah mendapat jawaban dari Dimas, Mas Deni langsung beraksi membuat nasi goreng dengan lincah, Dimas menatap ke dalam rupanya kursi hampir penuh dengan orang-orang yang makan, ia pun memilih menunggu di motornya.
"Bang.. Bang.. Di goyang.." tepuk seseorang bermain kencrengan.
Dimas yang terkejut menatap ke sebelahnya dan rupanya dua waria sedang bernyanyi sambil mengoyangkan pinggulnya dan memainkan kencrengan di tangannya. Dimas menatap risih terlebih pakaian mereka yang begitu minim dengan rambut palsu berwarna coklat gelap.
"Aduuhh si Mas nya kok ganteng bingit.." ucapnya menyolek dagu Dimas.
Dengan cepat Dimas merogoh saku celananya dan memberikan uang lima ribu pada mereka sebelum dirinya habis di mangsa dua wanita jadi-jadian ini.
"Makasih Mas ganteng," ucap temannya sambil mengedipkan matanya pada Dimas.
"Mas, nasi gorengnya sudah selesai." panggil Mas Deni.
Dengan cepat Dimas berjalan ke gerobak dan mengambil bungkusan nasi gorengnya dan langsung membayarnya. Mas Deni yang sedang menghitung kembalian uang Dimas tertawa kecil karena ia melihat Dimas yang di goda banci yang sering mangkal di tempatnya.
Sampai di rumah, Dimas langsung mencuci tangannya dan mukanya, dagunya yang tak berdosa sudah ternoda dengan ulah jahil pengamen tadi, ia mengambil dua sendok makan dan piring kemudian berjalan ke kamarnya menemui Anin.
"Asyik nasi gorengnya sudah datang!!" ucap Anin semangat.
"Gara-gara selingkuhan kamu tuh, Mas hampir pingsan," ucap Dimas.
"Hah? Kenapa, Mas berantem?" tanya Anin terkejut.
"Tadi tuh ada banci yang lewat dan ngamen dipinggir Mas, mana nyolek dagu lagi," ucap Dimas sambil bergidik ngeri.
Anin yang sedang membuka bungkusan nasi goreng tertawa sambil menutup mulutnya takut terdengar keluar, Dimas yang melihat tawa Anin kembali kesal namun sedetik kemudian ia ikut tersenyum kecil karena suara tawa Anin, ia sangat senang mendengar suara tawa Anin yang menurutnya sangat indah, meskipun ia sedang kesal jika Anin tertawa ia akan terdiam.
"Maaf Mas, eh tapi gak ada yang lecet kan?" tanya Anin memeriksa wajah Dimas dengan kedua tangannya.
Dimas yang menatap Anin langsung mencium bibir Anin sekilas kemudian mengelus rambut Anin sambil tersenyum. Melihat wajah Anin sudah membuat hatinya kembali damai tak peduli dengan kejadian yang baru saja ia alami demi Anin ia rela di goda banci tadi, tapi hanya kali ini.
*-*-*-*-*
Gilang dan Rendra memutuskan untuk kembali berkumpul di rumah Dimas, tidak ada kegiatan yang mereka kerjakan termasuk Dimas yang baru saja pulang mengecek keadaan toko dan memesan bahan-bahan.
"Dim, gimana jadinya?" tanya Rendra.
"Jadi apaan?" tanya Dimas sambil mengesap kopinya.
"Nyokap Friska datang, langsung akad atau lamaran?" tanya Rendra kembali.
"Tanya Gilang gih!"
"Yang mau nikah siapa?" tanya Gilang.
"Elo ****!" ucap Rendra dan Dimas bersamaan.
"Gue gak tertarik?" jawab Gilang acuh.
"Lo beneran gak ada rasa sama Friska lang? Ya gue tahu lo baru deket sama dia tapi gue rasa kalian cocok-cocok aja apalagi dari tampang lo udah cocok jadi Bapak," ucap Rendra.
Gilang hanya diam sambil mengesap rokok batangnya dan membuang asapnya, sedangkan Dimas memilih diam sambil menyusun lego yang sudah berantakan karena ulahnya anaknya Afifa.
"Menurut lo Friska orangnya gimana?" tanya Gilang pada Dimas.
Dimas terdiam sejenak dan beralih pandang pada Gilang yang kini menatapnya dengan serius.
"Kalian bisa tahu sendiri dia kayak gimana, kita satu sekolah waktu SMA sama dia," jawab Dimas.
"Tapi lo kan yang jalin hubungan sama dia, dan soal dia yang ninggalin lo," ucap Gilang ragu.
"Dia orangnya baik, perhatian selama kita pacaran ya biasa kayak anak muda tapi gak macem-macem!"
"Terus kenapa dia ninggalin loe gitu aja? Lo belum pernah cerita soal ini ke kita," ucap Rendra.
__ADS_1
"Itu mungkin salah gue, karena gue ngerasa kita sering bersama dan ngerasa bahagia, tapi gue gak pernah tanya gimana dengan dia!" jawab Dimas.
"Maksudnya?" tanya Gilang
"Setelah kepergian Bokapnya, kondisi keluarga terpuruk, dia ikut kuliah sama Kakaknya, dan di sana dia di jodohin!"
"Terus kenapa dia terima?" tanya Rendra.
"Gue gak tahu pasti, waktu dia ngasih undangan pernikahannya lo tahu sendirikan gue tabrakan dan trauma,"
"Gue juga takut kayak lo Dim," ucap Gilang tertawa kecil.
"Kita gak pernah tahu kehidupan orang lain dan apa yang terjadi ke depannya, mungkin itu hanya kesalahan tapi udah berlalu,"
"Iya Lang, lo gak usah takut lagipula mungkin bukan keinginannya Friska dijodohin, apalagi sekarang udah cerai" ucap Rendra.
"Gue gak benci sama Friska, cuman kecewa aja, tapi sekarang gue sadar setelah dia ninggalin, gue bisa bangkit,"
"Dan hikmahnya, gue bisa dapetin Anin yang lebih baik lagi dari dia dan sekarang gue bersyukur." lanjut Dimas tersenyum.
Gilang terdiam mendengar ucapan Dimas tentang masalalunya dengan Friska, meskipun bersahabat lama namun tentang berakhirnya hubungan Dimas dan Friska mereka tidak pernah tahu secara langsung, yang mereka tahu Friska sudah menikah.
"Udah Lang jangan kelamaan mikir, gue rasa loe juga punya rasa sama Friska," ucap Rendra.
"Sotoy lo! emang lo gimana nasib cintanya sama Mauren yang habis ditolak mentah-mentah!" ledek Gilang.
"Ehh tenang aja, cinta di tolak aa'Rendra bertindak," ucapnya sambil menyengir.
"Dukun kali." ucap Dimas.
"Tega lo nyamain gue sama dukun, gue bukan dukun, tapi gue punya ilmunya biar cewek klepek-klepek!" ucap Rendra.
"Punya ilmu tapi ditinggalin mantan sama aja boong!" sindir Gilang.
"Kalian kenapa sih kayaknya syirik aja ke gue teh" ucap Rendra kesal.
"Syirik? Ngapain gue syirik, orang gue udah laku udah dua kali lagi nikah lah lo sekali aja belum malah gagal di tengah jalan!" ledek Dimas.
Gilang yang mendengar ucapan Dimas tertawa terbahak-bahak, inilah yang mereka rasakan jika berkumpul bersama yaitu saling meledek satu sama lain, tak peduli umur mereka yang sudah hampir mendekati kepala tiga.
"Gapapa sih, muka gue mirip opa-opa korea masih banyak yang ngantri " ucap Gilang sombong.
"Cihh, opa upin-ipin kali, ehh kalau lo jalan bawa Leona gak yakin ada yang ngincer lo," ledek Rendra.
"Berisik lo tokek!" ucap Gilang.
Dimas hanya tertawa kecil sambil meneruskan kerjaannya menyusun lego tanpa mempedulikan kedua sahabatnya yang sedang berdebat membawa kebung binatang.
*-*-*-*-*
Dimas dan Anin baru saja selesai mengecek kandungan ke Bidan, Anin merasakan kakinya yang sedikit membengkak dan susah tidur, ia juga sering merasakan keram pada perutnya.
"Gimana kata Bidan?" tanya Mamah melipat kain.
"Alhamdulillah semuanya sehat Mah" jawab Anin.
Mereka sedang duduk bersantai di ruang televisi, Dimas sedang bermain di bawah bersama Afifa sedangkan Papah Anin sedang pergi keluar bertemu dengan teman-temannya.
"Dim, si Anin gak ngidam aneh-aneh kan?" tanya Mamah pada Dimas.
"Enggak Mah, kemarin dia cuma minta beli nasi goreng Mas Deni tuh yang di depan," ucap Dimas.
"Syukurlah, Mamah takutnya dia minta aneh-aneh." jawab Mamah.
"Mamah tahu gak, kata Mas Dimas pas dia beli nasi goreng ada banci yang ngegodain," ucap Anin sambil tertawa.
"Oh iya?" ucap Mamah ikut tertawa.
Dimas hanya diam menatap Anin yang kini tertawa sambil memakan potongan buah mangga ke mulutnya yang ia beli tadi sebelum pulang.
"Dulu waktu Mamah ngandung Kirana sama Anin ngidamnya beda," ucap Mamah
"Ngidam apa Mah?" tanya Dimas penasaran.
__ADS_1
"Waktu Kirana Mamah ngidam minum kopi hitam sehari bisa dua kali sampai Papah ngelarang tapi namanya ngidam kan," ucap Mamah.
"Kalau waktu ngidam Anin?" tanya Anin.
"Nah pas ngidam Anin, Mamah malah pengen banyak minum susu putih tapi bukan susu ibu hamil, susu putih biasa," ucap Mamah.
"Mamah mah ngidamnya gak aneh-aneh." ucap Dimas.
"Iya tapi setelah mereka lahir Mamah baru sadar, Kirana lebih hitam sedikit tapi manis nah Anin kulitnya kayak bule waktu bayi banyak banget yang ngira Anin bukan anak Papah karena mereka bilang Anin mirip bule," ucap Mamah tertawa.
"Wahh Nin, jangan-jangan.." goda Dimas.
"Apa sih Mas" ucap Anin .
"Kirana itu item manis anaknya dia juga ramah, kalau Anin memang cantik putih, tapi agak sedikit judes mukanya, kamu lihat aja sendiri kan Dim" ucap Mamah tertawa
"Iya Mah, kelihatan judesnya." ucap Dimas ikut tertawa.
"Kalian jahat banget sama Anin!" ucap Anin cemberut.
"Nah kalau cemberut gini tambah kelihatan loh judesnya!" tambah Dimas.
"Ihh apaan, enggak juga," ucap Anin.
Mamah hanya tersenyum melihat tingkah Dimas yang sedang menggoda Anin bersama Afifa yang ikut tertawa, ia sendiri tak menyadari moment seperti ini belum pernah terjadi bahkan saat Kirana masih ada Mamah dan Papah tak bisa sehangat ini.
*-*-*-*-*
Gilang masih di rundung kebinggungan dengan perasaannya sendiri, sudah tiga hari sejak Friska melarangnya bertemu dengan Leona membuatnya merasa sedih terlebih ia merindukan gadis kecil itu yang sudah beberapa bulan bersamanya.
"Kenapa melamun?" tanya Mamah Gilang
"Nggak papa Mah" ucap Gilang tersenyum.
"Nak, Mamah gak pernah larang kamu untuk nikah sama siapapun, Mamah dukung kamu kalau pilih Friska" ucap Mamah.
"Maksudnya Mah?"
"Mamah tahu kamu suka dengan dia kan? Kamu juga senang dengan Leona anaknya, Mamah dukung kalau mau milih dia jadi istri kamu apalagi dia orangnya baik,"
"Gilang gak punya perasaan apa-apa sama dia." ucap Gilang.
"Jangan bohongi perasaan kamu sendiri, Friska orang baik meskipun masalalunya dia pernah gagal tapi mamah yakin dia juga pasti mau membuka hatinya untuk kamu!"
"Gilang takut, takut kecewakan dia." ucap Gilang tertunduk.
"Kalau gitu kamu perjuangin dia, jangan jadi pecundang kayak gini, dengan kamu ngehindari dia kamu sudah mengecewakan dia," ujar Mamah.
Gilang mengangkat kepalanya menatap Mamahnya yang sangat ia sayangi, sejak perceraian orangtuanya Gilang tinggal bersama Mamahnya. Dan sejak itu pula ia memiliki trauma pada pernikahan, ia takut pernikahannya berujung pada perceraian seperti orangtuanya.
"Friska bicara seperti itu sama kamu itu tandanya dia minta kepastian, nak kamu sudah bersama dia hampir setahun, dan sudah sepantasnya dia bicara seperti itu kalian sering bersama meski pun demi Leona,"
"Apa menurut Mamah sekarang Gilang jahat?" tanya Gilang.
"Lelaki yang memberi harapan tanpa kepastian itu bukan jahat tapi egois!" ucap Mamah.
"Sudah sekarang kamu temui dia!"
"Tapi Ibunya baru saja pulang dari Jakarta sekarang di rumahnya,"
"Kalau gitu kita ke rumahnya, biar Mamah yang bicara sama Ibunya," ucap Mamah semangat.
"Mamah kenapa ikut ke sana?"
"Kita ngelamar dia hari ini!"
"Mah gak secepat ini," ucap Gilang terkejut.
"Lebih cepat lebih baik, sudah kamu siap-siap pakai baju rapih jangan lupa kasih tahu Rendra sama Dimas buat ikutz" ucap Mamah masuk ke dalam.
"Tapi Mah.."
Mamah Gilang sudah masuk ke kamar tanpa mempedulikan anaknya yang masih terkejut dengan acara lamaran dadakan, niat awal Gilang hanya ingin meminta maaf pada Friska tapi Mamahnya ingin melamarnya hari ini tanpa persiapan apapun.
__ADS_1
Dengan berat hati Gilang menelepon kedua sahabatnya itu dan mengajak mereka ikut dalam lamaran dadakan Mamahnya itu.