
Beberapa hari kemudian, Mardi, Sofia dan Dimas pulang.
Ketiganya disambut dengan antusias, bahkan Arick tidak masuk kerja demi menyambut kedatangan kedua orang tuanya.
Rindu, katanya.
Kini, keluarga besar ini sedang berkumpul di ruang tengah, Sofia langsung membagikan oleh-oleh yang ia bawa untuk semua orang yang ada di rumah ini. Mang Ujang yang jaraang sekali masuk ke rumah ini pun kali ini ikut duduk disana.
"Terima kasih Nyonya, hadiahnya tidak tanggung-tanggung, setiap orang dapat 5." ucap Puji penuh syukur. 5 itu baru bajunya, belum bingisan seperti souvenir dan beberapa makanan.
"Iya, tidak tau kenapa, kali ini saya ingin belikan oleh--oleh yang banyak untuk kalian. Sepertinya besok-besok sudah kuat pergi ke Jogja lagi, capek." jawab Sofia sambil bergaya lelah.
Mardi hanya tersenyum, wajar saja capek, istrinya itu tidak pernah bisa diam. 2 Minggu disana, tiap hari Sofia selalu mengajak pergi.
Mulai dari mendatangi tiap sekolah mereka dulu, dari SD sampai kuliah. Kuliner makanan jaman dulu dan masih banyak lainnya lagi.
"Yang Jihan sengaja ibu bungkus, bukanya di dalam kamar ya?" ucap Sofia sambil tersenyum mencurigakan.
Dimas yang melihat senyum sang majikan pun ikut tersenyum pula, pasalnya ia lah yang membungkus kado itu. Dimas tahu persis apa isinya.
"Padahal aku sudah tidak sabar melihat isinya, tapi masa ita harus ke kamar dulu baru bisa tahu." jawab Jihan murung.
"Aku buka disini ya Bu?" bujuk Jihan memelas.
"Jangan."
"Bu."
"Jangan."
Huh! Jihan menghela napas, pasrah. Ya sudahlah, batinnya.
"Punya ku tidak ada Bu?" tanya Arick yang baru buka suara, semua orang sudah dapat oleh-olehnya sendiri-sendiri, sementara ia tidak mendapatkan apa-apa.
__ADS_1
"Kamu memang tidak mendapat oleh-oleh, tapi nanti kamu akan jadi orang yang paling berterima kasih." jawab Sofia sambil mengulum senyum.
Sementara Arick dan yang lainnya kompak mengeryit bingung.
"Sudah ya, ibu sama Papa mau istirahat dulu. Dimas juga istirahat ya Nak, tidur saja sampai besok, bangun untuk makan saja." ucap Sofia sambil bangkit.
Dimas mengiyakan seraya menunduk hormat.
Setelah Sofia dan Mardi pergi, Jihan lalu mengajak Arick untuk kembali ke kamar mereka juga. Ingin melihat oleh-oleh spesial dari sang ibu mertua.
Kini tinggalah para ART di ruang tengah.
Tiba-tiba Dimas mengatakan jika ia juga memiliki oleh-oleh untuk semua orang. Tidak banyak memang, tapi ia benar-benar ihklas ingin memberi.
Sebuah baju yang bertemakan kota Jogja.
Semua dibagi rata, hanya Asih yang tidak ada disana. Asih sudah mengejar Zayn yang lari ke arah dapur. Cucu laki-laki satu-satunya di keluarga ini memang sedang aktif-aktifnya.
"Dimana mbak Asih?" tanya Dimas, kepalanya celingak celinguk mencari keberadaan Asih.
Mendengar itu, Dimas mengangguk, lalu berniat ke arah dapur pula untuk memberikan oleh-olehnya.
"Mas mas mas!" panggil Melisa buru-buru.
"Sebaiknya kamu kembali ke paviliun dan beristirahat, sini, oleh-oleh untuk Asih biar aku yang berikan," ucap Melisa tulus. Selain tak ingin Dimas dan Asih berduaan, ia memang menginginkan Dimas untuk segera beristirahat.
"Terima kasih ya Mbak." jawab Dimas seraya menyerahkan baju itu.
"Jangan panggil Mbak, panggil saja namaku, kita kan seumuran." jelas Melisa dengan senyum malu-malunya.
Dimas tak menjawab, hanya mengangguk sebagai jawaban. Lengkap dengan senyum manis yang membuat Melisa meleleh.
Ya Allah indahnya ciptaanmu. Batin Melisa didalam hati.
__ADS_1
"Cie ..." suara Puji mengacaukan suasana.
"Tidak minta sekalian dipanggil Adik saja Sa, katamu kemarin umur kalian beda 2 bulan." Ledek Puji dengan terkekeh, sampai Santi menepuk lengannya barulah kekehan itu terhenti.
Dimas hanya tersenyum, sedangkan Melisa mencebik kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lantai 2.
Setelah masuk ke dalam kamar, Jihan mengajak suaminya itu duduk di sofa.
Membuka dengan tidak sabaran oleh-oleh dari Sofia yang dibungkus dengan rapi.
"Ibu kasih apa sih Mas? sampai di bungkus-bungkus seperti ini," tanya Jihan sambil terus berusaha membuka bingkisan itu.
"Mungkin lingeri model terbaru sayang, perasaanku ibu selalu membelikanmu lingeri sebagai hadiah." jelas Arick menduga-duga.
Jihan mencebik, mendengar dengan nada tak suka. Kalau lingeri lagi berarti itu bukan hadiah untuknya, melainkan hadiah untuk suaminya.
Dan benar saja, ternyata isi bingkisan itu adalah 7 pasang lingeri, lengkap dengan kartu ucapan.
Sebentar lagi masa nifas kamu selesai, ibu sengaja mebelikan ini untukmu.
Terang Sofia dalam kartu ucapan itu.
Jihan makin mencebik dan Arick berbinar penuh kebahagiaan.
"Ibu memang paling mengerti," ucap Arick sambil memperhatikan ketujuh lingeri itu.
"Tiap hari ganti warna ya sayang."
"Maas!!!" keluh Jihan, ia lalu memukuli dada suaimnya berulang-ulang.
__ADS_1
Sementara Arick malah tertawa menikmati itu semua.