Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 39


__ADS_3

Ku kejar jodoh walau ke negeri China itulah kata Rendra saat Dimas dan Gilang meledekinya saat ia ditinggal mantannya pas lagi sayang-sayangnya, bagaimana tidak meskipun Rendra banyak mantan namun pacarnya yang sebelumnya bisa dibilang paling beruntung karena bertahan dua tahun.


Rendra membelah rambut hitamnya yang sudah ia pakai minyak rambut model tebaru yang diberi Gilang. Dengan kekuatan patah hati yang besar ia berjalan menemui jodohnya yang kabur di teras rumah Anin, siapa lagi jika bukan Mauren yang memikat hatinya sejak awal bertemu.


"Neng sendirian aja?" sapa Rendra.


Mauren yang terkejut dengan kedatangan Rendra menatap sekilas ke arahnya sambil tersenyum canggung kemudian memilih duduk di kursi luar sambil memainkan ponselnya.


"Tenang Rendra cewek memang jual mahal kalau pertama kenal, kalau nanti udah kenal bakal klepek-klepek sama lo." guman Rendra dalam hati.


"Kenalin saya teh Rendra sahabat Dimas dari SMP dan sahabat Anin dari kemarin." ucapnya menyodorkan tangannya.


"Mauren." ucap Mauren menerima jabat tangan Rendra sambil memandang malas.


"Namanya bagus ya, kayak orangnya,"


Mauren hanya diam.


"Kamu sahabatnya Anin ya?" tanya Rendra kembali


Mauren hanya diam.


"Kamu kesini tadi naik apa?"


Mauren hanya diam.


"Kamu mau jadi pacar saya?"


"Whattt???!!"


Mauren menoleh dan membelalakan matanya menatap Rendra tajam. Sedangkan yang ditatap malah tersenyum manis menampilkan deretan giginya yang rapih.


Jujur Mauren sempat terkesima melihat senyum Rendra yang manis, baru kali ini ia bertemu laki-laki yang memiliki senyum manis ditambah kumis tipisnya yang memikat, namun Mauren tersadar kembali seketika mengingat ucapan Rendra.


"Bicara apa tadi?" ucap Mauren menaiki alisnya.


"Kamu cantik."


"No, bukan itu tadi kamu bilang apa?" ucapnya.


"Kamu ke sini naik apa?" tanya Rendra.


"Tadi kamu bukan bilang gitu," ucapnya menatap sebal.


"Kamu mau jadi pacar saya?" tanya Rendra.


"Pacar? Kita baru kenalan aja hari ini udah mau ngajak pacaran, maaf aja ya Mas tipe gue itu standarnya tinggi!" ucapnya sambil memutar bola matanya sebal.


"Ini cewek jutek amat, untung cantik!" ucap Rendra dalam hati.


"Memang tipe cowok yang disukanya kayak gimana?" tanya Rendra .


"Minimal kayak Zayn Malik, ganteng, tinggi, badannya sixpack, brewokan ya kayak gitulah," ucapnya sambil memainkan ponselnya kembali.


"Minimalnya kayak Zayn Malik, maksimalnya gimana?" ucap Rendra pelan.


"Jadi maaf-maaf aja ya Mas, gue tuh seleranya tinggi buat milih pasangan!" ucapnya berdiri dan meninggalkan Rendra yang masih terdiam di luar.


"Lihat aja nanti gue bikin klepek-klepek lu cewek sombong!" umpat Rendra.


*-*-*-*-*


Gilang berpamitan pulang mengantar Friska dan Leona yang sudah kelelahan, gadis kecil itu sudah sejak tadi merengek pulang ke rumah karena sudah mengantuk.


Gilang yang merasa bertanggung jawab memilih pamit lebih dulu karena acarapun sudah selesai hanya ada Mauren yang sedang berbincang dengan Anin dan Rendra yang tampak galau duduk di sofa.


"Lang mau mampir dulu?" tawar Friska.


"Pah, temenin Leona bobo ya," pinta Leona menarik tangan Gilang ke dalam.


Gilang yang belum sempat mengiyakan akhirnya memilih masuk ke dalam rumah dan di bawa Leona ke kamarnya. Friska sempat melarang Leona namun gadis kecil itu merengek ingin tidur ditemani Gilang


Friska pergi ke dapur dan membuatkan minuman dingin untuk Gilang karena cuaca cukup panas pula.


Friska terdiam melamun di dapur teringat omongan tetangganya beberapa hari lalu tentang dirinya yang sering membawa Gilang ke rumahnya.


Sebenarnya Friska juga tak enak setiap Gilang datang ke rumah karena permintaan Leona atau hanya mampir menemui anaknya, terlebih dia seorang janda muda yang tinggal berdua dengan Leona, sudah pasti banyak mulut yang menatap risih jika dirinya membawa laki-laki bukan muhrim masuk ke dalam rumah.


"Fris," panggil Gilang.


"Eh, iya Lang aku di dapur tunggu bentar!" ucap Friska tersadar dari lamunannya.


Friska menaruh dua gelas minuman dingin dan kue kering ke meja, terlihat Gilang sedang mengecek ponselnya.


"Di minum dulu," tawar Friska.

__ADS_1


"Makasih."


"Leona udah tidur?"


"Udah, kayaknya dia kecapekan makanya langsung tidur,"


"Maaf ya Lang selalu merepotkan gara-gara Leona, besok-besok aku bakal jelasin ke dia biar gak merepotkan kamu terus." ucap Friska.


"Gue udah bilang gapapa, lagian seneng juga sama Leona anaknya periang dan pintar," ucap Gilang.


"Bukan gitu Lang, aku takut nanti dia terlalu terikat sama kamu dan bergantung terus, lagi pula aku gak enak sama tetangga kalau lihat kamu ke sini terus," ucap Friska tak enak.


Gilang terdiam sejenak, ia melihat Friska yang menunduk sambil meremas bajunya sedikit, Gilang mengambil minumnya dan meneguknya.


"Besok Mamah pulang ke Bandung dan mungkin menentap beberapa waktu di sini jaga Leona, jadi kamu gak perlu repot-repot lagi buat jaga Leona," ucap Friska.


"Jadi gue gak bisa ketemu dia lagi?" tanya Gilang.


"Bukan gitu Lang, aku takut dia bergantung terus sama kamu, aku takut.. "


"Lo takut sama omongan tetangga tentang kita? Gak usah di denger lagian kita nggak ngapa-ngapain dan di sini juga ada Leona." potong Gilang.


"Bukan gitu Lang, aku gak enak aja mereka nuduh yang enggak-enggak apalagi kamu juga kan masih bujangan mereka juga kenal kamu karena dulu kamu sering ke sini waktu rumah ini ditempati Anin," ucap Friska.


"Oke kalau memang itu mau lo, gue nggak akan ke sini lagi kalau memang ganggu!" ucap Gilang berdiri.


"Lang maaf bukan itu maksudnya,"ucap Friska tak enak.


"Papah jangan pergi!!" teriak Leona tiba-tiba datang.


Gilang yang sudah hampir berjalan ke arah pintu berhenti dan menatap ke arah Leona yang berjalan ke arahnya dengan mata memerah karena menangis sedangkan Friska menatap kaget saat anaknya tiba-tiba datang.


"Kenapa bangun bukannya tadi tidur?" tanya Gilang.


"Leona udah bilang mau bobo sama Papah, tapi kenapa Papah ninggalin Leona!" ucapnya sesegukan karena menangis.


Gilang mensejajarkan badannya dengan Leona dan menghapus air mata gadis cantik itu, Leona memeluk erat Gilang sambil menangis dibahunya seperti takut ditinggalkan.


"Papah jangan pergi, nanti Leona gak punya Papah lagi," ucapnya.


"Leona, Papahnya mau pulang dulu ya kan tadi udah nemenin kamu bobo, sekarang sama Mamah ya," bujuk Friska.


"Gak mau, Leona mau sama Papah kan rumah ini juga rumah Papah!" ucapnya.


"Sayang, Papah punya rumah dan tinggal di sana, sekarang Papah mau pulang," ucap Friska.


"Sekarang Leona bobo ya, Papah harus pulang dulu kan harus kerja buat Leona, mulai sekarang Leona harus nurut sama Mamah ya, Papah ga bisa ke sini lagi besok ada Nenek juga," ucap Gilang memberi pengertian


"Leona gak mau Nenek, Leona maunya Papah, Leona sayang Papah!" ucapnya.


Friska yang tak tega dengan Leona memilih mengambil gadis itu dan menggendongnya meskipun menjerit karena Gilang pergi namun akhirnya Gilang bisa pulang dan meninggalkan rumah Friska dengan perasaan tak enak setelah melihat Leona yang menangis histeris memanggil dirinya.


*-*-*-*-*


Pulang dari rumah Friska, Gilang tak langsung ke rumahnya, ia memilih kembali ke rumah Dimas dan menceritakan kegundahan dirinya yang terpaksa menjauhi Leona, tidak hanya Dimas di sana rupanya Rendra juga masih betah berkunjung karena Mauren masih belum pulang.


"Sebenarnya hubungan lo sama Friska tuh gimana? Lo ada rasa sama dia?" tanya Dimas serius.


"Gak tahu, gue juga binggung sekarang gue cuman nyaman dekat sama Leona," jawabnya.


"Kalau sama Friska lo gimana?" tanya Dimas kembali.


"Jujur sih, gue juga nyaman sama dia karena sifat dia yang dewasa, dia juga cukup peduli sama orang lain," ucapnya.


"Gue rasa si Friska juga pasti ngerasain hal yang sama, apalagi kalian sering bareng-bareng dan lo juga perhatian sama Leona kan? Dia pasti baper sama sikap loel cuman dia gengsi aja karena lo gak nunjukin rasa lo!" jelas Rendra panjang lebar.


Dimas mengangguk setuju dengan ucapan Rendra, ia juga merasa bahwa Friska juga menyukai Gilang hanya saja keduanya belum menyadari perasaan masing-masing.


Tiba-tiba Mauren berjalan keluar bersama Anin yang mengandeng tangannya, seperti hendak bernyebrang saja kedua sahabat ini terlihat begitu akrab.


"Mauren mau pulang?" tanya Dimas.


"Iya a, udah mau sore juga besok


kesini lagi kok," ucap Mauren ramah.


"Gue anter." ucap Rendra.


"Gak perlu bawa motor sendiri!" ucapnya jutek.


"Ya sudah hati-hati." ucap Dimas.


Mauren mengangguk seraya pergi meninggalkan yang lainnya, ia menatap Rendra sekilas sebelum meninggalkan rumah Anin.


"Kenapa gak di kejar?" Tanya Gilang pada Rendra.

__ADS_1


"Slow ae dong, nyantai aja baru kenalan jangan langsung ngebet nganterin, step by step dong," ucap Rendra so bijak.


"Terlalu selow nanti jadi melow!" ucap Dimas berdiri meninggalkan Rendra dan Gilang yang sudah tertawa.


"Si Dimas jahat banget doanya,"


"Makanya jangan terlalu selow nanti kalau udah ada yang embat tahu rasa," ucap Gilang


"Ah lo juga sama, nanti kalau si Friska ada yang embat baru nyesel!" ucap Rendr


Kini gantian giliran Rendra yang tertawa dan Gilang yang diam.


*-*-*-*-*


Hari sudah malam, kedua sahabat Dimas juga sudah memilih pulang ke rumah setelah sesi curhat selesai. Baru kali ini mereka bisa berkumpul lengkap sambil tertawa bersama, sudah lama semejak hubungan Dimas dan Gilang kurang baik mereka jarang berkumpul.


Dimas baru selesai shalat Isya, rasa pegal dan lelah terasa ia ingin tidur lebih awal setelah memastikan Afifa sudah tidur di ruang bawah bersama orangtua Anin. Sedangkan Anin sedang bermain game di ponsel Dimas.


"Ayo tidur sudah malam," ajak Dimas.


"Duluan aja, Anin belum ngantuk."


"Ya udah kalau gitu nanti matikan lampunya jangan tidur kemaleman ya, Mas udah ngantuk banget," ucap Dimas.


Anin mengangguk, tak butuh waktu lama Anin menyusul Dimas yang sudah terlelap bahkan mendengkur.


21.43


Anin membuka matanya, tiba-tiba perutnya terasa lapar padahal sebelum tidur ia sudah makan dan mengemil. Anin mencoba menutup matanya kembali dan membalikan badannya yang mulai terasa berat karena perutnya yang membesar, namun ia tetap tak bisa tidur. Yang ada di pikirannya saat ini, ia ingin makan nasi goreng di depan kompleks rumah di sisi jalan.


"Mas, Mas bangun," ucap Anin.


"Hmmm."


"Mas, Bangun," ucap Anin kembali.


"Ada apa sayang? Perutnya keram lagi?" tanya Dimas dengan mata terpejam dan mengelus perut Anin.


"Ih Mas, Anin laper!" ucap Anin melepas tangan Dimas.


"Ya udah kamu ke bawah ambil makan masih banyak kok di tudung saji," ucap Dimas masih menutup mata.


"Nggak mau, Anin mau nasi goreng!" ucap Anin.


"Makan yang ada aja Nin, sudah malam Mas juga capek dan ngantuk." jawab Dimas masih menutup matanya.


"Tapi Anin mau nasi goreng Mas Deni, itu yang di depan komplek kan masih buka," ucap Dimas.


Dimas membuka matanya dengan berat, kemudian duduk di depan Anin yang kini tengah cemberut menatap ke arahnya.


"Sudah malam, Mas juga ngantuk, kita beli besok aja ya."


"Nggak mau, pengen makan nasi goreng sekarang!"


"Ya sudah Mas bikin aja ya," ucap Dimas.


"Nggak, Anin mau nasi goreng Mas Deni yang di depan komplek depan," ucap Anin.


"Yang Mas aja ya kan sama nasi goreng." bujuk Dimas.


"Nggak mau pengennya yang Mas Deni nasi gorengnya enak," ucap Anin


Sudah membayangkan rasa nasi goreng di lidahnya.


"Nin, suami kamu siapa?" tanya Dimas.


"Mas Dimas."


"Kamu hamil anak siapa?"


"Mas Dimas?"


"Yang buat Anaknya siapa?"


"Hmm, Mas Dimas" ucap Anin tampak bingung.


"Ya sudah berarti sekarang makan nasi goreng buatan Mas Dimas," ucap Dimas.


"Nggak mau, maunya yang Mas Deni pokoknya!"


"Tapi kan rasanya sama sayang." ucap Dimas sabar.


"Mas, nggak kasihan sama dede bayinya udah pengen nasi goreng Mas Deni, kalau nanti air ludahnya ngucur salahin Ayahnya gak mau beliin nasi goreng!" ucap Anin dengan mata bekaca-kaca.


Dimas menghela nafasnya, ia melirik jam di nakas dan kembali menguap rasanya ia sangat mengantuk namun melihat Anin yang sedang mengidam ingin nasi goreng Mas Deni itu membuatnya memilih mengambil jaket dan kunci motornya karena ia juga tak tega melihat Anin, terlebih Anin juga hamil dan mengidam karena dirinya mau tak mau dia juga harus bertanggung jawab.

__ADS_1


"Ya udah kamu tunggu di sini, Mas beli dulu nasi goreng selingkuhannya!" ucap Dimas.


Sedangkan Anin hanya tersenyum menertawai Dimas yang sebal karena permintaan Anin yang menginginkan nasi goreng Mas Deni. Padahal jika dibandingkan tampannya lebih menang Dimas namun kalau soal rasa Dimas akui nasi gorengnya kalah enak dengan Mas Deni yang menjadi favorit Anin.


__ADS_2