
Tok tok tok
"Ji!" panggil Sofia didepan pintu kamar sang menantu.
"Ji!" ulangnya lagi dengan suara yang lebih keras.
Di dalam kamar sana, Jihan langsung kelimpungan. Saat pintu itu diketuk, sang suami sedang menyesap dadanya dalam, bahkan nyaris saja mereka melakukan penyatuan.
"Astagfirulahalazim ibu, menganggu saja," keluh Arick, dilihatnya sang istri yang buru-buru memungut semua pakaian diatas lantai dan menggunakannya dengan tergesa.
"Sayang, underwaer bawahnya belum,"ucap Arick saat melihat Jihan yang hendak berlari kearah pintu tanpa penutup itu.
"Nanti saja," jawab Jihan cepat dan Arick terkekeh, diambilnya pelindung sang istri dan di masukkan ke dalam nakas, ia lalu dengan santainya kembali melilitkan handuk di pinggang.
Ceklek!
Jihan membuka pintu kamarnya dan dilihat Sofia berdiri disana.
"Ibu, ayo masuk," ajak Jihan dengan gugup.
"Kamu kenapa ngos-ngosan begitu?" tanya Sofia penasaran. Ia tidak masuk ke dalam kamar, hanya melongok mengintip isinya. Dilihatnya ranjang yang berantakan, bahkan seprei ujung ranjang itu sudah menjuntai jatuh ke lantai.
Melihat itu, Sofia hanya menggeleng kecil, gelengan yang tidak disadari oleh Jihan.
"Ini masih pagi, tapi kalian sudah panas-panasan," ledeknya dan Jihan hanya bisa menunduk malu.
"Sana bereskan dulu, setelah itu turun, di bawah sudah ada instruktur Yoga kita," jelas Sofia dan Jihan hanya bisa mengangguk.
Kemarin, Jihan dan Sofia sepekat untuk mulai melakukan latihan Yoga di rumah. Sebagai sesama ibu rumah tangga, mereka merasa membutuhkan kegiatan yang bermanfaat untuk kebugaran, dan Yoga adalah pilihan mereka.
Pelan, Jihan menutup pintu kamar itu setelah Sofia benar-benar pergi menjauh.
Dihampirinya sang suami yang mengulum senyum itu, masih sama seperti tadi, belum juga memakai baju.
__ADS_1
"Mas sih, pagi-pagi sudah begituan," keluh Jihan.
"Kan kamu yang mulai duluan sayang," ledek Arick, dan dada langsung dipukul oleh sang istri.
"Aku dengar kata ibu tadi," jelas Arick setelah kekehannya mereda.
"Um, iya, dibawah sudah ada instruktur Yoga kami. Aku akan segera turun," jawab Jihan langsung dan Arick malah menggeleng.
"Bukan yang itu," sanggah Arick cepat.
"Lalu?" tanya Jihan bingung.
"Ibu memintamu untuk memberekan ini dulu," jawab Arick sambil mengambil tangan kanan sang istri, digenggamnya erat memberi kode.
Mulai paham, Jihan langsung menarik tangannya cepat, memukuli tubuh sang suami tanpa ampum.
"Mas ih! mesum, dibawah ibu sudah tunggu-tunggu, malah_"
"Maaas," keluh Jihan dan Arick terkekeh.
Dipeluknya erat tubuh sang istri, bahkan ia menciumi pucuk kepala Jihan berulang kali.
"Iya iya, kita turun," ucap Arick setelah tawanya mereda, menggoda Jihan kini adalah hobinya yang baru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di bawah, ternyata bukan hanya instruktur Yoga yang menunggu, ternyata, disana ada juga Huda yang datang dengan membawa satu lembar amplop undangan dari salah satu kolega.
"Huda? kamu disini?" tanya Arick bingung, pasalnya ia merasa tak pernah meminta Huda untuk datang, Arick kembali berpikir keras, takut-takut jika ia mulai pikun.
"Iya Tuan, saya ingin mengantarkan surat ini. Surat undangan dari pak Jaya," jelas Huda sambil mengulurkan amplop undangan itu.
Undangan peresmian Villa Jaya yang baru.
__ADS_1
"Kenapa repot-repot datang kesini, kamu telepon saja saya," jelas Arick sambil membuka surat itu.
Sementara Huda hanya menampakkan cengir kuda dengan mata yang berulang kali mencuri pandang kearah dalam rumah.
Mencari Meliasa.
"Ya sudah, mumpung Huda disini, ajak sekalian dia sarapan bersamamu. Tadi pagi kan kamu belum sarapan. cuma Jihan yang turun," jelas Sofia dan Arick mengangguk.
Mendapat tawaran itu, seyum Huda makin mekar.
Akhirnya ia bisa berlama-lama di rumah ini.
Terima kasih ya Allah, engkau telah memberikan hamba jalan melalui Nyonya Sofia. Batin Huda penuh syukur.
Dengan langkah pasti, ia mengikuti langkah tuannya menuju ruang makan didekat dapur. Sementara Jihan dan Sofia menuju taman belakang, mulai berlatih Yoga.
"Saya perhatikan, kamu senang sekali ya tiap datang ke rumah ini?" tanya Arick menyelidik, ditatapnya lekat wajah Huda yang nampak begitu tampan dan masih muda.
"Katakan, selain pekerjaan, apa alasanmu datang kesini?" tanya Arick dengan suara mengintimidasi.
Mendadak, Huda merasa takut dan gugup. Kenapa sarapan kali ini lebih mirip interview kerja.
Jujur atau tidak ya? Batin Huda galau.
"Katakan!" ucap Arick lagi dengan suara tegas.
"Melisa Tuan!" jawab Huda gugup, setelah sadar, ia menutup mulutnya rapat-rapat.
Sementara Arick tergelak lebar.
"Hahaha, ya Allah ya Allah," ucap Arick sambil menggelengkan kepalanya berulang.
Seperti de javu, ia jadi teringat Dimas.
__ADS_1